Black Out, Ini Catatan Mantan  Dirut PLN Dahlan Iskan
Dahlan Iskan.
KOMENTAR

TILIK.id, Jakarta — Black out atau listrik padam yang menggelapkan separuh Pulau Jawa pada Ahad (4/8/2019) dan Senin sungguh berdampak luas. Plt Ditektur Utam PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sripeni Inten Cahyani jadi bulan-bulanan. 

Senin pagi Presiden Jokowi menyambangi kantor PLN. Marah lalu bergegas pergi. Selasa Sripeni Inten Cahyani dipanggil Komisi VI DPR, dan setelah itu, malamnya, dibahas di ILC. 

BACA JUGA: Setengah Pulau Jawa Padam, PLN Terus Melakukan Investigasi

BACA JUGA: Di Taiwan Listrik Padam Presiden Minta Maaf dan Menteri Mundur, Bagaimana di Indonesia?

BACA JUGA: Plt Dirut PLN Sripeni Intan Cahyani Seperti ‘Tersengat’ Strom

Black out sampai 7-10 jam dengan skala luas itu pun mengundang banyak perhatian, umpatan, sampai pada adanya gugatan akibat matinya banyak ikan koi milik konsumen. 

Mantan Dirut PLN Dahlan Iskan pun ikut menuliskan  catatannya. Menteri BUMN di era Presiden SBY itu pun bertanya mengenai banyak hal. Berikut catatan lengkap Dahlan Iskan: 

Sengon 1 Triliun

Oleh: Dahlan Iskan

SEPELE  sekali. Kelihatannya. Hanya gara-gara satu pohon sengon. Listrik seluruh Jakarta padam. Juga Jabar. Dan sebagian Jateng. Minggu-Senin lalu.
 
Pohon sengonnya ada di Desa Malon. Nun jauh di Gunung Pati, 28 km selatan Semarang. Mati listriknya sampai Jakarta.
 
Maka pohon sengon itu perlu diabadikan. Fotonya. Untuk dipasang di seluruh kantor PLN. Sebagai monumen. Yang harus diajarkan turun-temurun. Dari satu generasi ke generasi berikutnya.
 
Betapa mahalnya pohon sengon itu. Sampai membuat berjuta-juta orang menderita. Pun kereta bawah tanah. Yang masih baru. Ikut lumpuh. Penumpangnya harus dievakuasi. Presiden Jokowi sampai marah karenanya.
 
Bahkan PLN sendiri sampai harus mengeluarkan ganti rugi kepada konsumen. Nilainya sampai Rp 1 triliun.
 
Satu pohon sengon. Di sebuah desa. Mampu menggegerkan mayapada.
 
Pohon sengon itu tidak salah. Tumbuhnya di dalam pagar penduduk. Tapi menjulang sangat tinggi. 
 
Tinggi tiang SUTET itu 40 meter. Tapi bentangannya menggelayut. Tinggi 18 meter. Tinggi sengon itu sekitar 15 meter. Sudah mencapai medan magnet SUTET. 
 
Tapi sengon itu juga berhak bertanya:
 
- Mengapa dibiarkan tumbuh tinggi di situ?
 
- Mengapa tidak ada yang tahu?
 
- Apakah tidak ada lagi anggaran untuk patroli pohon?
 
- Mengapa ada kebijakan anggaran ini —bahwa biaya operasi dan pemeliharaan harus di bawah anggaran SDM?
 
- Mengapa SUTET itu begitu rapuh? Hanya kesenggol satu pohon sudah pingsan?
 
Itulah. Mengapa tidak boleh ada pohon
dekat SUTET (Saluran Utama Tegangan 
Ekstra Tinggi). Jangankan sampai 
nyenggol. Memasuki medan magnetnya 
pun sudah mengganggu. Bisa 
korsleting. Yang mengakibatkan arus 
listrik terhenti.
 
Mengapa yang korsleting di selatan
Semarang, padamnya di Jakarta dan 
Jabar?
 
