Pertarungan yang Tak Pernah Mereka Menangkan
Geisz Chalifah
KOMENTAR

Geisz Chalifah  

Ketika dendam dan kedengkian menyelimuti hati manusia maka yang lahir adalah kemarahan yang disertai kedunguan kolektif. 

Musibah bencana banjir seharusnya menjadi ajang saling tolong menolong antar masyarakat, namun oleh mereka para pecundang dungu kolektif dijadikan sarana untuk menyebar fitnah. 

Dalam waktu yang cuma beberapa jam, tiba-tiba wilayah Jakarta menjadi meluas meliputi, Bogor, Bekasi, Tanggerang juga Lebak. 

Semua wilayah yang mengalami banjir tanpa memahami wilayah administrasi dengan kompak serempak berbekal bebal tanpa batas menjadi wilayah Jakarta. 

Serangan  di sosmed yang ditargetkan untuk menjatuhkan kredibilitas Anies, akhirnya menjadi sekadar lucu-lucuan dan tak ada artinya sama sekali. Ketika diuji di lapangan saat Anies hadir di manapun di wilayah banjir selalu disambut warga dengan gembira plus teriakan “Presiden 2024!!”, yang tentu saja melahirkan kemarahan tiada tara hingga media online seperti Kompas, Detik, Kumparan menjadi ajang sumpah serapah mereka karena membuat berita sambutan warga yang begitu hangat pada Anies Baswedan. 

Pertarungan di twitter pun demikian, apapun yamg mereka lakukan selalu mampu dibalas oleh pro Anies dengan hastag  yang juga selalu mampu menjadi peringkat atas berkali -kali.

Dosen UI  Ade Armando  yang  kini berprofesi sebagai komedian dengan   group lawak yang luar biasa norak,  Abu Janda, Denny Siregar, Eko Kuntadi, tak mampu menyaingi viralnya tulisan-tulisan dari Toni Rosyid, Ansyari Usman, Tatak Ulijati, dan banyak lagi lainnya yang setiap saat viral di media sosial. 

Anak-anak muda oportunis dari PSI terlalu mentah untuk berhadapan dengan Reza Peters, Taufiqurahman, Naufal Firman Yusack, dll, yang akhirnya hanya menjadi bulan-bulanan dari kedunguan mereka sendiri yang sering kali blunder. 

Tanpa mereka sadari strategi perang dengan  struktur yang mereka miliki berbasis organisasi dengan mengandalkan group-group WA  yang selalunya dengan ide serangan yang seragam, (seringkali ketahuan karena isi kalimatnya sama dan dicupture) berhadapan dengan   individu-individu pro Anies yang berimprovisasi secara “seporadis” tanpa komando dari Kakak Pembina, namun selalunya solid dalam menjawab beragam fitnah dan menyerang balik secara meyakinkan dengan kalimat-kalimat yang tak dirancang dari atas yang sama sekali jauh dari seragam (terkadang sadis, lucu,  juga menikam terhadap kedunguan)  plus berbagai kalangan yang secara intelektual meyakinkan validitas datanya seperti Marko, Elisa, Suara Anies, dll.  

Semua  berimprovisasi dengan caranya masing-masing plus data-data yang mudah didapat sebagian besar tersebar di google.  Belum lagi akun-akun yang rajin mengarsipkan data. 

Di puncak pertarungan adalah Gubernur yang dengan ketenangannya sebagai leader, langkahnya selalu terukur mampu memberi jawaban-jawaban yang meyakinkan di setiap wawancara di media disertai prestasi dengan puluhan penghargaan yang didapat.

Situasi demikian pada akhirnya melahirkan kepanikan dari para buzzer.  
Ujung dari kepanikan itu adalah beredarnya sebuah video mereka berkumpul sesama pecundang, saling curhat tentang beratnya menghadapi Anies Baswedan. 

WASPADAI OMNIBUS LAW

Sebelumnya

HARUN MASIKU NOVEL BARU

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Gelitik