AUTUMN  LEAVES IN JAKARTA
KOMENTAR

Geisz Chalifah 
(Produser Jakarta Melayu Festival)

TELAH  puluhan tahun Jakarta menjadi kota yang  lelah, terlalu maskulin tanpa ada sentuhan keibuan. 

Kota yang menjadi Ibu Kota negara, dibangun dengan pendekatan amburadul tanpa perencanaan yang matang. 

Segala sesuatu dikalahkan oleh kepentingan kolaborasi penguasa dengan pengusaha. 

Jalur hijau menjadi tiang beton berupa bangunan tinggi di berbagai tempat. 
Menjadi mall, hotel, gedung perkantoran.  Terlalu banyak untuk disebutkan.  

Bahkan penyerapan air berupa danaupun dirampas habis oleh kapitalisme, apa lagi lahan pemakaman yang tentu mereka tak berdaya untuk dipindahkan entah kemana. 

Kebun-kebun dengan pepohonan Bakung tempat anak-anak Jakarta bermain capung, ataupun Pohon Sawo tempat bersembunyi dalam permainan kanak-kanak bernama Petak Umpet hilang berganti perumahan. 

Jual beli ijin sudah menjadi hal yang lumrah, masyarakat menonton semua itu dengan termangu dan gagap. Partisipasi publik sebatas sandiwara yang mereka dipilih berdasarkan kepanjangan kekuasaan.

Pembangunan yang sentralistik menarik orang desa ke kota untuk mendapat sejemput rejeki. 

Mereka tak diberdayakan melainkan menjadi beban,  menjadi pemandangan kumuh bagi kelas menengah. Menjadi musuh penguasa untuk disingkirkan kapan saja, terlebih bila pengusaha memiliki kepentingan  terhadap lahan di sekitar mereka tinggal. 

Bercerita tentang indahnya jalan-jalan trotoar,  hanya cerita bagi yang keluar negeri.  

Pemandangan indah  sepanjang trotoar  di bulan April dengan bunga Sakura yang mekar di Nara maupun kyoto, taman dengan bangunan artistik yang terawat baik di Sulzburg, di Vienna, yang romantik, ataupun Bratislava yang mempesona, tapi jangan pernah itu semua bisa diharapkan ada di Jakarta. 

Kota ini dibangun atas kepentingan uang, atas kepentingan pengembang yang bekerja sama dengan pemilik regulasi. 

Seorang Gubernur dengan tujuh penghargaan internasional yang kemunculannya menjadi calon gubernur melewati cara yang ajaib, tak pernah terpikirkan tak ada yang memprediksi dia akan tampil menjadi pemimpin Ibu Kota. 

Dua tahun dia memimpin sudah. Kalimatnya adalah kesejukan, tindakannya adalah menunaikan yang dia janjikan. Di tengah kebencian mereka yang menjadi buzzer penguasa  dibayar oleh pengusaha yang kepentingannya tak tersalurkan. 

Kota ini mulai berbenah, ada sentuhan untuk memanusiakan manusia, ada ruang untuk publik yang diutamakan, ada keindahan mata yang dimanjakan. 

Tiba-tiba di hutan beton Jakarta bunga-bunga bermekaran, ada trotoar lebar dan bersih dengan pohon-pohon yang terawat, dalam beberapa tahun kedepan akan rimbun. 

Para pembencinya mengatakan kota ini makin mundur tentu saja hati yang kumuh maka ekspresinya juga akan kumuh dengan menafikan fakta. Tapi yang berotak waras berfikir normal akan merasakan perubahan kota yang lelah ini semakin menyejukkan. 

Di mana-mana ruang publik dibangun dengan asri, tak ada tawar menawar untuk yang namanya  melanggar siapapun mereka. 

Sang Gubernur menyatakan secara jelas dan tegas tak punya niat sedikitpun merupiahkan jabatan yang dia emban. 

The Autumn Leaves In Jakarta  bukan lagi mimpi tapi kebijakan dari gubernur yang menyandang 7 penghargaan dunia, dan lebih dari 30 penghargan dia dapatkan yang baru dua tahun kepemimpinannya.

Maka lagu dari Nat King  Cole itupun menjadi semakin indah. 

The falling leaves drift by the window
The autumn leaves of red and gold
I see your lips, the summer kisses
The sun-burned hands I used to hold
Since you went away the days grow long.

Pemilu Tidak Langsung dan Jabatan Presiden Diperpanjang?

Sebelumnya

WABAH SINTINGISME

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Gelitik