Sekilas Perjalanan Gagasan Tentang Masjid Apung Ancol
Masjid Apung Ancol
KOMENTAR

Geisz Chalifah

MENGAWALI   tugas di Ancol adalah dengan mendengar, dengan belajar pada banyak teman yang telah puluhan tahun bekerja di situ. Mendengarkan keluh kesah mereka juga beragam ide. Ada yang terlaksana dan banyak pula yang tak terlaksana.  Hambatan birokrasi biasanya menjadi kendala untuk sebuah gagasan walaupun original dan layak dilaksanakan. 

Adalah Sunarto, General Manager Taman Impian Jaya Ancol,  dalam satu perbincangan di Pasar Seni mengatakan: Pak, di Ancol sini kalau dibangun Masjid Apung bagus pak. Saya menyimak saja idenya tanpa memberikan persetujuan secara langsung. 

Lalu tak lama kemudian Martua Hami Siregar, biasa dipanggil Ucok,  Ketua Serikat Pekerja Ancol yang baru saja selesai bertugas sebagai ketua serikat pekerja. Dengan kepandaiannya bernegosiasi,  banyak masalah karyawan terselesaikan dengan baik, tanpa demo, tanpa ada yang dikeruhkan wajahnya dan solusi yang baik bagi kedua belah pihak tercapai.   Berbagai keputusan direksi yang berpihak pada karyawan terwujud berkat komunikasinya yang intensif.   

Ucok juga menyampaikan gagasan yang sama agar dibangun Masjid Apung di Ancol. Saya mengendapkan sementara gagasan ataupun ide masjid apung itu yang entah sudah berapa tahun menjadi mimpi para teman-teman yang bekerja di Ancol. 

Untuk fokus lebih dulu terbangunnya sebuah taman didekat kantin untuk karyawan.  Agar  gagasan terlaksana satu persatu, juga renovasi kantor-kantor di seputar Ancol yang rasanya sangat mendesak untuk segera dilakukan, kenyamanan untuk mereka bekerja merupakan hal yang sangat penting. 

Belum lagi merubah lanscape Ancol yang sudah sangat butuh peremajaan. 
Beragam gagasan itu butuh  dikomunkasikan dengan baik secara intensif, tak hanya diusulkan lalu terlewat begitu saja.  Tak dengan cara menggurui apa lagi sekadar menyalahkan tanpa memberi solusi.

Sebuah taman yang dibuat dengan indah untuk karyawan melepas lelah adalah langkah awal yang sedang diupayakan terwujud, mengajak bicara betapa pentingnya ruang terbuka hijau, mengajak berkhayal sambil bercanda bila taman itu jadi dan terkadang perlu juga sedikit keras bila keputusan bersama sudah diambil namun pekerjaan tak kunjung terlaksana. 

Masjid itu butuh biaya relatif besar, butuh waktu untuk membangun narasi dan argumen yang layak, rasional, tak hanya dalam konteks spritual namun juga ada aspek bisnis untuk disampaikan dalam rapat  direksi dan komisaris. 

Mimpi dari teman-teman karyawan Ancol itu yang sekian bulan mengendap,     menemukan  argumentasi yang kuat setelah menonton tayangan iklan di sebuah bioskop yang mempromosikan sebuah merk kulkas dengan stempel halal. Gagasan itu menjadi menguat dengan argumen sosiologis tentang kelas menengah muslim.  

Memiliki gagasan adalah satu hal, namun menyampaikan gagasan untuk disetujui dan diterima oleh banyak orang adalah hal yang lainnya lagi. Butuh pendekatan yang berbeda, tak hanya hitung-hitungan bisnis tapi juga  mengajak orang lain untuk meyakini bahwa gagasan itu penting untuk diwujudkan. 

Mendekati satu persatu dari direksi, membicarakan di saat santai bukan dalam rapat resmi, karena bila sebuah gagasan langsung disampaikan dalam rapat formal seringkali yang terjadi malah lepas dari tujuan. 

Tentu saja cara berpikir  direksi keuangan adalah untung rugi, berapa biaya yang dibutuhkan, kapan balik modal dsbnya. Butuh kemampuan bahasa bisnis untuk meyakini direksi  dalam  menyampaikan sebuah gagasan, setelah mengajaknya berhitung tentang struktur bangunan, total perkiraan biaya yang dibutuhkan dan berapa peningkatan kunjungan setelah Masjid itu rampung. 

