Ini Cerita Mantan Penderita Stroke yang Sukses  Jalan Kaki Bandung-Jakarta
Komaruddin Rachmat
KOMENTAR

TILIK.id, Jakarta — Komaruddin Rachmat, 65 tahun, disambut suka cita  di Monas Selasa sore (29/10). Tak hanya suka cita, dia juga diapresiasi sejumlah komunitas, antara lain alumni Unpad, alumni HMI, dan alumni SMP dan SMA asal Kang Komar. 

Apa pasal? Ya, Komaruddin Rachmat, sukses jalan kaki dari Bandung ke  Jakarta tanpa sakit atau kambuh selama perjalanan. Dia disambut di Monas pukul 17.00 WIB oleh kolega, dan sejumlah alumni HMI.  Mantan penderita stroke yang nyaris lumpuh total ini pun diselamati dengan haru. 

Di depan sejumlah kamera TV di Monas, Kang Komar menceritakan riwayat penyakit stroke yang dideritanya.  Kemudian menjelaskan hajatan jalan kaki Bandung—Jakarta untuk memperingati Hari Stroke se Dunia.

Di depan media, Kang Komar mengaku tujuan jalan kaki Bandung-Jakarta sejak 25 Oktober dan finish 29 Oktober itu adalah untuk mengirim pesan bahwa penyakit stroke bisa disembukan asal tahu caranya.  Salah satunya dengan semangat membaja untuk pulih kembali. 

“Saya terkena stroke pada tahun 2012, atau repatnya 16 September 2012.  Saya didiagnosa jenis hemmoragic atau pecah pembuluh darah, lumpuh badan sebelah kiri,” cerita Komaruddin Rachmat usai finish di Monas. 

Dia menambahkan, saat diserang stroke,  Kang Komar tidak sadar sudah ada pada ruang perawatan RS Harum di Kalimalang Jakarta Timur.  Selepas rawat inap di RS Harum, Kang Komar terus menjalani rawat jalan selama 3 bulan. 

BACA JUGA: 

 

Karena alasan keuangan, pria kelahiran Bekasi 25 Maret 1954 ini pindah rawat jalan ke RS Persahabatan Rawamangun Jakarta Timur dengan menggunakan fasilitas Askes istri.  Jadi  proses penyembuhan signifikan dilalui selana 6 bulan. Tiga bulan rawat jalan di RS Harum dan 3 bulan rawat jalan di RS Persahabatan.

“Enam bulan ini saya sebut periode emas pemulihan, selain terapi akupuntur, senam stroke setiap hari Selasa di RS Persahabatan,” tutur mantan Ketua Umum Badko HMI Jawa Barat ini. 

Tak hanya itu, Komaruddin Rachmat  juga banyak mencari tahu tentang penyakit stroke dari buku-buku kesehatan, taat apa kata dokter dan menghindari asupan pemicu kolesterol serta merilekskan pikiran. 

“Yang saya lakukan juga adalah mencari pasien stroke yang sudah sembuh. Saya ingin mencari pengalaman dan kiat-kiat sembuh.  Kemudian saya baca buku-buku kesehatan, dan mendengar apa kata dokter.  Dari situ saya rumuskan sendiri sehingga saya menjadi dokter sendiri,” beber Komaruddin Rachmat.

Begitulah selama 6 bulan periode emas Komaruddin Rachmat bergelut dengan proses penyembuhan.  Pelan-pelan setelah bisa berjalan dan mendekati normal, dia melatih dirinya berjalan, dan berjalan sejauh dia bisa. 

Dari tahun ke tahun terus berproses sampai bisa mengayuh sepeda sampai ke Kotua Tua Jakarta, meski sempat jatuh ditabrak kendaraan.  Kebiasaan bersepeda ini dijadikan sebagai nama anonim ketika menulis artikel di medsos. Nama inisialnya dalam tulisan-tulisannya adalah  “Sepeda Man”.

 

Seiring dengan proses pemulihannya, Komaruddin Rachmat makin percaya diri. Pelan-pelan dia menbuka diri dan bersosialisasi dengan teman-teman aktivisnya dulu di HMI dan Unpad, dan membuatnya rutin jalan sehat di KAHMI Forever Jalan Sehat (KFJS) Jakarta dan Perkumpulan UMA.
 
