TAJANG
Bang Sem
KOMENTAR

Bang Sém

DALAM  tradisi Bugis, hidup manusia ditentukan oleh tajang. Dimensi kedalaman hati nurani. Tinggi atau rendahnya kedudukan manusia di tengah konstelasi sosialnya, ditentukan oleh tajang. Sebuah ungkapan menarik disimak: Sellukkak ri alek kabo, pusa nawa-nawa, ati mallolongang (menyuruk aku ke hutan belantara, akal pikiran tersesat, sedang hati nurani menemukan jalan kebenaran).

Hati nurani inilah yang akan memandu jalan manusia pada hakekat kemanusiaan, yaitu condong (hanif) kepada kebenaran. Dalam menjalani kehidupan, tajang memainkan peran penting. Terutama dalam menyelaraskan akal pikiran dan akal budi.

Tajang mewadahi tumbuh berkembangnya ada tongeng (konsepsi yang benar), lempuk (kejujuran), getteng (keteguhan atau konsistensi terhadap komitmen), sipakatau (saling menghargai manusia sesama), sipatokong (saling memberi makna atas fungsi masing-masing),  dan mappésona ri dewata séuwae (berserah diri kepada Allah Maha pencipta).

Karena itu, manusia tak bertajang, yang hanya menuruti seluruh keinginannya, membuat hati nuraninya tidak fungsional. Ketika itulah manusia tidak mampu menerima saddana pawinruk-é (panduan kebenaran sesuai dengan fungsinya). Inilah sumber segala kejahatan dan petaka yang merusak seluruh tatanan dalam kehidupan manusia beradab.

Sejarah peradaban manusia mengisyaratkan, bagaimana para pembawa risalah nubuwah, melalui proses pengujian dan penyucian untuk memperoleh kedalaman dimensi hati nurani itu. Karena itu, tajang memungkinkan para rasul dan manusia pilihan menerima sadda (wahyu atau firman dalam bahasa dan terminologi agama). Suatu panduan dasar yang diberikan Allah Maha Pencipta kepada mereka, agar manusia mencapai kualifikasi hidup sebagai “sesempurna makhluk.”

Tajang memungkinkan manusia mengelola mata, telinga, dan seluruh indrianya secara fungsional dan proporsional, sebagaimana mereka mampu mengelola hati nuraninya. Paling tidak, agar manusia dapat membedakan secara jelas dan terang benderang, bagaimana membedakan ambisi dengan sikap ambisius,  profesi dengan profesionalisma,  jabatan dengan fungsi, dan begitu seterusnya. Kualitas tajang manusia, menentukan apakah manusia telah sungguh berfungsi sebagai manusia yang berkualitas, atau hanya sekadar hewan yang berakal.

Tajang memandu manusia, bagaimana menggunakan mata untuk melihat dimensi di balik segala yang nampak. Bagaimana menggunakan telinga untuk mendengar apa yang sepatutnya dia dengar. Bagaimana menggunakan lidah agar tidak sembarang berkata-kata. Bagaimana mengelola hati agar tidak merusak batin dan jiwa yang bisa membuat nelangsa banyak orang.

Dalam terminologi Sunda, tajang dapat dimaknakan sebagai cupumanik,  yang memandu manusia untuk mengenali arah kehidupan yang mesti dijalaninya. Boga leungeun ulah sacabak-cabaknya (punya tangan tidak sembarang mencomot), boga panon ulah satémpo-témpona (punya mata tidak sembarang melihat), bonga ceuli ulah sadéngé-déngéna (punya telinga tidak asal mendengar).

Dalam suatu lingkungan sosial kehidupan modern, sebutlah lingkungan organisasi dan manajemen (pemerintahan dan bisnis), tajang menjadi faktor penentu dalam melakukan perubahan dan pembaruan.

Rusak birokrasi pemerintahan dan manajemen perusahaan, bila para pengelolanya tak memiliki tajang. Adakah kita mempunyai tajang? Tanyalah diri masing-masing, sudahkah kita bersikap tahu diri?  

Di Jepang, ada tradisi mundur, bagi siapa saja yang telah membuat kegagalan. Bukan menutupi kegagalan dengan mengklaim diri sebagai ‘pahlawan tak tahu diri’. |
 
 
Kg Janda Baik, Pahang, 80118

Buncah Kepandiran Kaum Berudu

Sebelumnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Imaji Sem

eCATRI

eCATRI