Soal Polemik KPK, Geisz Sebut Tulisan Denny Siregar Asbun
Denny Siregar (kiri) dan Geisz Chalifah
KOMENTAR

TILIK.id, Jakarta —  Sebuah tulisan Denny Siregar terkait polemik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendapat beragam reaksi. Ada yang menjadikannya referensi untuk berdebat di medsos. Namun lebih banyak lagi menyebut sebagai ngawur, asbun, tidak substantif, bahkan melanggengkan kedunguan.

Seperti kata mantan aktivis HMI cabang Jakarta Geisz Chalifah.  Geisz dalam catatannya mengatakan, sudah sejak awal kemunculannya Denny Siregar dengan segala kedunguannya hanya menjadi pemicu kontroversi tanpa pernah memiliki subtansi. 

“Kedunguan Denny Siregar yang telah mentok di panggung ILC kini semakin parah,” kata Geisz dalam catatannya yang dibagikan di medsos.

Menurut Geisz, ricuh KPK adalah persoalan subtansial tentang revisi Undang-undang KPK dan terpilihnya komisioner baru yang bermasalah. 
Namun bukan dua persoalan itu yang dianalisa (itupun kalau dia memiliki daya analisa.)  oleh Denny. 

Namun Denny Siregar menyoroti soal lain yang tak ada hubungannya dengan pemberantasan korupsi.  Akan tetapi dia menyoroti  radikalisme di tubuh KPK yang tak jelas rujukannnya. 

Dan seperti biasa, kata Geisz, kedunguan Denny Siregar diikuti dengan pasukan dungunya lainnya di medsos yang sama maksimalnya dalam lomba adu tolol di ruang media sosial. 

“Apa relevansinya antara pemberantasan korupsi dengan radikalisme. Denny  hanya mencoba menutupi kasus yang sesungguhnya yaitu pelemahan KPK secara  terang-benderang bahkan para aktifis anti korupsi sudah mengatakan Innalilahi Wa InnaIlaihi rojiun pada KPK,” kata Geisz. 

Dilanjutkan, beberapa Komisioner KPK telah mengembalikan mandat pada Presiden Jokowi sebagai protes terhadap RUU KPK dan Komisioner terpilih  yang penuh kontroversi.

“Apakah para komisioner itu termasuk kaum radikal Islam yang di dalamnya bahkan ada yang non muslim?” kata Geisz mempertanyakan. 

Namun Kaum Otak Dikit, istilah Geisz untuk pendukung rezim,  mana pernah pula menggunakan nalar, mereka menyatu dengan Denny Siregar untuk mengeruhkan persoalan dengan hal-hal yang tak berhubungan sama sekali, semata-mata hanya melampiaskan kebencian pada umat Islam yang berbeda orientasi politik. 

“Walaupun dengan serta merta mempertontonkan kedunguan maksimal di publik,” katanya. 

Berikut tulisan utuh  Geisz Chalifah merespons  tulisan Denny Siregar:

KPK Dalam Kaca Mata Dungu Denny Siregar

Geisz Chalifah

Sudah sejak awal kemunculannya Denny Siregar dengan segala kedunguannya hanya menjadi pemicu kontroversi tanpa pernah memiliki subtansi. 

Kedunguan Denny Siregar yang telah mentok dipanggung ILC kini semakin parah. 

Ricuh KPK adalah persoalan subtansial tentang revisi Undang-undang KPK dan terpilihnya komisioner baru yang bermasalah. 

Namun bukan dua persoalan itu yang dianalisa (itupun kalau dia memiliki daya analisa.)  Namun Denny Siregar menyoroti soal lain yang tak ada hubungannya dengan pemberantasan korupsi akan tetapi dia menyoroti  radikalisme ditubuh KPK yang tak jelas rujukannnya. Dan seperti biasa kedunguan Denny Siregar dikuti dengan pasukan dungunya lainnya dimedsos yang sama maksimalnya dalam lomba adu tolol diruang media sosial. 

Apa relevansinya antara pemberantasan korupsi dengan radikalisme. Denny  hanya mencoba menutupi kasus yang sesungguhnya yaitu pelemahan KPK secara  terang benderang bahkan para aktifis anti korupsi sudah mengatakan Innalilahi Wa InnaIlaihi rojiun pada KPK. 

Beberapa Komisioner KPK telah mengembalikan mandat pada Presiden Jokowi sebagai protes terhadap RUU KPK dan Komisioner terpilih  yang penuh kontroversi, apakah para komisioner itu termasuk kaum radikal islam yang didalamnya bahkan ada yang non muslim. 

Namun Kaum Otak Dikit mana pernah pula menggunakan nalar, mereka menyatu dengan Denny Siregar untuk mengeruhkan persoalan dengan hal-hal yang tak berhubungan sama sekali, semata - mata hanya melampiaskan kebencian pada umat islam yang berbeda orientasi politik. Walaupun dengan serta merta mempertontonkan kedunguan maksimal diruang publik.

(lms)

Seruan Presiden Perangi Radikalisme Menstigmatisasi dan Membangun Narasi

Sebelumnya

Ini Sebagian Cacian terhadap Arteria Dahlan di Medsos

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional