Soal Buzzer Bayaran, Hassan Haekal: Apa Salah 212, Apa Salah Anies?
Ustad Hassan Haekal
KOMENTAR

TILIK.id, Jakarta — Indonesia Lawyers Club (ILC) TVOne Selasa malam mengambil tema #buzzer.  Hadir nara sumber Ustads Hassan Haekal, Ali Ngabalin, Menkominfo  Rudiantara, Dahnil Anzar Simanjuntak, Eko Kuntadi dan lainnya, termasuk pimpred Koran Tempo. 

Yang menarik, Ustad Hassan Haekal membawa print out setebal  2 cm berisi serangan-serangan buzzer dengan konten negatif.  Konten-konten itu umumnya menyerang 212, khilafah, HRS,  dan Anies Baswedan. 

“Sampai kapan kita begini.   Kirain waktu acara yang digagas oleh TV One ada perdamaian di mana waktu itu ada Tsamara. Kirain  selesai,  tapi ternyata masih terus beredar bahkan tadi kita dengar ada buzzer  di Istana ada bazar Kertanegara,” katanya. 

Haekal   menegaskan  demi Allah dalan  Islam tidak ada istilah bayaran. Haram hukumnya mengeluarkan  informasi yang menimbulkan mudhorat. Sebaliknya lihat itu di medsos tak henti menyerang 212 dan Anies Baswedan.

 “Untuk contoh-contoh  itu saya dalam waktu satu jam saja sebelum ke sini saya coba print di rumah ternyata segini bundelan yang perlu teman-teman semua ketahui,” kata Hassan memperlihatkan bundel dari medsos.

Ustad Hassan Haekal membacakan beberapa kontrn medsos yang sangat tidak beretika.  Misalnya menyebut  aksi 212  dan  411 yang dianggap murni agama dan jadikan momen angka asik yang dimotori gerakan Islam radikal GNPF MUI. 

“Darimana radikalnya,” kata Ustads Hassan Haekal dengan melanjukan membacakan  lagi serangan-serangan buzzer itu:   “Para penganut khilafah keluar kandang.”  

Ada juga ciutan: “Rizieq terasingkan sendiri sampai meninggal pun di Arab Saudi Indonesia tidak akan rugi”

Kemudian dibacakan juga: “Tuh lihat baju daster Arab jubah identitas sok suci padahal jiwa mereka jiwa penjahat demi memenuhi kebutuhan hegemonis”

Hassan  sengaja mengungkap  konten-konten negatif itu untuk diketahui bahwa yang seperti ini  hanya untuk menghancurkan tatanan demokrasi berbangsa  dan bernegara.  Karenanya Hassan mendesak agar pemerintah  menghentikan semua ini. 

Konten lain: “Makar,  teror,  rampok, itu boleh,  halal bagi mereka.  Ajaran sesat merampok memerintah thogut demi dan untuk pejuang itu halal.” 

Kemudian dibacakan juga: “Yasinan yang merusak.  Coba lihat Ikhwanul Muslimin,  Wahabi, Salafi, khilafah, menguasai jagat kementerian.  Dan lembaga pemerintah pun mereka berselingkuh dengan para mafia koruptor politikus tanpa jiwa.”

 ”Semua  ini, ditulis oleh teman-teman buzzer  yang ya orangnya juga di sini soalnya,” kata Haekal menunjuk Eko Kuntadi yang juga narasumber. 
 
 Dikatakan, sampai kapan ini dibiarkan terus?  Hassan membayangkan  Pilpres selesai semua  sudah selesai.   Kita taat para ayat atiullah wa atiurrasul wa ulil amri. 
 
  “Kita taat sama Jokowi ketika dia dipilih.  Kalaupun kita kritik tapi tetap dalam kerangka ketaatan bagi kita.  Tapi lihat apa yang terjadi? Serangan terhadap 212 dan Anies tidak berhenti. Apa salah 212 apa salah Anies,” katanya. 

 Sementara Menteri  Kominfo Rudiantara  menyatakan  sampai saat ini tidak menemukan referensi tentang  buzzer itu. Meski demikian buzzer nyatanya  sudah menjadi istilah umum, dan semua memahami buzzer adalah pendengung.  
 
 Karena itu, kata Rudiantara, apapun kontennya,  kalau melanggar undang-undang, itulah yang harus  diproses.  (lms

Seruan Presiden Perangi Radikalisme Menstigmatisasi dan Membangun Narasi

Sebelumnya

Ini Sebagian Cacian terhadap Arteria Dahlan di Medsos

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional