Rocky Gerung: Cebong Bangkit di Musim Hujan
Rocky Gerung
KOMENTAR

TILIK.id, Jakarta — Banjir Jakarta sudah surut. Hanya dalam 4 hari. Jauh berbeda pada banjir-banjir sebelumnya yanh sampai seminggu baru surut. Tapi para pembenci Anies sampai saat ini masih berkoar-koar menyalahkan Anies Baswedan.

Atas perilaku para pembully Anies itu, pengamat politik dan kebijakan publik Rocky Gerung punya narasi sendiri. Dia menyebut para cebong ini bangkit lagi di musim hujan.  

Dikutip dari Channel Officialnya, Rocky mengatakan banjir di Jakarta pada 1 Januari lalu memyebabkan munculnya kebencian-kebencian.

“Jadi saya lihat banjir itu mengendapkan lumpur tapi sekaligus mengangkat ke atas kebencian-kebencian sosial yang laten,” ujar Rocky Gerung pada Channelnya, Jumat (10/1).

Dengan banjir ini, kata Gerung, kita lihat sebetulnya perekat sosial kita itu rapuh sekali. Orang tidak lagi  mengambil aspek solidaritas dari banjir tersebut, tetapi justru muncul aspek bully.

“Orang tidak ambil aspek solidaritasnya tapi aspek untuk menghukum, aspek untuk membully itu,” terang Rocky Gerung.

Rocky Gerung pun lantas mengaitkan negara yang berprinsip gotong royong dengan serangan yang diperoleh Anies saat banjir Jakarta.

“Kalau dibilang bangsa ini gotong royong, gotong royong untuk membully gubernur kan,” jelas Rocky Gerung.

Gerung menilai, adanya musibah banjir tersebut membuat sebagian orang balas dendam. Dulu saat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjabat Gubernur DKI Jakarta, ia juga pernah dibully untuk masalah yang sama.

“Jadi membalas dendam pun itu buruk sebetulnya kan,” terangnya.

Dikatakan, ada dimensi politik untuk melecehkan legitimasi dari Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.  Dimensi politik untuk melecehkan legitimasi gubernur itu tinggi sekali di pihak pengikut istana.

“Kebanyakan yang membully Anies adalah dari pihak yang mendukung pemerintah. Padahal presiden sudah bilang, udah berhenti cebong sama kampret, nah justru dimusim banjir ini, cebong itu eksisten lagi, hidup lagi,” terang Rocky Gerung.

Rocky Gerung menilai, dengan kejadian banjir yang melanda Jakarta justru terlihat bangsa ini tengah terbelah. Itu lantaran banyak pihak-pihak yang justru saling menyalahkan terkait banjir Jakarta.

Menurut Rocky,  antropologi bangsa ini sebenarnya bukan gotong royong. Melainkan menyimpan dendam dan bahkan mengakumulasi dendam. 

“Jadi seolah-olah nunggu kapan Anies salah langkah tuh. Kalau dia nggak bikin salah langkah, taruh lumpur di depannya supaya dia kepleset secara politik,” terangnya.

Rocky Gerung menjelaskan, sebetulnya bangsa ini dididik dalam sebuah istilah yang disebut local wisdom. Tapi kemudian variabel local wisdom itu tidak muncul karena diintervensi  terlalu  jauh. 

“Semacam politik to be or not to be atau semacam Jokowi atau bukan Jokowi, jadi itu soalnya kan,” papar Rocky Gerung.

Pemerintah seharusnya membuat persiapan agar publik bisa membaca arah politik ke depan. Bahwa Jokowi punya kandidat atau dari partai mana untuk diajukan.

“Tapi karena tidak ada maka orang ingin batalkan lawan potensialnya, yaitu Anies,” imbuhnya.

Rocky Gerung menyatakan dirinya tidak ingin  menyalahkan publik yang begitu luas.  Tapi  menyalahkan pemerintah, yang setelah menang pemilu gagal mengakrabkan kembali kehidupan berwarganegara itu.  (lmd)

Bawaslu DKI Luncurkan Buku Kinerja dan Evaluasi Hasil Kerja Pengawasan

Sebelumnya

Pidato Politik SBY: Penciptaan Lapangan Kerja Makin Sulit Jika ...

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Politik