 Dari situ pula Kang Komar akhirnya mengadakan jalan sehat Bogor-Jakarta  pada medio  2019 ini. Hasil Jalan Sehat Bogor-Jakarta kemudian diniatkan jalan berikutnya  dari  Bandung ke Jakarta untuk memperingati Hari Stroke se Dunia yang jatuh pada 29 Oktober 2019 ini. 
 
 Jalan kaki Bandung-Jakarta akhirnya sukses terlaksana. Banyak yang khawatir namun pada Selasa sore (29/10) di Monas Kang Komar disambut dengan suka cita dan diapresiasi oleh kolega dan komunitasnya. 
 
 Soal Bandung-Jakarta ini, Komar menjelaskan, dirinya didampingi  oleh tim medis dan salah satu mantan pelari marathon Muzbar.  Muzbar ikut sejak start di depan Gedung Sate pada Jumat  25 Oktober pukul 6 pagi. 
 
 Rute yang dilalui dari Bandung ke Jakarta adalah Cimahi, Padalarang, Cikalong Wetan, Purwakarta, Karawang, Bekasi, dan finish di Monas Jakarta. 
 
 “Saya didampingi oleh saudara  sesama fakultas ekonomi  Unpad angkatan 1974, Saudara Muzbar.  Beliau (Muzbar)  hanya sampai di Cikalong Wetan. Di Cikalong Wetan kita nginap di Masjid  Al Hidayah,” kata Komar.
 
 Di hari kedua, Komaruddin Rachmat didampingi teman se-almamaternya dari Fakultas Kedokteran, yaitu dr Saliuri,  dan berjalan sampai Karawang.  Kemudian dari Karawang ditemani secara bergantian dari Yayasan Kesehatan Cahaya Foundations. 
 
 “Dari Bekasi ke Jakarta saya didampingi oleh banyak teman-teman,  antara lain saudara saya Unchu Natsir, Lilik Muflihun dan Jumrana Salikki,” kata Komar. 
 
 Komaruddin Rachmat juga menyampaikan rasa syukurnya disambut sejumlah komunitas seperti alumni HMI, alumni SMP dan SMA, dan alumni Unpad Bandung. 
 
 Terkait kondisi kesehatan selama jalan, Kang Komar mengaku heran tidak ada masalah. “Tim kesehatan saya selalu memeriksa tentang suhu badan, suhu badan saya ini normal rata-rata 36 derajat koma sekian. Mungkin karena selalu minum air, sehingga suhu badan saya normal,” kata Komar. 
 
 Begitu juga detak jantung, normal kurang lebih  105.  Tim kesehatan juga menanyakan soal napas. Komar mengatakan napas normal, bahkaan stabil dan tetap sehat.  Hanya pinggang yang sedikit sakit. 
 
  Dari jalan kaki Bandung-Jakarta ini, Komaruddin berpesan, bagi  yang belum diserang stroke janganlah sampai terkena, karena penyakit stroke itu penuh penderitaan lahir dan batin.  Karenanya perdulilah pada kesehatan diri.
 
“Bagi yang telah  terkena stroke waspada tingkat tinggilah karena serangan susulan selalu membayangi bila tidak super hati-hati. Serangan kedua hasilnya dapat dipastikan akan lebih buruk dari yang pertama, serangan ketiga dan berikutnya jarang yang selamat atau cacat permanen,” katanya.

Beratnya orang terkena stroke, kata Komar lagi,  adalah berakibat menurunnya kualitas hidupnya secara tajam,  baik kualitas kehidupan individunya juga terjadi pula pada  kualitas hubungan  keluarga maupun sosialnya.

Dikatakan, tanggal  29 adalah hari stroke se-Dunia. Bertepatan dengan  itu,  kita mendapat kenyataan bahwa di Indonesia saat ini stroke sebagai penyakit pembunuh nomor satu.

“Kondisi ini menimbulkan keperihatinan semua pihak termasuk saya. Saya menganggap penyakit stroke itu adalah penyakit individu dengan urusan pribadi masing masing,  tapi ketika sudah menjadi endemi maka hal itu seyogyanya menjadi tanggung jawab negara,” ujarnya. (lms)

Setelah Bogor-Jakarta, Mantan HMI dan Eks Pengidap Stroke Kini Jalan Kaki Bandung-Jakarta

Sebelumnya

Jangan Sampai Terkena Stroke, Baik Pertama Maupun yang Berulang

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Kesehatan