Ini Pesan Keadilan Anies Baswedan lewat Konser Jakarta Melayu Festival
Gubernur DKI Anies Baswedan (batik putih) di acar JMF Sabtu malam
KOMENTAR

TILIK.id, Jakarta — Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mendapat kesempatan berpidato di acara konser musik bertajuk Jakarta Melayu Festival (JMF) ke-9 Sabtu malam (17/8/2019) di Ancol Beach City Taman Impian Jaya Ancol. Kesempatan itu digunakannya menyampaikan pesan kerakyatan pas di hari Kemerdekaan tersebut. 

Hadir menyaksikan konser Ancol 9th JMF itu sejumlah tokoh nasional  alumni HMI seperti Ferry Mursyidan Baldan, Syamsuddin Ch Haesy, Koodinator Presidium MN FORHATI Hj Hanifah Husein, dan dua tamu istimewa dari Kerajaan Kelantan Selangor Malaysia. 

“Kalau kita memperingati 17 Agustus 1945 atau 74 tahun lalu, ada pesan penting yang harus digarisbawahi. Merdeka bukan sekadar menggulung kolonialisme. Merdeka adalah menggelar keadilan dan kesejahteraan  bagi seluruh rakyat Indonesia,” katanya. 

Kita tahu kolonialisme tidak adil, karena itu kita memilih merdeka. Kita menolak kolonialisme karena di sana ada ketidakadilan. Karena itu setelah kita merdeka yang harus kita hadirkan adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 

“Di Jakarta ini yang sedang kita ikhtiarkan. Kita tidak ingin kota ini justru menjadi simbol ketidakadilan. Di kota ini sumpah pemuda dikumandangkan, di kota ini proklamasi  dikumandangkan. Maka mari kita sama-sama  buktikan seluruh janji kemerdekaan bisa terlaksana untuk setiap warga negara,” katanya. 

Karena itu, kata Anies. kebijakan, langkah,  yang kita lakukan di Jakarta bukan semata-mata untuk sekelompok orang. Tapi justru untuk semuanya. Memastikan cara pandangnya pun cara pandang untuk keadilan semua. 

Anies kemudian memyebut bahwa setiap  hari raya lebaran,  maka berbondong-bondong warga Jakarta pulang kampung.  Setelah mudik mereka kembali ke Jakarta. Apa yang terjadi? Selama bertahun-tahun dilakukan operasi yustisia terhadap warga yang datang ke Jakarta. 

Mereka yang tidak punya KTP Jakarta digelandang, dipisahkan, diperiksa lalu dikembalikan. Praktek ini berjalan bertahun-tahun sampai kita anggap tidak ada masalah.

“Siapa yang digelandang? Saudara kita sendiri. Digelandang di mana? Di terminal, di stasiun, dan anda tidak  bisa menemukan pemeriksaan di airport-airport. Siapa itu? Mereka rakyat kecil Indonesia yang mendapatkan yang lebih baik  di Jakarta,” beber Anies. 

Karena itu, tambahnya, sesudah kita bertugas, satu langkah sederhana, yaitu Jakarta adalah kota milik seluruh warga negara Indonesia. Diizinkan siapa saja untuk hadir kemana saja. 

Orang Jakarta boleh bekerja di Surabaya, orang Jakarta boleh bekerja di Medan. Sebaliknya yang dari Cirebon boleh bekerja di Jakarta. 

Ini sederhana  nampaknya, tapi kalau kita tidak menggunakan prinsip keadilan dalam menyusun kebijakan maka yang sudah menjadi kebiasaan itu kita diamkan terus. Kalau itu terjadi apa bedanya dengan era sebelum kita merdeka. 

“Karena itu operasi-operasi semacam itu tidak ada lagi di ibu kota. Kita tunjukkan siapa saja bisa bekerja di mana saja, dan ibu kota milik seluruh rakyat Indonesia,” katanya. 

Di Jakarta, kata Anies, harga tanah mahal. Banyak pejuang yang dulu  berjuang membebaskan tanah ini dari penjajah tapi ironis mereka terusir dari tanah dan rumahnya karena tak mampu membayar pajak di tanah yang mereka tempati. 

“Sebuah ironi. Satu per satu mereka menjual rumahnya karena tidak mampu membayar pajak. Karena itu mulai tahun ini pejuang  kemerdekaan tidak harus membayar pajak lag di Jakarta,”  kata Anies. 

Dia mencontohkan mantan Gubernur DKI Ali Sadikin, anak turunannya iuran untuk membayar pajak tiap tahun 180 juta. Ini ironis seorang yang paling berjasa membangun kota ini kita kenakan pajak  yang sebesar-besarnya.

“Sekarang kita ubah. Semua orang yang berjasa pada republik ini, inilah ibu kota. Ibu kota mengapresiasi kepada semua, dengan apa, dengan membebaskan mereka dari pajak  bumi dan bangunan,” kata Anies.

Setelah pembebasan ini, lanjut mantan Mendikbud itu, mereka berterima kasih. “Namun saya katakan jangan berterima kasih pada saya. Sayalah yang harusnya berterima kasih, dan dengan cara apa kami membalas jasa-jasa pejuang.”

Sekarang ini Jakarta dalam proses, satu per satu kebijakan yang berkeadilan dihadirkan. Karena jika tidak dilakukan itu, maka rencana untuk merdeka mendapatkan keadilan  bisa tidak tercapai. 

“Pesan keadilan adalah pesan dari pendiri bangsa. Karena itu kita hidup-hidupi. Mari kita semua dalam perayaan 17 Agustus ini melihat kembali aspek itu. Kita perjuangkan bukan hanya aspek kesejahteraannya, tapi yang lebih penting adalah keadilannya. Izinkan kami yang di pemerintahan diberikan kesempatan untuk menuntaskan ini sebaik-baiknya. Doakan kami bisa istiqomah, dan suatu saat kita bisa mengatakan alhamdulillah di kota Proklamasi dikumandangkan di kota itu keadilan sosial bagi seluruh rakyat bisa tercapai untuk semuanya,” pungkas Anies Baswedan. (lms) 

Pemprov DKI Kirim 65 Satgas Karhutla, Dilepas Gubernur Anies di Monas

Sebelumnya

Anies Berkomitmen Tinggi Kembangkan Budaya Betawi dan Setu Babakan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Jabodetabek