SELASIH
Bang Sem
KOMENTAR

Oleh: Bang Sém

SAYA duduk di kursi taman, di luar pagar Stadion Utama - Gelanggang Olahraga Bung Karno, Senayan Jakarta. Malam merambat.

Saya menikmati lantunan suara Alfin Habib dan Maya, mendendangkan lagu Selasih dalam pergelaran Jakarta Melayu Festival (JMF) 2019, yang tautannya dikirim Geisz Chalifah, produser JMF, sekaligus maesenas musik melayu terdepan saat ini.

Alfin dan Maya mendendangkan dengan alunan dan cengkok yang pas. String biola Henri Lamiri dan accordeon Butong, yang mengiringi keduanya, mengirim pesan pedih. Harapan yang tiba di batasnya.

Lirik lagu ini, ekspresi seorang pecinta yang luar biasa. Sederhana dalam memilih kata, tapi dalam pesannya.

Saya terpaku dengan ulasan Geisz di pengantar pesan whatsapp-nya. Dia memberi narasi pada dua larik di bait pertama dan kedua lagu itu:..

Kutanamkan di hujung halaman/Mengenangkan kasih, wahai sayang... //.

“Diujung halaman, di batas akhir dari sebuah ruang yang tak ada lagi ruang untuk melewatinya, di ujung halaman, batas akhir dari segala pengharapan,” tulis Geisz.

Sejak muda saya suka lagu ini. Acap kumpul dengan kerabat dan sahabatnya, allahyarham ibu saya, selalu memperdengarkan lagu ini. Adik saya dan saya, acap mendengar lagu ini, selalu ‘hanyut’ dalam pedih renjana.

Lagu ini dipopulerkan oleh Ahmad Jaiz dan Rafeah Buang dengan beat langgam Melayu lama.

Kutanam selasih
Kutanamkan di hujung halaman
Mengenangkan kasih wahai sayang
Yang aku tinggalkan
 
Kusiram selasih
Kusiramkan di hujung halaman
Mengenangkan kasih wahai sayang
Lambang percintaan
 
Hai kencana dewi kasih yang kurindu
Kukenang selalu
 
Sayang semoga tak kan layu
Cinta yang sejati kekal dan abadi
 
Hai cendana dewi kau tetap kukenang
Janganlah kau bimbang
 
Sayang kau tetap kan pulang
Di sisiku sayang membawa harapan

 
Malam ini, kala menyimak dan mendengar lagu ini, yang terbayang adalah wajah Palui. Ya.. Palui, yang seperti narasi Geisz, sudah berada di batas akhir segala pengharapannya di negeri ini. Satu-satunya pengharapan Palui, adalah tanah rantauan, tempat harapan memanggil-manggil, seolah suara Maya yang melantun larik, “Sayang.. kau tetap kan pulang / Di sisiku sayang, membawa harapan.”

Saya kontak Palui. Tak ada respon. Di akun WA-nya hanya tertulis status, “gelap!”

Semalam saya tak bisa tidur. Wajah Palui terus membayang. Bahkan Palui masuk ke dalam mimpi saya, sedang melangkah di jalan panjang nyaris tak berujung. Jalan konsistensi atas komitmen idealisme dengan segala konsekuensinya.

Seperti Selasih yang selalu konsisten atas komitmennya kepada Melur dan tak pernah tergoda oleh pesona Seroja yang melambung menjadi Bunga Nirwana. Karenanya, Palui juga konsisten dengan suara batinnya yang dalam.

Kusiram selasih
Kusiramkan di hujung halaman
Mengenangkan kasih wahai sayang
Lambang percintaan

 
Merawat cinta kepada negeri dan bangsa, merawat cinta yang kini hanya ada dalam cita-cita. Menahan pedih dan luka, untuk mempertahankan muru’ah, houd, yang di dalamnya tersimpan nation dignity.

Tapi negeri yang dicintainya, kini hanyalah Kencana Dewi yang tak lagi dirinduinya. Hanya kekasih yang boleh dikenangkan dalam catatan-catatan renjana.

Saya berjalan meninggalkan kursi taman itu. Saya melangkah persis di belakang patung Bung Karno yang menghadap gedung pencakar langit, berporos langsung dengan gedung sebuah bank milik negara dan kantor pajak. Ketika menoleh agak ke kanan, saya melihat nama bank swasta milik nasional yang sudah berubah nama, dan menjadi milik saudagar dari jiran.

Saya membayangkan sedang berjalan dengan Palui, seperti biasa, sambil menyimak gagasan-gagasan dan pikiran-pikirannya.

Suatu ketika di kesal dan marah, ketika saya katakan, zaman sudah berubah, idealisme simpan saja dulu di lemari kamar tidur. Zaman kini adalah zaman realisme. Rumus hidup kebanyakan manusia, apalagi para mantan aktivis dan politisi , sebagian besar adalah pragmatisme yang berujung transaksionalisma.

“Ini abad dua satu, bukan abad delapan belas atau abad sembilan belas. Idealisme kini adalah idealisme komersialistik,” kata saya.

Saya suka melihat Palui kesal dan marah. Karena kekesalan dan kemarahannya, akan memantik pikiran-pikiran referensialnya.

Ketika itu Palui mengatakan pada saya, ketika manusia sibuk dengan simbol-simbol, saat menjalankan realitas politik, sosial, ekonomi, budaya dan agama, maka ketika itu idealisme terlahir kembali. Lantas dia bercerita ihwal tesis Alain Mercier adalah Édouard Schuré soal kebangkitan idealisme di Eropa yang berujung pada pembaruan idealisme pada akhir abad ke-19.

Palui berusaha mempertahankan idealisme dan melihat realisme kini yang berlaku di banyak negeri, termasuk negeri yang dilahirkan oleh idealisme para pejuangnya, ini sebagai antitesa dari idealisme.

Lantas dia menukil kisah madame Bouvary dalam sastra Perancis yang menggugat romantisme, tetapi Stendhal, Balzac dan Sainte-Beuve justru menganjurkan menyuburkan romantisme.. karena dari situ, kemudian kita merayakan narasi dan diksi yang esensial dalam proses komunikasi kehidupan sehari-hari. Kendati akhirnya Palui mengakui, bahwa kini simbol-simbol kekuasaan telah dikendalikan oleh kepandiran, sehingga lebih banyak melahirkan hoax, fitan, dan kejahatan saiber.

Itulah yang kemudian jelma dalam realisme yang tampak pad K-Pop dan Dangdut Pantura. Ah.. kalau saja saat ini Palui ada bersama saya, akan saya pelihatkan kepadanya pesona Alfin dan Maya mendendangkan Selasih, yang mempertemukan idealisme dengan realisme.

Alfin dan maya berdendang mempesona di atas panggung yang, seolah sedang mempertemukan kecerdasan, kearifan, dan kefasihan dan romantisme dengan generasi baru. Pertemuan di atas panggung yang juga menghadirkan sukacita reggae, dengan teknologi mutakhir.

Sayang.. Palui tak bisa saya hubungi. Mungkin listrik di rumahnya sudah diputus PLN dan tak ada sambungan internet, ketika sedang mengemas pakaian ke dalam kopor.. | Bintaro, 10.9.19

Bangsa yang Terlambat

Sebelumnya

Presiden BJ Habibie dan Pelajaran Demokrasi dari Kalibata

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Imaji Sem

MARAH

MARAH