Menteri ESDM Mengakui Banyak Proyek Energi Terbarukan Mangkrak
Manteri ESDM Arifin Tasrif di 8-th EBTKE Conex 2019.
KOMENTAR

TILIK.id,  Jakarta — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyampaikan pidato pertama di depan publik sejak diangkat  jadi menteri 23 Oktober lalu.   Pidato itu disampaikan saat  membuka 8-th EBTKE Conex  2019 di JIEXpo Jakarta Pusat, Rabu.

Conex ke-8 itu sendiri dibuka oleh Presiden Joko Widodo dan sejumlah menteri.  Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga hadir  di hari berikutnya menyampaikan pemaparan tentang energi baru terbarukan sebagai case study DKI Jakarta.

Dalam paparannya, Arifin Tasrif  mengakui banyak proyek energi baru terbarukan (EBT) yang mangkrak. Dia mengatakan sedikitnya baru sekitar 8 persen yang terealisasi dari pontensi yang ada. 

Karena itu, dia pun  berjanjj akan melakukan pendataan proyek-proyek EBT yang tidak jelas kelanjutannya itu.  Salah sartunya  akan melakukan pendataan pada proyek-proyek EBT yang mangkrak.

“Mau kita inventarisir (proyek mangkrak),” kata Arifin usai membuka The 8th Indonesia EBTKE Conex di JIEXpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (6/11/2019).

Untuk mendorong EBT, Arifin mengatakan akan melakukan evaluasi. Dan duduk  bersama dengan pemangku kepentingan terkait sehingga pemerintah bisa menentukan strategi dan langkah  ke depannya.

“Kita akan evaluasi bagaimana mempercepat itu. Memang akselerasi dirasakan kecepatannya agak kurang. Kita perlu duduk sama-sama dengan stakeholder sehingga kita bisa menentukan strategi dan rencana yang memang kita bisa laksanakan,” ujarnya.

BACA JUGA: 


Secara detail, Arifin mengatakan potensi EBT  mencapai 400 gigawatt (GW). Namun, saat ini baru terealisasi 8 persen.  

Sementara iitu, Ketua Umum Masyarakat Energi Baru Terbarukan Indonesia (METI) Dr Ir Surya Darma memaparkan,  di bidang pembangkit listrik,  dari sekitar 62 Gigawatt (GW) total listrik yang terpasang, pembangkit listrik dari batu bara masih mendominasi bahkan naik menjadi 62.7 persen, gas 21.2 persen, minyak bumi 4 persen. 

“Sedangkan energi terbarukan malah turun menjadi 11,4 persen. Ini baru sektor kelistrikan, belum termasuk bahan bakar, bahan baku dan lain-lain yang porsi bauran energi terbarukannya masih sekitar 7 persen,” kata Surya Darma.

Dikatakan, kondisi bauran energi untuk Energi Baru dan Terbarukan (EBT) pada tahun 2019 kembali turun menjadi hanya 11,4 persen dengan komposisi energi panas bumi 5 persen, energi air 6,3 persen dan gabungan energi lainnya yaitu matahari, sampah, biomasa, CPO, angin dan lain-lain hanya 0,3 persen.

Menurutnya, dalam RUPTL 2019-2028 yang ditetapkan PLN bersama pemerintah, beberapa target terlihat tidak sesuai dengan Kebijakan Energi Nasional (KEN). Sebut saja, target EBT yanga hanya 16 GW sampai tahun 2028, sedangkan dalam KEN, target EBT adalah 45 GW sebagai bagian dari 23 persen target dalam bauran energi nasional pada tahun 2025. 

“Target tersebut dapat tercapai dengan partisipasi masyarakat dan dukungan Pemerintah dalam pengembangan EBT, terutama PV rooftop yang harganya diperkirakan akan semakin menurun di masa depan. Ini tentu saja belum cukup untuk memenuhi target EBT dalam KEN,” ujar Surya Darma. (lms)

Dikritik Majalah TEMPO, Anies Malah Berterima Kasih

Sebelumnya

MENTERI AGAMA DIMINTA BELAJAR AGAMA

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional