MARAH
Sem Haesy
KOMENTAR

By SÉM HAÉSY

SUDAH sangat lama saya tak pernah marah. Bahkan cara marah pun nyaris saya lupa. Marah saya spontan. Tidak karena orang menghina atau mencerca.

Saya cenderung marah, setiapkali menghadapi manusia ngotot dengan kepentingannya sendiri, tak mengakui kesalahan dan tak bertanggungjawab, meski dia tahu kalau dia salah, tetapi enggan bertanggungjawab atas lakunya. Lantas ‘membaling kambing,’ melempar tanggungjawab kepada orang lain.

Siang tadi saya sangat marah kepada seseorang, yang melakukan sesuatu yang menjadi pemicu marah saya. Nyaris tak terkendali.

Bagi lelaki marah harus diekspresikan pada saat atau momen yang semestinya marah. Termasuk mempertimbangkan risiko yang akan timbul dari kemarahan itu. Tak terkecuali pilihan akhir risiko: penjara atau liang kubur.

Meski hidup di era modern, saya masih berpegang pada prinsip: Gunung teu meunang dilebur. Lebak ulah diruksak. Lojor teu meunang dipotong. Nu pendek ulah disambung (Jangan menghancurkan gunung kebaikan - hanya untuk kepentingan sendiri. Ladang kehidupan tempat harmoni disemai, jangan dirusak oleh egosentrisma. Yang panjang jangan dipotong. Yang pendek jangan pula dilarat-laratkan supaya panjang).

Saya juga berpegang pada prinsip untuk mengutamakan akalbudi, karena akalbudi itulah yang akan saling mencari, saling menjaga, dan menjadi kenangan (kebajikan) tanpa akhir (ininnawa mitu denre sisappa, sipudoko, sirampe teppaja). Karenanya, jangan pernah hasad dan hasud, jangan pula iri dengan takdir lebih baik yang diterima oleh orang lain. Karena takdir setiap orang memang berbeda-beda (pada lao, teppada upe).

Mengapa saya marah? Lantaran apa yang sudah disepakati sebagai komitmen di masa sebelumnya, dilanggar dan diabaikan dengan suka-suka mengambil kesimpulan berdasarkan presumsi sendiri, sehingga ada orang lain yang dirugikan.

Untuk itu, saya ingatkan yang khilaf, saya topang pihak yang harus memikul beban karena kealpaannya. Saya motivasi pihak lain yang terkait untuk berempati, sehingga bisa saling baku rukun menghadapi kesulitan untuk mengatasi persoalan bersama secara proporsional. Tak ada yang dikecilkan, supaya tercipta kondisi untuk tidak saling mengakui hak kepemilikan (malilu sipakainge rebba sipatokkong dipedapiri ri periâ nyameng tellu tessibaicukkeng tessi acinnai ulaweng tasa pattola malampe waramparang maega iya teya ripakainge iya riadduaiâ).

Eh.. salah satu pihak sibuk dengan presumsinya sendiri dan menganggap presumsi itu sebagai kebenaran. Tak lagi ‘satu kata dengan aksi’ (taro ada taro gau).

Maka, terpaksalah saya marah. Nyaris tak terkendali, sampai dua teman menenangkan.

Buat saya, marah itu melelahkan. Saya terkantuk duduk di sudut kursi moda raya transportasi (MRT). Seorang lelaki, sebaya duduk di sebelah saya. Wajahnya bening bagai padri. Ia tersenyum, lalu menyapa, dan kemudian bersalaman.

“Agaknya ada sesuatu yang sedang membakar diri Anda,” cetusnya. Saya terkejut. “Ya.. tadi siang,” kata saya. “Tapi sudah reda sejak salat Ashar berjama’ah di kantor pajak. Seorang petugas pajak, mengajak saya salat di musalla kantornya,” lanjut saya.

Lelaki berwajah padri itu mengucapkan hamdalah. “Anda bukan tipe pemarah, tetapi ketika marah langsung eksplosif. Ma’af, bila boleh saya sarankan, jangan lagi simpan sisa kemarahan,” lanjutnya. Saya tersipu. Saya bergumam di dalam hati: “Owh Allah.. mohon dengan sangat, jaga hamba dari kemarahan, mohon berikan hamba cara membuang marah.”

Di Stasiun Haji Nawi - Fatmawati, lelaki berwajah padri itu, turun. Saya terkantuk-kantuk, sempat terpejam sesaat, hingga tiba di stasiun akhir Lebak Bulus. |

Amankan C1 dan Lawan Lelah

Sebelumnya

Jarak Kebenaran dan Pilpres

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Imaji Sem