Jangan Sampai Terkena Stroke, Baik Pertama Maupun yang Berulang
KOMENTAR

(Dasar pemikiran mantan/penyandang stroke untuk jalan kaki dari Bandung ke Jakarta (25-29 Oktober 2019), dalam rangka Hari Stroke se Dunia 29 Oktober 2019)

Oleh:  Komaruddin Rachmat

STROKE adalah penyakit khas,  karena bukan disebabkan oleh  bakteri ataupun lainnya yang bila kita cukup istirahat dan dikasih obat bisa sembuh. Tapi stroke adalah penyakit yang telah diketahui sebab musabab utamanya yaitu akibat kolesterol dan hypertensi dan perlu perjuangan diri sendiri untuk mengatasinya.
 
Penyakit stroke sekarang telah menjadi penyakit mematikan dan pembunuh nomor satu di Indonesia, sungguh sangat memperihatinkan. Itupun yang terdata di rumah rumah sakit belum lagi yang meninggal di rumah tanpa dibawa ke rumah sakit.

Setiap kali kita kerap mendengar ada orang yang terkena stroke, baik kerabat, teman tetangga dan lainnya, maka setiap kali itu pula kita prihatin dan tapi kemudian melupakannya. Bahkan melupakan bahwa diri sendiri juga memiliki potensi stroke.

Stroke adalah penyakit yang penuh penderitaan lahir dan batin dan bahkan mengerikan. Bayangkan seorang yang pikirannya masih normal, hasratnya masih tinggi tapi menghadapi kenyataan badannya lumpuh sebelah.

Datangnya stroke adalah  tiba tiba tanpa permisi, bisa terserang ketika bangun tidur, bisa ketika sedang menyetir kendaraan di kendaraan umum dan lain lain. 

Waktu pertolongan medis pertamanya harus terukur yaitu tidak boleh lebih dari tiga jam sejak terserang, bila tidak dampaknya akan melebar keseluruh bagian otak lainnya.

Stroke bisa menyerang siapa saja dalam variasi umur, mengingat kehidupan modern yang dipenuhi jenis makanan yang mengandung tinggi kolesterol dan tingkat stress dengan  kegalauan tinggi akibat gaya hidup dan lingkungan yang tidak sehat.

Kejadian stroke adalah ibarat sebuah ruangan yang sedang terang benderang tiba-tiba padam listrik, semua kualitas hidup menjadi  berubah 180 derajat, bahkan ada yang depresi yang kemudian menghantarkannya pada kematian.

Kualitas hidup pribadi, keluarga, bermasyarakatnya langsung berubah 180 derajat, orang orang memandangnya berubah, begitu juga dia melihat dirinya  sendiri dan kepada orang lain

Bulan September 2012 saya terserang stroke dengan diagnosa Haemarogik atau pecah pembuluh darah, setelah pulang dari rumah sakit saya menghadapi kenyataan bahwa saya harus berjuang untuk mengatasi  pasca stroke.

Jari-jari tangan saya menggenggam kaku tidak bisa dibuka, mata serasa pedih dan tidak bisa menelan. Bahu miring kiri secara ekstrim termasuk mulut, tangan kiri terkulai dan bila dicubit tidak terasa alias mati rasa, iga bagian kiri terasa seperti karet tebal dan kaku (untuk cerita bagaimana saya mengatasi pasca  stroke saya akan tuliskan tersendiri dalam kesempatan  moment jalan kaki  Bandung Jakarta ini).

Perlu diketahui, sepertiga orang terserang stroke meninggal dunia, sepertiga cacat permanen dan sepertiganya lagi selamat dengan tingkat pemulihan yang variatif.

Maka diibaratkan saya baru pulang dari tempat mengerikan itu, maka saya ingin menyampaikan pesan moral JANGANLAH SAMPAI DIANTARA KITA TERKENA STROKE!”, karena penyakit stroke membuat penderitaan lahir dan batin dan membuat kualitas hidup menurun tajam.

Aksi jalan kaki saya Bandung-Jakarta ini bukanlah untuk unjuk kekuatan atau ingin mencari poppuleritas murahan, tapi saya hanya ingin menyampaikan pesan dan agar pesan saya ini mendapat perhatian publik. Itu  saja!

1. “Perdulilah pada diri sendiri, jangan mendzolimi (menjahati) diri sendiri antara  lain jangan meminum minuman keras, jangan mengasapi otak terus menerus yg menyebabkan pembuluh darah menjadi kaku dan kering sehingga mudah terserang stroke, jangan gemar memakan makanan-makanan lezat yang menyebabkan kolesterol tinggi, jangan berpikir berat  di luar kapasitas untuk memikulnya”.

2. “Bagi yang sedang berjuang pasca stroke, optimislah karena penyakit pasca stroke bisa dipulihkan, carilah info untuk bagaimana caranya pulih!”. 

3. ”Para pekerja kesehatan bimbinglah pasien stroke/pasca stroke agar mereka bisa menjadi dokter untuk dirinya sendiri, antara lain mereka diajarkan bagamana cara membaca hasil lab dan kiat kiat mengimplemantasikannya”. Dan tidak hanya  sekedar menanyakan keluhan dan kemudian  memberikannya obat”. “Berbuatlah lebih untuk kemanusiaan!”.
 Pasien pasca stroke butuh bimbingan dan kata-kata di tengah kepanikan yang sedang dihadapinya.

4. ”Bagi para pencari peluang dari penyakit stroke, hentikanlah memberikan testimoni testimoni yang tidak jujur berlatar belakang bisnis, karena ketahuilah stroke itu berhubungan dengan medis bukan mitos apalagi hanya sekadar rekaan rekaan  para pencari peluang!”.


Kota Bekasi, 17 Oktober 2019

Ini Cerita Mantan Penderita Stroke yang Sukses Jalan Kaki Bandung-Jakarta

Sebelumnya

Setelah Bogor-Jakarta, Mantan HMI dan Eks Pengidap Stroke Kini Jalan Kaki Bandung-Jakarta

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Kesehatan