Pasal Ayam Jago dan Gembok
Bang Sem
KOMENTAR

Bang Sém

AHAD, 20 Mei 2019 di lingkungan Grand Ball Room - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), berlangsung akad nikah Iqra Amelia dan Rizchy.

Amelia adalah putri pasangan Syahrir Lantoni dan Kasmawati Kasim Marewa - aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ketika belia.

Rangkaian akad nikah itu menarik perhatian saya.

Ketika sedang tekun menyimak ‘tausiyah senja’ dari Sofhian Mile, politisi ‘sabuk hitam’ yang gemar khutbah, telepon bimbit saya bergetar.

Ah.. ternyata Palui yang menelepon.

“Bagaimana Jakarta? Bagaimana prosesi pelantikan Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024?” tanyanya.

Saya beritahu dia, saya sedang menghadiri akad nikah, dan menyimak tausiyah atau nasihat pernikahan yang sangat bagus amsalnya.

“Jadi, sudah resmi?” tanyanya.

“Sudah.. Barakallah.. mempelai lelaki menyampaikan aqid dengan sangat baik. Lancar dan riang,” jawab saya. Jadi sudah resmilah mereka bersuami istri,” jawab saya.

“Sudah sah.. ya” balas Palui.

“Ya sudah sah..” kata saya.

“Bagaimana pidato awal yang disampaikan. Apa yang dijanjikan?” sambung Palui.

“Ooo.. Pengantin laki-laki menyampaikan  janjinya, akan memperlakukan istrinya secara mu’asyarah bil ma’ruf.  Sesuai dengan hak-hak istimewa yang diberikan Allah kepada pasangan yang sudah sah sebagai suami dan istri,” jawab saya, sambil berbisik.

“Terus apa lagi?” tanya Palui.

“Ya.. sesuai prinsip mu’asyarah bil ma’ruf.. Keduanya berkewajiban menjaga hubungan pasangan suami istri atau pasutri dengan baik, sehingga tercipta situasi dan kondisi yang harmonis, sebagai awal dari kehidupan yang sakinah, mawaddah, bertabur rahmah,” kata saya.

Saya mengutip Surah AnNisaa’ ayat 19. Saya jelaskan maknanya. “... bergaullah secara patut, kemudian bila kamu tidak menyukai, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”

Itu adalah prinsip mu’asyirat dalam bab mufa’alah dalam berumahtangga dan berhubungan sebagai pasangan sah melalui pernikahan suci.

“Ya.. ya.. ya.. Presiden dan Wakil-nya memang harus begitu.. apalagi wakilnya bernama Ma’ruf Amiin.. Kyai Haji, lagi..” sambung Palui.

“Palui.. saya sedang menyaksikan akad nikah, bukan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden..,” bisik saya.

“Ya.. Ya.. Ya.. Apa nasihat yang diberikan teman-teman kepada pasangan yang sudah mengemban amanah, itu?” sambung Palui.

“Mesti melakukan muhasabah diri. Belajar pada makhluk lain yang Allah ciptakan. Misalnya, ayam jago yang cenderung tidak setia, atau merpati yang tak pernah ingkar janji,” jelas saya.

“Nasihat lain?” tanya Palui lagi.

“Sofhian Mile dalam tausiyahnya juga beramsal tentang gembok dan anak kunci yang teguh pancuh pada fungsi. Anak kunci hanya akan membuka satu gembok saja, dan gembok hanya akan terbuka oleh satu anak kunci saja,” jelas saya.

“Apalagi?” tanya Palui.

“Pendek kata, yang dijelas Sofhian Mile dalam tausiyah senja yang diberikannya, mengingatkan kedua pasangan dan kami yang menyaksikan, esensi dari perbuatan ma’ruf. Yaitu, perbuatan yang mesti dijalankan, sesuai dengan tata nilai dan ketentuan agama yang melandasinya. Jadi jelas, apa yang harus dilakukan dan apapula yang harus ditinggalkan.”

“Oh.. kalau begitu sudah tepat.. itu. Jadi sudah ada pembagian tugas antara Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin?” ungkap Palui.

Saya mengingatkan dia lagi, bahwa saya sedang menghadiri akad nikah, bukan menghadiri pelantikan Presiden Wakil Presiden.

Karenanya, saya katakan kepadanya, esensi tausiyah Sofhian Mile adalah penegasan, bahwa perempuan mempunyai hak yang seimbang dan proporsional dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf, sesuai Surah Al Baqarah, ayat 228.

“Karena itu, antara suami isteri, tanpa diminta, sikap sikap toleransi dan lapang dada mengalir dengan sendirinya. Khususnya untuk mempermudah peran masing-masing dalam membentuk keluarga yang mulia. Kata kuncinya adalah akhlak yang baik, lembut, komunikatif, mesra, tidak kasar, mengakui kesalahan dan kekhilafan dan sejenisnya.

Saya cuplikan hadits Nabi Muhammad Saw, bahwa “Yang paling baik di antara kalian (manusia) adalah yang paling baik perlakuan kepada keluarganya..

“Ah.. kau.. Soal toleransi, tak ada yang paling nyata melakukannya, kecuali umat Islam..,” katanya.

Saya terpaksa keluar ruangan. Saya bicara dengan volume suara agak besar.

“Palui.. aku sedang menghadiri akad nikah.. Paham kau?” ujar saya.

“Ooo.. kupikir kau sedang menyaksikan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden.. Ma’af kalau begitu..,” katanya. Lantas pembicaraan kami terputus.

Ketika saya masuk ke dalam ruangan. Tausiyah sudah selesai. Saya tak tahu, apakah dalam tausiyah pernikahan tadi, ada juga amsal tentang buras dan apem?

Ferry Mursyidan Baldan yang menjadi saksi nikah hanya menjelaskan, buras lambang ketidak-setiaan, karena bisa berpasangan dengan apa saja (rendang, kalio, coto, sop, dan gulai). Akan halnya apem, simbol kesetiaan, karena terasa lezatnya ketika dikudap dengan parutan kelapa.. |

SENARAI MENTERI

Sebelumnya

Anies Perlu Terus Menulis dan Berpidato

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Imaji Sem