Bangsa yang Terlambat
Bang Sem
KOMENTAR

Oleh: Bang Sém

SAYA  sedang duduk mencangkung di pojokan Benteng Spilwijk - Banten Lama, tak begitu jauh dari Vihara Avalokitesvara, beberapa hasta dari Masjid Agung Banten, Sabtu (14/9/19) lepas Ashar, ketika Palui tiba-tiba menelepon.

“Posisi di mana?” tanya saya, menirukan kebiasaan sahabat saya, Ade Adam Noch, setiap kali menelepon saya.

“Aku di tepian pantai Rambah, tak jauh dari Teluk Karang. Menikmati asap yang merambah ke sini dan membuat sejumlah sekolah tutup sementara sampai pemerintah Malaysia dan Indonesia mengatasi sumber asap, itu,” ujarnya.

“Owh.. sejak kapan tiba di Johor?”

“Sejak Kamis lalu,” jawab Palui.

Dia mengungkapkan duka atas wafatnya Presiden BJ Habibie yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (12/9/19).

“Kubaca beberapa artikelmu. Ya.. kita kehilangan sosok pemimpin demokratis, kitab peradaban bangsa yang nyaris tak pernah kita baca, kemudian kita lecehkan. Kemudian kita puja ketika beliau berpulang kembali ke haribaan Allah, Al Khaliq, Al Mulq, yang telah mencipta-Nya dan menjadikannya salah satu teladan, bagaimana mesti memperlakukan kekuasaan,” jelas Palui.

Saya menyimak dengan takdzim apa yang dikemukakan Palui. “Ketika Pak Habibie menjabat Menteri Riset dan Teknologi, bangsa kita telah meneliti dan menemukan cara mengatasi kebakaran hutan dan lahan, sumber asap,” katanya. 

“Bahkan ketika bangsa kita genap berusia separuh abad, beliau berhasil mempersembahkan Tetuko, menandai kehebatan bangsa kita di jagad dirgantara,” lanjutnya.

“Tapi, pragmatisme politik dan kegagapan kita ketika memilih jalan perubahan bangsa, reformasi, telah menafikan gagasan visionernya tentang bangsa ini. Bapak Demokrasi itu, itu dimakan oleh politisi yang meraba demokrasi dalam gelap,” lanjutnya.

“Bapak demokrasi?” tanya saya.

“Ya.. Bapak demokrasi.. di tangan BJ Habibie, ketika menjabat Presiden Republik Indonesia ketiga itulah, pintu demokrasi itu terbuka luas, dan kita menikmatinya dengan cara yang tidak demokratis, separuh demokratis, dan bahkan kurang demokratis. Bahkan sampai kini,” lanjut Palui.

Lantas dia katakan, sepanjang sejarah Republik Indonesia, Presiden BJ Habibie orang pertama yang tak pernah membubarkan partai politik, tidak pula berinisiatif menggerakkan institusi negara melakukan hal yang bertentangan dengan prinsip dasar demokrasi.

“Kalau jumpa dengan para anggota DPR/MPR yang akan dilantik bulan depan, usulkan kepada mereka supaya MPR RI, memberikan penghargaan khas kepada allahyarham sebagai Bapak Demokrasi,” ungkapnya.

“Tidak terlambat?”

“Ah.. pertanyaanmu tak relevan. Belakangan hari, bangsa kita memang bangsa yang terlambat dalam mengapresiasi kinerja siapa saja. Terutama, karena terlalu banyak orang yang tak suka menghargai orang lain. Terutama penghargaan substantif. Kita menunggu orang-orang hebat negeri ini wafat, untuk memberikan penghargaan,” jawabnya sambil terkekeh.  “Kan kita sudah terbiasa dengan kilah, tak apa terlambat daripada tidak sama-sekali.

“Kudengar, esok organisasi wartawan akan menabalkan beliau sebagai Bapak Kemerdekaan Pers Indonesia,” ungkap saya.

