Rakyat Tidak Ingin Melengserkan Presiden, Rakyat Hanya Minta Jokowi Mengundurkan Diri
KOMENTAR

Oleh:  Nasrudin Joha 

ADA  narasi berlebih (baca: lebai) yang diproduksi rezim dan partai pendukung. Mereka menuding, ada gerakan yang ingin melengserkan Jokowi. 

Mereka     meminta rakyat mentaati konstitusi. Meminta, semua ditempuh secara konstitusi. Jika ada tindakan pema’zulan, semua ditempuh melalui MPR dengan membawanya ke Mahkamah Konstitusi. Bukan menempuh cara dengan menggelar parlemen jalanan.

Para politisi pendukung rezim ini kurang piknik, kurang baca, kurang mendengar aspirasi rakyat. Saat aksi mujahid 212 bela NKRI, mereka tidak ada yang meminta Jokowi lengser. Mereka juga tidak bicara soal pema’zulan Presiden. Tidak ada.

Tidak ada satupun spanduk, poster, materi orasi, yang menuntut Jokowi lengser. Seruan para demonstran adalah menginginkan Jokowi agar mundur. 

Aspirasi yang menghendaki Jokowi mundur itu juga konstitusional, ada dasar hukumnya, bukan tuntutan liar yang inkonstitusional. Dasar hukumnya adalah Tap MPR RI No. VI/MPR-RI/2001 tahun 2001 tentang ETIKA KEHIDUPAN BERBANGSA.

Dalam Tap MPR ini, diatur pokok-pokok etika kehidupan berbangsa. Dalam bagian etika politik dan pemerintahan, disebutkan bahwa :

”Etika politik dan pemerintahan mengandung misi kepada setiap pejabat dan elite  politik untuk bersikap jujur, amanah, sportif, siap melayani, berjiwa besar, memiliki keteladanan, rendah hari dan  siap mundur dari jabatan politik apabila terbukti melakukan kesalahan dan secara moral kebijakannya bertentangan dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat.”. 

”Etika ini diwujudkan dalam sikap yang bertatakrama dalam perilaku politik yang toleran,  tidak berpura-pura, tidak arogan, jauh dari sikap munafik serta tidak melakukan kebohongan publik, tidak manipulatif, dan tindakan tidak terpuji lainnya.”

Dalam memimpin pemerintahan, Jokowi dikenal sering berpura-pura, arogan, sikap munafik serta melakukan kebohongan publik, manipulatif, dan tindakan tidak terpuji lainnya.

Misalnya, Jokowi sering berpura-pura menggunakan pakaian adat dari suku yang berbeda-beda. Padahal, Jokowi itu suku Jawa. Tapi dia sering berpura-pura menggunakan pakaian adat yang berbeda-beda. 

Jokowi juga arogan. Di saat terjadi bencana gempa di NTB, di Palu, di Banten, Jokowi bukannya ikut prihatin malah sibuk selfie  di lokasi bencana. Saat terjadi kebakaran hutan dan lahan, Jokowi juga secara arogan sibuk pamer selfie dit engah kegetiran perasaan rakyat.

Jokowi juga arogan, sibuk ngevlog dengan Jan Ethes saat warga Riau sesak dadanya karena asap. Bahkan, Jokowi begitu arogan, bersepeda santai dengan Iriana di istana Bogor, padahal rakyat di Mimika Papua sedang menjadi korban pembantaian.

Jokowi juga menebar kebohongan publik. Dalam sebuah video yang beredar viral, saat mengomentari korban mahasiswa, Jokowi menyebut Kendari berada di Sulawesi Tengah. Ini kebohongan publik!  Sejak kapan Kendari pindah ke Sulawesi Tengah ?

Jokowi juga dikenal munafik, tukang bohong. Diantara ciri munafik itu jika berjanji dia ingkar. 66 janji Jokowi hingga saat ini terus diingkari. Janji rupiah 10.000, janji Buy Back Indosat, janji pertumbuhan 7 %, janji tidak akan ngutang, dan masih banyak lagi.

Jadi, karena Jokowi tak beretika politik dalam menjalankan pemerintahan, tidak salah jika rakyat meminta Jokowi mundur. Seperti di Jepang, perdana menteri Jepang itu biasa mundur hanya karena satu kesalahan. Ini Jokowi, kesalahannya tidak terhitung lagi. 

Jadi sekali lagi, tak ada rakyat yang ingin melengserkan Jokowi, tidak ada juga yang mau menggagalkan pelantikan Jokowi. Panglima TNI tidak usah lebai, menyebut akan berdiri di garda terdepan melawan pihak yang ingin menggagalkan pelantikan. Atasi OPM di Papua, itu lebih penting ketimbang sesumbar tidak karuan.

Saya luruskan: Rakyat Itu Hanya Ingin Jokowi Mundur. Itu Saja. Tidak Lebih Tidak Kurang.   

Geisz: Mereka Ingin Meng-Anas-kan Anies

Sebelumnya

Tulisan Mochamad Toha Kembali Viral dan Jadi Polemik

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Politik