Ini Unek-Unek Dokter, Peneliti,  dan Penulis kepada Jokowi
Jokowi
KOMENTAR

TILIK.id, Jakarta — Seorang peneliti yang juga dokter dan juga penulis, Tifauzia Tyassuma, menyampaikan unek-uneknya kepada Presiden Jokowi melalui media sosial.  Unek-unek disampaikan terkait kondisi bangsa dan majunya anak serta menantu Presiden di Pilkada.

Kepada Presiden Jokowi,  dia menulis surat terbuka tanpa judul.  Di awal suratnya, Tifauzia menyatakan dengan majunya Gibran dan Bobby sebagai calon kepala daerah, membuktikan adanya kebohongan dan politik pencitraan yang dilakukan sejak 5 tahun lalu. 

“Itu juga sekaligus  perjalanan selama lima tahun ke depan sebagai pengkhiatan atas kepercayaan 55 persen pendukung Bapak. Padahal baru 55 hari pemerintahan periode kedua Bapak berjalan,” tulis Tifauzia. 

Berikut tulisan lengkap berupa surat terbuka Tifauzia Tyassuma kepada Presiden Jokowi:


Yth Presiden Jokowi, 

Dengan majunya Gibran putra kandung Bapak sebagai Cawalkot Solo melalui jalur PDI-P, dan Bobby menantu Bapak sebagai Cawalkot Medan  melalui jalur Golkar, Bapak sedang menuju kepada pembuktian atas apa yang dituduhkan 45% rakyat Indonesia mengenai berbagai  kebohongan dan politik pencitraan yang dilakukan selama 5 tahun yang lalu.

Sekaligus perjalanan selama lima tahun ke depan sebagai pengkhiatan atas kepercayaan 55% pendukung Bapak. Padahal baru 55 hari pemerintahan periode kedua Bapak berjalan. 

Politik balas budi selamanya tidak akan pernah membuat negara manapun berjaya. Politik balas budi akan membuat rakyat sebagai pemilik sejati negara ini, akan menjadi budak bagi negaranya sendiri. 

Infrastruktur yang terbangun gegap gempita adalah panggung pencitraan terang benderang sekaligus menunjukkan betapa gelapnya jalan menuju penguasaan kekuasaan dan pemusatan sumber keuangan negara di tangan segelintir orang saja di bumi pertiwi ini.

142 BUMN bersama dengan 800 perusahaan anak dan cucunya membuktikan bahwa pengerukan kekayaan negara, praktek money laundrying, korupsi, oligarki, manipulasi, dan nepotisme terus berlangsung sepanjang waktu, siapapun Presidennya. 

Saya tidak katakan Bapak jahat kepada rakyat. Tetapi siapapun yang memegang kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif, di pucuk pimpinan negara maupun daerah, ketika hanya memikirkan kelanggengan kekuasaan dan pemusatan kekayaan,  terbukti telah membuat negara ini menjadi penjahat kolektif bagi rakyatnya sendiri secara sistemik dan sistematis.

Bapak akan  jahat bila membiarkan semua ini terjadi. Dan kejahatan modern yang paling berat dan paling bengis adalah ketika siapapun pemimpinnya, tega memangsa rakyatnya sendiri. 

Terpuruknya kesehatan rakyat dari tahun ke tahun, jumlah kesakitan yang semakin meningkat, jenjang kekayaan dan kemiskinan sebesar 630.000 dibanding 1 di negara ini, BPJS sebagai perusahaan asuransi kesehatan yang mewajibkan setiap warga negaranya menjadi nasabahnya dengan paksaan, adalah bentuk penindasan negara kepada rakyatnya yang sungguh-sungguh tidak bisa ditoleransi.

Rakyat Indonesia,  yang membutuhkan Ibu yaitu bumi pertiwi dan Bapak yaitu pemerintah yang bijak bestari, telah menjadi yatim piatu di negara miliknya sendiri.

Semoga apa yang saya tulis di atas salah. Walaupun saya sangat optimis bahwa apa yang saya tulis adalah benar.

Semoga Allah swt memberi hidayah bagi Bapak dan keluarga. Jangan sampai kekuasaan yang  digenggam menjadikan kemudharatan yang menghancurkan kepercayaan rakyat kepada pemimpinnya. 

Saya perhatikan Markobar  di banyak kota sepi pengunjung. Dan martabaknya  sangat manis, menjadi penyumbang terjadinya Diabetes dan Kanker pada anak, remaja, dan generasi muda. Rasanya juga tidak istimewa. Biasa-biasa saja.

@Tifauzia Tyassuma
Dokter, Peneliti, dan Penulis

Aktivis CBA: KPK Sudah Seperti Ayam Sayur

Sebelumnya

Menaker RI Ida Fauziyah Apresiasi Penerapan K3 Pertamina

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional