Terkait  Anggaran, Anies Tetap Tenang, Tidak Marah pada  Kesalahan Bawahan
Anies Baswedan
KOMENTAR

TILIK.id, Jakarta —  Rencana Kebijakan Umum Anggaran Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) DKI 2020 menjadi heboh. Ditemukan anggaran yang tidak masuk akal. Ada pos anggaran pembelian lem aica aibon sebesar Rp 82 miliar. Ada pula anggaran pembelian ballpoin yang wah dan masih banyak lagi. 

Keanehan itu akhirnya membuat Gubermur DKI Jakarta mengumpulkan bawahannya, semua SKD,  Deputi dan para asisten, pada Rabu (30/10) di Balaikota.  

Dalam pengarahannya, Anies  mampu menahan diri untuk tidak marah pada kesalahan bawahan.  Tampak matang dalam membicarakan substansi.  Dia pun memastikan lagi bahwa anggaran yang ada harus dikelola untuk kepentingan kesejahteteraan dan keadilan sosial. 

“Keberhasilan  anggaran tidak diukur besarnya, tapi sejauhmana dampaknya bagi rakyat. Anggaran, kebijakan, dan infrastruktur  haruslah berorientasi pada kepentingan rakyat,” katanya. 

BACA JUGA: 


Anies tak memungkiri adanya pertanyaan, seperti buat apa lem aibon itu dengan anggaran 82 miliar. Anies mengoreksi itu tidak masuk akal. Ada kesalahan pada sistem. 

Karena itu, sistem transparansi  anggaran itu akan dievaluasi. Sebab, sistem e-budgeting sudah digital tapi masih belum smart. Misalnya tidak ada light alert jika terjadi kesalahan input atau ada besaran anggaran yang tidak wajar. 

“Jadi sistemnya sekarang ini sudah digital, but not a smart system. Itu hanya digital aja, mengandalkan orang untuk me-review. Itu sudah berjalan bertahun tahun. Karena itu ini akan diubah, tidak akan dibiarkan begitu saja. Let’s do it in a smart way,” ucap Anies Baswedan kepada wartawan di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (30/10/2019). 

Menurut Anies, sistem yang smart bisa mengoreksi kesalahan memasukkan data. Dengan demikian, kemungkinan munculnya anggaran yang aneh akan bisa dikurangi.

“Kalau smart system dia bisa melakukan pengecekan, verifikasi. Dia bisa menguji. Ini sistem digital tetapi masih mengandalkan manual,” ucap Anies. 

Dengan logika algoritma, Anies yakin sistem itu bisa tercipta. Begitu ada masalah langsung nyala. Red light. Begitu ada angka yang tidak masuk akal, langsung muncul warning. 

“Ini tinggal dibuat algoritma aja, ‘if’ item-nya itu jenisnya Aibon, harganya Rp 82 miliar, sebenarnya harganya kan enggak semahal itu. Harganya Rp 20 ribu,  Rp 30 ribu, terus totalnya mencapai puluhan miliar, pasti ada salah. Harusnya ditolak itu sama sistem,” ujar Anies.  (lms)

Anies dan Istri Hadiri Festival Deepavali di Ancol

Sebelumnya

Ini Kata Petinggi Ancol soal Desain Khas Mesjid Apung

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Jabodetabek