“Bagus. Tak apa terlambat. Masih relevan.., terutama ketika kita sewdang harus memikirkan ulang pemahaman tentang kemerdekaan pers, itu. Apalagi, ketika secara institusional, beberapa kalangan di lingkungan pers, sedang berperan sebagai Pak Turut dan Mak Turut dalam lakon “Ujung Pena yang Patah,” di panggung post trust society,” ujarnya.

Saya dengar Palui tertawa. Saya juga ikut tertawa.

“Kenapa kau tertawa? Kenapa pula tawamu terdengar kering?” tanya Palui.

“Ini tawa musim kemarau. Seperti tawamu sejak beberapa masa terakhir... saat kau merasa, tak lagi bisa menanam harapan di tanah airmu sendiri,” ungkap saya.

“Ya.. karena bukan Machiavellian, saya tidak dapat mengikuti arus begitu banyak manusia, termasuk yang mengkhianati dan menikam (meski kawan seiring) Presiden BJ Habibie. Saya juga tak akan bisa hidup di tengah pusaran kaum Machiavellian yang sibuk melestarikan kekuasaan, bahkan dengan cara menikam visi-nya sendiri,” ujar Palui, serius.

Saya biarkan dia bicara dan asyik menyimak ungkapannya ihwal Machiavellian, yang getun melahap gagasan Machiavelli, bahwa rezim terbaik yang melaksanakan prinsip-prinsip kemerdekaan dan berkhidmat kepada rakyat, adalah utopia. Dalam situasi demikian, manusia tak akan pernah beroleh fungsi sebagaimana harusnya, karena manusia lain, hanya harus diposisikan sebagai ‘apa adanya.’

Kaum Machiavellian menganut pemikiran Machiavelli, bahwa di setiap republik ada dua suasana hati: satu untuk rakyat dan yang lain untuk penguasa. Rakyat tak pernah berhenti berjuang mencapai kemerdekaan hakikinya untuk mewujudkan cita-cita mereka, beroleh keadilan proporsional. Tapi, penguasa senantiasa berfikir, bersikap, dan bertindak mengambil banyak cita-cita itu dan mengubahnya menjadi aksi mendominasi.

Tak sesiapapun, kecuali dirinya sendiri, kata Palui, boleh menawarkan gagasan keberpihakan kepada aspirasi rakyat. Karenanya, siapapun yang sedang berkuasa, cenderung tidak menyukai gagasan tentang berbagi potensi dan kekuatan, karena orang lain juga mempunyai kekuatan. Sebaliknya, setiap orang yang berpotensi dan mempunyai daya kekuatan harus dicurigai dan dimarginalisasi, karena hasrat mereka, bila dibiarkan, akan menimbulkan hasrat membalas dendam.

Kata Palui, Presiden BJ Habibie berjarak dengan pemikiran Machiavelli, itu. Sebagai cendekiawan, ia cenderung seirama dengan gagasan Montesquieu yang berkomitmen mereformasi tatanan politik. Sekaligus menyadari, bahwa reformasi merupakan jalan dan cara perubahan yang melelahkan. Dalam kelelahan itu, banyak orang kuatir dan sesuka hati menerjemahkan reformasi, dan terlena kala reformasi sudah berubah menjadi deformasi.

“Terutama ketika muncul para pangeran atau puteri ‘kekuasaan politik’ yang hendak mengubah sistem, dan menganggap,  kebajikan moral dan budaya politik hanya akan menyebabkan harapan sang pangeran dan sang putri kekuasaan, berantakan. Karena itu, moralitas, mesti diletakkan di luar praktik politik yang pragmatis,” ungkap Palui.

“Itulah yang membuat bangsa kita menjadi bangsa yang terlambat dalam membangun kesadaran, antusiasme, simpati, empati, apresiasi, respek, dan cinta kepada anak-anak bangsa yang berkontribusi besar dalam proses perubahan penambah-baikan kualitas kebangsaan,” lanjutnya.

Saya terlongong, memandang ke arah pantai, ketika Palui pamit, menghentikan pembicaraan, sambil terbatuk-batuk. Mungkin, asap di tepian Selat Melaka, itu sudah terlampau pengap ! |

Anies Perlu Terus Menulis dan Berpidato

Sebelumnya

PERAHU KAHMI

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Imaji Sem

SELASIH

SELASIH