SENARAI MENTERI
Bang Sem
KOMENTAR

Bang Sém

PAGI  merekah, ketika saya melintas foot path hutan kota. Telepon selular saya bergetar. Ada panggilan telepon dari Palui.

Dia bertanya berbagai kabar. Lantas bertanya ihwal senarai menteri dalam kabinet Jokowi - Ma’ruf.

“Tak ada yang menarik,” kata saya.

“Ooo.. itu sebabnya kau tak menulis sama sekali momen-momen yang dianggap penting oleh banyak orang, itu?” ungkap dia.

“Ya.. begitulah.. Ada hal yang lebih penting ditulis,” jawab saya.

Palui bercerita. Di banyak Whatsapp Group (WAG) para alumni organisasi ekstra kampus yang dia ada di dalamnya, ramai dibincang senarai yang diklaim sebagai anggota.

Saya tertawa. “Senarai itu disusun untuk persiapan buka bersama dan berbagai kenduri organisasi, agaknya,” jawabku.

“Janganlah berfikir begitu.. Agak positif sedikitlah berfikir,” kata Palui.

Lagi, saya tertawa. “Klaim-klaim semacam itu ‘kan isyarat betapa lemahnya organisasi dan bagian dari pembiasaan budaya clientelisma,” jelas saya.

“Jadi.. klaim-klaim semacam itu tak perlu?” tanya Palui.

“Tentu tidak. Sebagai alumni organisasi yang pernah sangat dibanggakan di masanya, berhentilah bikin klaim-klaim semacam itu. Atau sebaliknya, klaim saja semua menteri sebagai anggota otomatis organisasi alumni.. yang tak lebih hanya sebagai paguyuban fans club,” kata saya.

“Bagaimana kalau benar, ada sesama alumni yang diangkat Jokowi sebagai menteri?” sambung Palui.

“Ya.. gak gimana-gimana.. Perlakukan biasa-biasa saja. Dukung kalau kerjanya baik, kritik kalau kerjanya buruk,” kata saya.

“Ya.. sudahlah.. Aku mau tanya soal lain,” kata Palui. “Bagaimana kabar Mochtar Ngabalin, yang gigih membela Jokowi selama masa kampanye?” lanjut Palui.

“Waduh.. saya tidak tahu dan tidak mau tahu.. Jangan risaukan dia.., dia punya keahlian bermetamorfosis yang luar biasa kan? Do’akan saja dia sehat-sehat senantiasa, rajin berenang dan menyelam,” kata saya sambil tertawa.

“Bagaimana pula dengan Prabowo?” tanya Palui lagi.

“Maksudmu, mantan calon presiden? Sama.. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu..,” kata saya sembari tertawa.

“Kenapa tertawa?” tanya Palui.

“Di depanku sedang berjalan salah seorang pendukung beratnya yang juga kecewa berat.. Mungkin kekecewaan menambah berat badannya yang kian tambun,” kata saya.

Terdengar suara Palui di seberang sana. Saya bercerita pada Palui, sang pendukung berat, kecewa berat, lantaran tersilap mata. Dia merasa terperangkap dalam jebakan fantasi selama lima belas tahun.

Pendukung berat yang sedang kecewa berat itu, kemarin cerita pada saya. Selama lima belas tahun dia membayangkan sosok yang selalu dipujanya, itu bercita-cita menjadi pemimpin nasional.

Itu sebabnya dia mendukung habis-habisan, ketika Megawati menempatkannya sebagai pasangan Calon Wakil Presiden dalam Pemilihan Presiden 2004. Juga ketika sang tokoh mencalonkan diri pada Pemilihan Presiden 2009 dan 2014.

“Ternyata, cita-citanya sekadar menjadi Menteri,” kata saya kepada Palui, menirukan cerita pendukung berat, kolega saya jalan sehat itu.

Terdengar Palui tertawa di seberang sana. “Hahaha.. jebakan fantasi ironik, itu..” serunya.

Sambungan telepon dengan Palui pun terputus. Saya duduk di atas batu bersama sang pendukung berat yang sedang kecewa berat. Saking kecewanya, dia kapok terseret dalam situasi dukung mendukung siapa saja dalam kontestasi per-kepala-an. Baik kepala desa sampai kepala negara.. Dia akan fokus sebagai kepala rumah tangga saja. |

Pasal Ayam Jago dan Gembok

Sebelumnya

Anies Perlu Terus Menulis dan Berpidato

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Imaji Sem