Anies Perlu Terus Menulis dan Berpidato
KOMENTAR

Bang Sém

SAYA  masih berjalan di lintasan Hutan Kota pada pagi yang berdebu, ketika telepon bimbit (seluler) saya bergetar.  Ternyata telepon dari Palui.

Setelah basa-basi ala kadar menanyakan Bung Karmin, sahabat lama, mantan aktivis mahasiswa yang sempat menjadi saudagar percetakan stensil dan offset, yang sangat peduli pada pergerakan, dia bicara soal lain.

Dia bicara tentang Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta. Keduanya memang sangat lama tak pernah berkomunikasi apalagi bertemu.

“Kalau jumpa Gubernur Anies.. salam ya.. Teman-teman di Aceh dan di tanah Melayu sini, mengapresiasi kiprah dia. Anies pemimpin masa depan yang sedang ditempa Tuhan dengan cara yang tak biasa,” ujar Palui.

“Saya dengar, Anies makin gencar diserang para kabouter ya?” tanya Palui.

“Apa? Kabouter? Apa itu?” tanya saya.

“Kau macam tak tahu aja.. Jembalang!” serunya.

Saya ngakak. Maksud dia, Anies tak henti diserang para siluman yang bersublimasi, meminjam manusia sebagai cangkang untuk menebar aneka kebencian dan fitnah. Termasuk kaum terdidik yang kehilangan integritas diri menjadi buzzer atawa pendengung hasad, hasud dan kedengkian.

“Ya.. begitulah! Mereka seolah-olah mengkritik Anies. Padahal, yang mereka lakukan adalah menciptakan opini, memanipulasi dan membolak-balik fakta, sekaligus menebar jebakan fantasi wadul dan bebal mereka,” kata saya.

“Orang baik selalu menjadi sasaran para jembalang. Tapi selalu tahu piring dan majikan para jembalang itu,” ujar Palui.

Palui ingin mengatakan, banyak kalangan dengan beragam kepentingannya, memelihara para buzzer dan kelompok orang yang hidup dengan cara lancung untuk menyerang Anies. Terutama, karena kebijakan-kebijakan Anies yang mendahulukan kepentingan rakyat.

“Sejak dilantik sebagai Gubernur, Anies sudah menyatakan sikap, bahwa dia dipilih oleh rakyat dan harus mengabdi kepada rakyat. Artinya, selain dia musti bicara dengan para wakil rakyat di DPRD, dia juga musti bicara langsung dengan rakyat,” cetus Palui.

Palui mengaku selalu mengikuti tulisan Anies di akun instagram-nya. Sekali-sekala dia juga menyimak pernyataan videotik Anies di youtube, yang dijadikan alasan oleh para jembalang, bahwa Anies terlalu gemar berpidato. Para jembalang rungsing karena menyaksikan realitas, sebagian terbesar warga Jakarta terbuai oleh pidato Anies.

“Mereka sibuk mencermati tulisan dan pidato Anies, dan lupa bahwa Anies itu tigre à puce, harimau tangkas, yang paham momen, kapan mesti diam, kapan mesti mengaum, dan kapan pula mesti menerkam,” jelas Palui.

Saya diam dan menyimak omongan Palui.

“Ketika kefasihan Anies mengartikulasikan gagasannya terhambat oleh ruang media yang sempit, Anies harus terus menulis dan berpidato,” kata Palui.

“Ketika kinerja baik Anies mewujudkan gagasan yang mengalir di setiap rencana pembangunan kota terhambat oleh serangan para jembalang berbayar, Anies harus terus menulis dan berpidato,” lanjut Palui.

Palui juga mengatakan, “Ketika kesadaran dan antusiasme Anies mewujudkan simpati dan empatinya kepada rakyat, serta apresiasinya kepada aparatusnya di pemerintahan dihadang oleh manipulasi fakta, Anies harus terus menulis dan berpidato.”

“Ah.. agenda tugas dan kewajiban dia sebagai Gubernur kan berjibun.. menulis dan berpidato kan bukan pekerjaan utama seorang Gubernur?” ungkap saya.

Palui merespon cepat dan bicara secara aksentuatif. “Kau jangan ikut-ikutan bebal macam jembalang. Menulis dan berpidato itu bagian dari tugas dan kewajiban utama Anies sebagai pemimpin, karena terlalu banyak pemimpin yang tak mampu melakukannya,” ungkap Palui.

Salah satu tugas utama pemimpin pemerintahan adalah berkomunikasi cerdas dengan rakyat, menyampaikan gagasannya sebagai wujud interaksi dia dengan rakyat yang memilihnya. “Tulisan dan pidato yang jernih, jelas, dan terang benderang, adalah  kefasihan komunikasi. Di situlah salah satu tugas utama pemimpin mewujud,” ujarnya.

“Apa itu?” tanya saya.

“Mendidik rakyat, supaya rakyat cerdas dan mampu berpartisipasi kritis dalam proses pembangunan. Mendidik rakyat terintegrasi dalam tugas Gubernur memimpin penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pemberdayaan rakyat. Paham kau?” sambar Palui.

Saya kian serius menyimak, ketika Palui mengatakan, sebuah bangsa, negara atau suatu masyarakat, akan mengalami degradasi kefasihan merespon perubahan zaman, ketika para pemimpinnya abai mendidik rakyat.

“Terutama, karena mereka tidak mampu dan tidak mau mengartikulasi gagasan dan visi akselerasi kepemimpinannya sendiri. Akibatnya,  narasi dan diksi yang disampaikannya menjadi cemplang dan ampang,” tugas Palui, seraya mengakhiri percakapan.

“Bilang pada Anies, teruslah menulis dan berpidato.” |

PERAHU KAHMI

Sebelumnya

Bangsa yang Terlambat

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Imaji Sem

SELASIH

SELASIH