DIBULLY LALU BUNUH DIRI
KOMENTAR

SEORANG  artis gantung diri akibat dari bullyng  yang dia terima.  Namanya Sully. 

Saya pikir dia artis Indonesia, ternyata artis Korea. Saya mencari lebih jauh berita-berita tentang mengapa dia bunuh diri? 

Ketidak sanggupan Sully menghadapi komentar negatif membuat artis itu makin stress.  Lalu melakukan tindakan nekat dengan menggantung dirinya sendiri. 

Bullying itu selalu terjadi pada siapa saja, tak hanya pada artis maupun tokoh politik, kepada orang biasa pun bullying bisa menimpa terutama pada yang berbeda orientasi politik. 

Sebagian  pengguna internet tak mau mengekspresikan preferensinya  bukan karena tak memilikinya.  Tapi perasaan takut dibully, takut dipermalukan,  takut  ditinggal teman, membuat orang-orang tersebut diam dan pasif dalam hal-hal  yang dianggap sensitif.

Para pembully dimedia sosial biasanya bekerja secara keroyokan agar mereka seolah-olah hebat dan membuat orang  lain jiper. 

Para kadal kebon otak dikit yang dungunya seamit-amit seperti para pembenci  Anies Baswedan, jarang sekali mau berdebat secara perorangan, karena mereka tau diri bahwa mereka dungu alias goblok dalam semua hal, terkecuali bacot gede seperti yang ditunjukkan anak muda dari PSI yang getol memamerkan kedunguannya di ruang publik, dan berkali-kali mengalami shock lalu menghapus komentnya sendiri setelah ketahuan datanya salah. 

Jauh sebelumnya mereka-mereka itu berada dalam suasana paling kuasa dan tak ada yang mampu melawan, melalui jaringan Jasmev yang dibangun untuk kampanye,  sebagian besar orang takut dikuliti oleh mereka. 

Di era kekinian keadaan menjadi terbalik, bullying mereka bukan lagi dihindari tapi dilalap dan dilawan dengan data. 
Ketololan dan kegoblokan mereka di tampakan dan dipamerkan berkali kali secara serempak. 

Kini mereka tak lagi menjadi raja bully di sosmed karen selalu dilawan dengan keras dan lugas. 

Sully,  artis Korea yang gantung diri itu juga adalah cerminan dari korban-korban lain, para manusia yang mengambil sikap diam  dan mencari selamat dari bully-an para manusia biadab di sosial media. 
  
Bagi para kaum otak dikit yang dungunya seamit-amit bermental pecundang  beraninya cuma keroyokan karena otak selalu ketinggalan. 

Data gak punya (malas baca), kapasitas otak cuma dikit alias dungu,  mau bicara tentang Jakarta secara mendalam tapi lahir di udik besar di udik, bahkan sungai di Bekasi dan stasiun kereta di Depok pun mereka pikir adanya di Jakarta saking tolol dan gobloknya.  

Lalu mereka mengalami perlawanan secara masif dan frontal dipermalukan dan dibalas secata telak.   Mengakibatkan bully-an  mereka berbalik menyerang kepada mereka sendiri. 

Para pembully itu memang ganas namun keganasan mereka tak akan ada artinya bila dilawan secara total dengan fakta dan data. 

Image yang melekat pada para pembully yang besar kemungkinan menjadi menempel seumur hidup adalah pada dua orang buzzer bernama Abu Janda dan Denny Siregar. Dua nama itu akan selamanya dikenal sebagai orang goblok yang rajin memamerkan kedunguannya di media sosial.  

By: GHC

Reuni 212, Mengukur Kekuatan Oposisi

Sebelumnya

Sampai Kapan Jokowi Jadi Korban Ahok?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Gelitik