Ahok Putra Terbaik? Terbaik dari Hongkong?
Ahok
KOMENTAR

Oleh: Nasrudin Joha 

ADA  yang berdalih Ahok layak menduduki posisi bos BUMN karena Ahok termasuk salah satu putera terbaik bangsa ini.  Ahok sendiri menyatakan bersedia jika itu demi negara.

Baiklah, kita akan periksa. Dimana letak ‘terbaiknya’ si Ahok.

Dalam urusan rumah tangga, Ahok ‘Gagal’ mendidik dan menjaga Veronica Tan.  Ahok menyebut mantan istrinya itu selingkuh sejak tahun 2010, artinya 7 (tujuh) tahun hingga proses cerai Ahok bergulir di PN Jakarta Utara.

Sekarang, terbaik menurut parameter apa? Seorang suami sekaligus figur ayah, membiarkan istri dan ibu dari anak-anaknya selingkuh selama 7 (tujuh) tahun? Apakah ini makna sakinah, mawaddah, warohmah versi pendukung Ahok?

Istri Selingkuh 7 tahun itu bukan sekedar salah istri, tetapi juga kegagalan seorang suami untuk membina dan mendidik istri. Kalau dalam Islam, istri nusyuz (membangkang) saja harus dinasehati, dipukul untuk dididik (pukulan yang tidak menyakitkan), dipisah tidurnya, hingga di talak. Bukan didiamkan hingga 7 tahun.

Apa mungkin, proses pendiaman ini karena Ahok juga melakukan hal yang sama? Biasanya, badai rumah tangga itu bermula ketika ada yang bermain api. Pertanyaannya, siapa yang menyulut api perselingkuhan Veronika Tan?

Dalam urusan politik, Ahok gagal dalam Pilkada Bangka Belitung. Pilgub Babel Tahun 2007 bisa dikatakan pengalaman pahit bagi Ahok dalam panggung politik. Saat itu ia mundur sebagai Bupati Beltim untuk ikut dalam pesta demokrasi Pilgub Bangka Belitung, namun akhirnya keok.

Bukannya menginsyafi kekalahan, justru Ahok menyalahkan surat Al Maidah yang dituding menjadi pemicu kekalahan Ahok. Dalam bukunya, Ahok menuding sentimen Islam melalui surat Al Maidah yang membuat dirinya kalah di Pilkada Babel.

Di Pilkada DKI Jakarta, Ahok juga menang menumpang nama Jokowi. Kemudian, menjadi gubernur karena limpahan (lepehan) Jokowi saat Jokowi naik menjadi Presiden.  Ketika menjabat gubernur, penggusuran di era Ahok luar biasa mengsengsarakan, menyengsengsangrakan, menyesengsangrakan, menyengsarakan rakyat DKI Jakarta. Banyak rakyat yang telah hidup bertahun-tahun, memiliki alas hukum sebagai pemilik tanah, digusur paksa oleh Ahok Demi sang Bohir pengembang. Kampung Aquarium menjadi saksi kezaliman Ahok.

Saat menjabat, Ahok terjerat kasus korupsi RS Sumber Waras dan Rusunawa Cengkareng. Dua kasus ini adalah prasasti kasus korupsi Ahok. Sudah ada audit BPK, tapi lembaga penegak hukum menjadi tumpul pada kasus ini. Duit puluhan hingga ratusan miliar menjadi tak jelas pertanggungjawabannya.

Saat Pilkada DKI Ahok maju bersama Djarot PDIP. Karena khawatir kalah seperti di Babel, Ahok kembali mengumbar ujaran penistaan agama di Pulau Seribu. Ayat Al Maidah dituding Ahok menjadi sarana membodoh-bodohi. Akibatnya, Ahok di Kalau gitu suruh badanmu ada kuncinya adalah tnyaa itu untuk masukin di bawah untuk memutus aliran lagi saya iya saya tahu semua penjara karena terbukti secara sah dan meyakinkan menista agama Islam.

Lantas, apa prestasi Ahok yang katanya putra terbaik bangsa ini? Apakah ujaran isi jamban Ahok dianggap terbaik? Marah-marah dan melotot kepada warga yang komplain layanan Pemda DKI itu prestasi? Menuding ayat Al Maidah sebagai alat membodohi umat itu terbaik?

Sudahlah, Ahok lebih baik fokus di sektor privat sambil membangun rumah tangga barunya. Ahok tak memiliki prestasi untuk mengelola sektor publik baik jabatan publik maupun BUMN.

Tak perlu khawatir tentang bangsa dan negara ini tanpa Ahok, justru tanpa Ahok bangsa ini tenteram dan damai. Ahok tak perlu berkorban apapun untuk negara ini, cukup dengan tidak terlibat dalam urusan pemerintahan dan kekuasan, tak ikut menduduki jabatan publik termasuk BUMN, itu adalah sumbangan yang sangat berharga bagi umat Islam dan negeri ini. 

GUBERNUR INDONESIA

Sebelumnya

Suka atau Tidak, Reuni 212 Kini Menjadi Arus Besar

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Gelitik