Pak Daniel yang saat itu menjabat direktur keuangan mengatakan; Hitungannya rasional dan menarik untuk kita bahas layak kita bicarakan dalam rapat Dirkom. 

Satu teryakini lalu mulailah berbicara pada penanggung jawab utama semua kebijakan,  yaitu Pak Paul selaku Direktur Utama. Pak Paul yang akomodatif terhadap beragam ide untuk yang namanya perubahan terlebih untuk kemajuan Ancol selalu cepat merespon secara positif, terlebih bila ide tersebut rasional. Dua direksi sudah bisa dikatakan 90 persen setuju, walaupun keduanya adalah non muslim tapi ini bukan sekedar gagasan fasilitas rumah  ibadah, melainkan banyak aspek lainnya, destinasi wisata spiritual,  rekam jejak sejarah perjalanan Islam di Jakarta Utara yang tentunya menarik untuk menjadi referensi sejarah dalam bentuk sebuah bangunan. 

Perjalanan kemudian adalah;  mensosialisasikan ide pada empat direksi lainnya, mengajak bicara satu persatu dalam waktu yang berbeda, resto Putri Duyung adalah sarana untuk berbincang berbagai macam hal tanpa formalitas. Resto itu menjadi saksi sejarah beragam keputusan terjadi sebelum diketuk dalam rapat formal.  

Setelah beragam perbincangan di berbagai waktu yang berbeda, seluruh direksi menyatakan setuju dan mendukung. Butuh kesabaran dan ketelatenan untuk mengajak orang lain berada dalam pikiran yang sama. 

Membangun persamaan  terhadap ide adalah adalah hal yang penting namun mengeksekusi gagasan jauh lebih penting, agar ide tak hanya menggantung di awang-awang. 

Di jajaran komisaris dari jauh hari sebelumnya sejak awal diajak bicara, Pak Rene dan Pak Trisna Mulyadi,  dukungan sudah langsung didapat. 

Setelah yakin para pengambil keputusan akan memberikan dukungan, maka gagasan masjid apung diminta untuk dimasukkan dalam rapat direksi dan komisaris. 

Hari bersejarah itu tiba, Rabu 27 Maret 2019, Keputusan diketuk. Masjid Apung akan dibangun di Ancol. 

Foto bersama dilakukan untuk menjadi cerita di masa nanti tentang sebuah keputusan bersejarah. Dalam rapat itu pula, agar arsitek memiliki referensi dalam membuat desain masjid. Maka  diusulkan nama Syamsuddin Ch Haesy, seorang intelektual yang memiliki pemahaman sejarah dengan berbagai referensi dipilih untuk menulis sejarah perjalanan Islam di Jakarta, agar desain  masjid memiliki ornamen dan  bangunan yang melambangkan perjalanan sejarah masuknya Islam di kota ini. 

Kesamaan terhadap ide adalah hal yang penting namun mengeksekusi gagasan jauh lebih penting, agar ide tak hanya menggantung di awang-awang, butuh dorongan yang kuat dan persetujuan dari pemimpin Ibu Kota. 

Dalam sebuah pertemuan silaturahmi Idul Fitri di rumah Gubernur, gagasan tentang masjid apung dan arsitekturnya didiskusikan.  Anies Baswedan menyambut baik dan memberikan berbagai tambahan saran-saran menarik dalam mewujudkannya. 

Nama Andra Matin arsitek utama muncul dalam perbicangan malam itu. 

Rapat direksi sudah diketuk, Gubernur telah memberikan dukungan, lalu pertanyaan terakhir adalah: Kapan di laksanakan? 

Tanggal 28 Oktober 2019 dipilih, namun Gubernur memiliki ide yang lebih baik. Menyarankan agar dipilih waktu tanggal 9 November 2019 yang bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Sabtu sore di hari yang angin tak malas bertiup, sirene tanda dimulainya pembangunan dibunyikan. Tiang pancang di tengah laut ditanamkan. Tanggal  9 November 2019, sang Gubernur, bersama Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia Muhammad Jusuf Kalla di dampingi oleh direksi Ancol Sahir Syahali, meresmikan dimulainya pembangunan Masjid Apung Ancol. 

Mimpi karyawan Ancol yang mungkin saja dari puluhan tahun lalu,  adanya sebuah masjid apung di area itu Insya Allah terwujudkan.

Semoga pembangunan masjid ini berlangsung dengan lancar dan 
menjadi keberkahan bagi kita semua.

Ancol Menagih Janji Muhammad Taufik

Sebelumnya

GUBERNUR INDONESIA

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Gelitik