Renjana di Gelap Malam
Bang Sem
KOMENTAR

Oleh: Bang Sém

LELAKI itu duduk di sudut kafe. Malam baru saja tiba. Saya panggil dia Palui. Tentu, karena usianya sudah baya.

Dia sahabat lama. Sahabat ketika masih menjadi aktivis kampus tahun 70-an. Salah seorang kolomnis produktif di masanya.

Belakangan juga masih sering menulis di berbagai media lokal. Dia sempat membuat portal.

Belakangan tak jalan, karena tak ada yang pasang iklan. Kontrak-kontraknya sebagai konsultan komunikasi di beberapa badan usaha milik negara tak lagi diperpanjang.

Palui tak menyerah. Perlahan, para juruwarta yang bergabung dengannya, hengkang dan bergabung di berbagai media lain.

Dia terima saja realitas. Dia berpegang pada prinsipnya, meski hanya seorang diri, dia lakoni saja.

Baginya, yang penting adalah bagaimana konsisten dan konsekuen dengan sikapnya. Karena itulah jatidiri seorang jurnalis, sekaligus aktivis.

Satu dua kolega, membantunya, sehingga dalam segala keterbatasan, dia masih bisa terus menyampaikan pemikirannya kepada khalayak.

Apalagi dia juga sempat diundang ke dua universitas di luar negeri, selain tiga lembaga pendidikan di dalam negeri. Honor dia mengajar di luar negeri, lumayan, bisa bikin dia bertahan di dalam negeri beberapa bulan.

Honornya mengajar di dalam negeri, cukup membuat dia senang, bisa menikmati keindahan pulau Jawa dengan kereta api.

Malam itu, ketika saya jumpai, Palui sedang gelisah. Dia mesti mempertimbangkan tawaran untuk menjadi pengajar tetap di dua kampus yang sering mengundangnya sebagai pengajar tamu.

“Menghadapi resesi yang akan berkunjung ke negeri ini, kemungkinan besar saya harus hijrah, jadi TKI,” katanya. Lantas menghirup kopi di depannya.

“Apa tak sebaiknya bertahan dulu? Bukankah di balik kesulitan selalu ada inspirasi untuk beroleh solusi?” tanya saya.

Palui tersenyum. “Kau benar! Saya yakini, itu karena begitulah Allah mengajarkan. Tapi, bukankah Allah juga mengharuskan kita menciptakan kondisi.. Bukankah Allah memandu rasulnya, Muhammad, untuk melakukan hijrah fisik, selain hijrah spiritual untuk memperjuangkan sikap dan integritasnya?”

Saya terdiam. Saya pandangi wajah Palui. Dia memandang saya dengan tatapan yang sayu, tak seperti biasanya.

“Saya harus hidup dan perlu tempat yang memungkinkan saya hidup dengan integritas dan mampu memelihara independensi dan idealisme saya,” tuturnya.

“Apa di sini tak ada?” tanya saya.

Palui menggeleng. “Sepanjang hidup saya, lima tahun terakhir ini, saya merasa diperlukan di negeri lain,” katanya.

“Coba renungkan ulang. Bukankah perhatian dan spirit teman-teman di sini menunjukkan, masa ada harapan di sini?” ujar saya.

“Betul.. Saya berterima kasih dengan semua teman, yang berjelas-jelas atau sembunyi-sembunyi membantu saya. Dari mereka juga saya beroleh banyak inspirasi untuk melahirkan begitu banyak gagasan. Satu buku saya yang baru rampung, terlahir dari interaksi dengan teman-teman,” ungkapnya.

“Lantas.. kenapa harus melanglang ke negeri orang?” sambung saya.

“Situasi saya berbeda dengan teman-teman. Saya tak bisa bergantung dengan simpati dan empati mereka, meskipun saya merasakan hal itu merupakan sesuatu yang harus disyukuri,” balasnya.

“Lantas, apa hal yang membuatmu bimbang dan memandang tawaran di negeri orang menjadi solusi pertama dan utama?” desak saya.

“Itulah.. Ini soal kemanfaatan diri di hari senja. Apa yang saya rasakan selama ini adalah, saya lebih bermanfaat di negeri orang., daripada di sini. Ada ironi-ironi getir yang sulit dipahami,” ujarnya.

“Apa itu?” timpal saya.

“Saya banyak berfikir sesuatu dalam skala yang besar. Berfikir tentang bagaimana bangsa ini mesti bertransformasi. Saya berfikir, bagaimana membantu sejumlah kolega yang sedang mengemban amanah menjangkau momen kesuksesan dengan integritasnya. Untuk itu, saya terus gigih memperjuangkan gagasan dan keyakinan atas esensi perjuangan, itu. Tapi, semua yang besar-besar itu tak berkutik, ketika saluran internet dan listrik diputus karena tertunda melunasi tagihannya..,” ujarnya, kemudian tertawa getir.

Saya rasakan kegetiran dari tawanya.

“Hal itu tak pernah saya rasakan ketika saya bekerja di negeri orang. Saya tak pernah memikirkan soal ancaman saluran listrik dan internet yang mati. Saya tak pernah berhadapan dengan itu, karena selalu ada yang mengurusnya, dan standby. Di sini, saya mesti urus hal-hal semacam itu sendiri. Di sini, saya hanya seorang pandir yang tak berdaya... Tentu ini salah saya,” katanya.

“Salah apa?

“Saya tak pernah belajar bernegosiasi dengan situasi, termasuk situasi politik. Saya tidak belajar menjadi oportunis, yang mendahulukan personal profit, katimbang idealisme,” ujarnya. Lagi, dia tertawa getir.

Saya ikut tersenyum hampa. Saya melihat, Palui adalah sosok mantan aktivis yang berguna di negeri orang, dan kemudian menyesal ketika pulang ke tanah airnya sendiri.

Ketidakmampuan bernegosiasi dengan situasi, sebagai bagian dari cara menciptakan kondisi, keukeuh dengan idealisme dan sikap, menjadi hambatan di tengah pusaran pragmatisme dan transaksionalisme.

“Jadi.. kapan kau akan pergi?” tanya saya.

“Pekan depan..” jawabnya.

“Berapa lama?” tanya saya lagi.

“ Untuk waktu yang sangat lama,” jawabnya.

Palui memandang saya. Sorot matanya mengirim renjana di remang malam.. |

Bangsa yang Terlambat

Sebelumnya

Presiden BJ Habibie dan Pelajaran Demokrasi dari Kalibata

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Imaji Sem

SELASIH

SELASIH

MARAH

MARAH