PENDERITAAN WARGA GAZA SEPERTI TIADA AKHIR
Ahed Abul Atha (kanan) dalam jumpa pers untuk Palestina, Senin (18/11).
KOMENTAR

TILIK.id,  Jakarta — Rakyat Gaza di Palestina sudah bertahun-tahun menderita karena memilih mempertahankan hak tanah air mereka dan menolak menyerah kepada kejahatan Israel. Hampir setiap saat ancaman teror datang dari Israel, bahkan aksi damai mereka menuntut kemerdekaan dibalas Israel dengan hujanan roket.

Di antaranya adalah yang terjadi pada pekan lalu, korban berjatuhan dari masyarakat sipil Palestina di Gaza akibat kejahatan yang kembali dilancarkan oleh Israel, berawal dari teror serangan yang menewaskan salah satu komandan pasukan perlawanan Palestina, Baha Abu Al-Atha dan istrinya.

Berlangsung selama kurang lebih 2 hari, serangan Israel ini memakan korban meninggal dan luka-luka. Menurut otoritas kesehatan Gaza, korban yang meninggal mencapai 34 jiwa, 3 di antaranya perempuan dan 8 anak-anak. Sedangkan korban luka-luka mencapai 111 orang, 20 di antaranya perempuan dan 46 anak-anak.

Selain kerugian nyawa, Gaza juga harus menanggung kerugian materi di tengah berbagai krisis yang sudah bertahun-tahun akibat blokade Israel. Otoritas di Gaza melaporkan sekitar 500 tempat tinggal para keluarga Gaza rusak secara parsial dan 30 tempat tinggal rusak total. 

Hal ini tentu sangat menyedihkan dan memilukan di saat kesulitan ekonomi, kelaparan dan terlebih lagi musim dingin yang menusuk sudah mulai dan akan berlangsung berbulan- bulan.

Ditambah serangan Israel ini juga menyasar mata pencaharian rakyat Palestina seperti perkebunan yang rusak akibat tembakan roket Israel serta nelayan yang dihancurkan perahu mereka serta pembatasan dalam melaut.

Menurut Syaikh Dr. Ahed Abul Atha, ketua Ulama Palestina Asia Tenggara, sungguh kejahatan Israel dalam dua hari pada pekan lalu. Bukan hanya menciptakan teror saat penyerangan tersebut, akan tetapi justru dampak yang ditinggalkan lebih besar bahayanya terhadap rakyat Palestina.

“Salah satunya adalah dalam jangka pendek di musim dingin yang menusuk sekarang ini, ribuan keluarga yang kehilangan tempat tinggal akan mengalami malam-malam dingin membeku tanpa penghangat dan pangan yang mencukupi,” kata  Ahed Abul Atha dalam jumpa pers di Tebet Jakarta Selatan, Senin (18/11).

Oleh karena itu, kata Atha lagi, Spirit of Aqsa kembali menyampaikan harapan dan seruan dari rakyat Palestina  dalam penyaluran berbagai program. Agar masyarakat Indonesia tidak melupakan mereka dan Masjid Al-Aqsha dalam setiap doa serta ikut bergabung membantu keluarga di Gaza khususnya di program bantuan musim dingin 2019-2020. 

“Program ini menyediakan berbagai kebutuhan mendesak korban serangan Israel berupa pakaian dan pangan untuk musim dingin serta biaya medis korban luka serta renovasi rumah-rumah yang terkena dampak serangan,” ujar Abel. 

Program ini juga menyasar tujuan jangka panjang berupa bantuan untuk peserta pembinaan pendidikan generasi Palestina yang digalakkan Spirit of Aqsa, agar mereka bisa bangkit dan menyelesaikan perjuangan meraih keadilan dan perdamaian di Bumi Palestina. (lms)

Anies Ikut Bahas Potensi Kerjasama Ekonomi dengan US-ASEAN Council

Sebelumnya

Begini Cerita Anies tentang Walikota Seoul

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Internasional