Makin Dibully, Anies Baswedan Makin Menjulang Tinggi
Geisz Chalifah
KOMENTAR

Oleh: Geisz Chalifah

ORANG yang dibully selalu berada dalam posisi mendapat simpati dari banyak orang. 

Pembully selalunya dibenci karena kaum pembully selalunya sadis dan selalu beraninya keroyokan. 

Anies bukan saja tampil dengan manis dalam menjawab bully-an tapi membalasnya dengan bukti dan kecerdasan. 

Pembully berkali-kali telah bikin goal bunuh diri, salah soal parkiran motor yang ternyata adanya di Depok, salah soal kali Bahagia yang adanya di Bekasi. Salah soal sampah. Salah soal polusi udara yang dibandingakan dengan Surabaya ternyata tingkat polusi Surabaya lebih tinggi dari Jakarta. 
Salah soal penerapan pembebasan PBB. Salah soal pohon seharga 1.5 M yang ternyata dibeli dijaman Ahok. 

Salah dan salah,  dibanyak  hal yang mereka jadikan bahan bully-an lalu berbalik mempermalukan kedunguan mereka sendiri.  

Anies akhirnya  jadi thema diskusi ILC yang merupakan tayangan yang ditonton  secara nasional. 

Dalam beragam analisa walau negatif sekalipun beberapa pembicara nantinya, tapi tetap akan menaikkan elektoralnya Anies.

Pertarungan yang sedianya masih tiga tahun lagi oleh mereka para pecundang pilkada sdh dimulai dari sekarang. 

Secara isu Anies sudah dihabisi dari saat ini, tingkat kebosanan para pembaca bully-an akan cepat selesai, dalam beberapa waktu tak lama lagi masyarakat akan jenuh. 

Bully-an itu selalunya bersifat ejekan yang melihat orang lain dengan negatif. Satu dua bulan suguhan itu mungkin masih mau dibaca tapi secara waktu panjang tak akan mampu bertahan lama karena sifat dari bully-an tak mengemukakan fakta. Kecuali membicarakan segala sesuatu dari sisi negatif.

Sebaliknya Anies punya waktu panjang memberi informasi secara positif, beragam kebijakan cerdas akan selalu dibaca banyak orang dan tentu saja memberi data valid yang sedang dikerjakan maupun yang telah selesai dikerjakan. 

Kaum pembully putus asa lalu menggerakkan demonstrasi di Balai Kota. Pada saat bagi-bagi uang untuk demonstran bayaran, kelakuan dungu itu tertangkap kamera yang kemudian diviralkan.

Pemindahan kabel listrik yang semarawut, dirapihkan dan dipendam di bawah trotoar akan divisualkan tentu saja dengan mudah beredar di beragam media sosial.  

Perubahan Monas, Taman Ismail Marzuki, jalan-jalan protokol dengan trotoar yang semakin lebar. Pembangunan sekolah2 SMK di Jakarta, dan ada ratusan progam lainnya yang langsung terlihat. 

Sepanjang tahun masyarakat akan disuguhi program nyata, bisa dilihat dan dirasakan. 

Para pembully bekerja dengan sia-sia, pertarungan panjang ini tentu saja akan dimenangkan Anies. 

Secara media sosial kaum pembully tak mampu memenangkan perdebatan. 

31 Penghargaan yang didapat Anies dan akan banyak lagi menyusul akan menjadi deretan contoh keberhasilan akan langsung diadu datanya dengan Ahok. 

Para pecundang tukang bully saat ini sudah tak berani sama sekali ketika diajak beradu data secara faktual kelembagaan tentang penghargaan (prestasi) Anies vs prestasi  Ahok. 

Yang mereka bangun selalunya cuma opini berbasis opini negatif, tentu saja mudah terbantahkan ketika disejajarkan dengan validitas data.   

Kaum Otak Dikit membully dengan dungu. Dua tahun Anies bekerja penyelesaian ITF baru dua persen, katanya, dibalas dengan tajam oleh lawan mereka. Dan pembully langsung KO. 

Lima tahun Ahok bekerja masalah sampah  0 persen tak ada yang dikerjakan oleh Ahok.  Pembully pun  terpelanting ketika beradu data terlebih dalam satu dua tahun kedepan ITF sudah beroperasi. 

Dalam tiga tahun ke depan proyek2 strategis Anies akan selesai dan bisa dirasakan. 

Semakin Anies dibully elektoralnya terus naik dan tetap bertahan menjadi percakapan,   berbanding lurus dengan capaian-capaian yang telah dikerjakan. 

Selayaknya memang kaum pecundang itu sebaiknya jangan pernah berhenti membully, dengan kedunguan maksimal dari mereka itu Anies semakin diuntungkan. 

Satu hal lainnya yang mereka dungu tanpa batas, mereka tak berhitung bahwa pendukung Anies jauh lebih memiliki kecerdasan jauh lebih intelektual jauh lebih mandiri (tak dibayar spt mrk utk menjadi buzzer.) 

Dan yang paling tak terbantahkan; Jauh lebih banyak dari mereka yang sebagiannya cuma akun palsu. 

Tentu saja lebih  kreatif lebih memiliki data dan jauh lebih valid dalam menjawab beragam bully-an. 

Kaum Otak Dikit selamat menikmati kedunguan masal, semakin kalian tambah dungu semakin besar peluang Anies memenangkan pertarungan.

Kaum Otak Dikit berfikir orang lain sedungu mereka, padahal dunia di luar komunitas mereka sedang mentertawakan kebodohan yang mereka pamerkan.

Selamat membullly selamat mempertontonkan kedunguan tanpa batas. 

Catatan Pendek Menyambut Groundbreaking Masjid Apung Ancol

Sebelumnya

Ini Bukan Soal Pelantikan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Gelitik