Orang Jakarta itu makan listriknya paling 
besar. Apalagi ditambah daerah industri 
sekitarnya: Tangerang, Bogor, Bekasi, 
Karawang.
 
Padahal pembangkit listrik terbesarnya
ada di Jatim. Di Paiton. 
 
Maka harus ada pengiriman listrik dalam 
jumlah besar. Dari Jatim ke Jakarta. 
Sekitar 3000 MW. Tepatnya saya sudah 
lupa.
 
Listrik sebesar itu hanya bisa dikirim 
lewat SUTET —yang tegangannya 500 
kVA. Ibarat kirim air, selangnya harus 
sangat besar.
 
Kian tinggi tegangannya kian luas medan 
magnetnya. Karena itu harus ada 
sempadan yang lebar. Di sepanjang jalur 
SUTET tidak boleh ada tanaman tinggi. 
Dalam istilah listrik sempadan itu disebut 
ROW —Right of Way.
 
Dulu selalu ada patroli. Yang mengawasi 
ROW itu —apakah mulai ada gejala 
pohon yang mengganggu. Tidak harus 
tiap hari. Pohon tidak bisa mendadak 
tinggi.
 
Pertanyaannya: apakah anggaran patroli
masih ada? Atau manajemen patrolinya 
yang lemah? Atau patroli sudah 
dilakukan, laporan sudah dibuat, tapi 
tidak ada anggaran penebangan pohon?
 
Sesederhana itu.
 
Tapi ada juga unsur nasib.
 
Jawa itu sebenarnya sudah aman. Biar 
pun sebagian besar pembangkitnya ada 
di Jatim. Di Jawa sudah punya dua jalur 
SUTET. Jalur Utara (yang lewat Ungaran, 
Semarang itu) dan jalur tengah. 
Membentang dari ujung timur ke ujung 
barat Jawa. 
 
Kalau pun ada gangguan di jalur utara 
seperti itu sebenarnya tidak ada masalah. 
Arus listriknya bisa otomatis pindah ke 
SUTET jalur tengah.
 
Pohon sengon itu bukan satu-satunya 
tersangka. 
 
Memang nasib PLN lagi apes. Terutama 
Plt Dirutnya. Masih baru. Belum 24 jam. 
 
Hari Minggu itu ada perbaikan SUTET 
jalur tengah. Di timur Tasikmalaya. 
SUTET-nya dimatikan. Dengan 
pertimbangan sangat rasional: pada hari 
Minggu beban listrik di sekitar Jakarta 
turun drastis. Cukup dilayani jalur utara.
 
Sayang, kok sengon itu begitu jahatnya—
bergoyang di hari Minggu itu.
 
SUTET Utara kena sengon. SUTET tengah 
lagi diperbaiki. 
 
Akibat hilangnya pasokan dari dua 
SUTET tadi beban listrik kacau sekali. 
 
Pembangkit-pembangkit listrik di wilayah 
barat mati satu-persatu.
 
Terjadilah bencana itu.
 
Kenapa begitu lama? Ini sudah 
menyangkut manajemen recovery. Hanya 
PLN yang tahu. 
 
Ada pertanyaan kecil: ke mana pasukan 
‘Kopassus’-nya P2B? Yang dibentuk dulu 
itu? Yang bisa memelihara SUTET tanpa 
harus mematikan sistem itu?
 
Dibubarkan? Tidak diteruskan? Tidak 
cukup? Tidak dikembangkan? Tidak ada 
anggaran?
 
Saya masih ingat. Peresmian pasukan itu 
dilakukan besar-besaran. Di Monas. 
Dengan demo cara-cara memelihara 
SUTET. Tanpa mematikannya.
 
Memang sangat berisiko. Peralatannya
khusus. Bajunya khusus. Kepandaiannya 
khusus. Karena itu kita juluki ‘Kopassus’-
nya PLN.
 
Di PLN juga ada satu departemen 
khusus: namanya P2B. Itulah yang 
mengatur seluruh sistem listrik di Jawa. 
Isinya orang-orang istimewa. Ahli-ahli 
listrik.
 
Saya menyebutnya ‘otak’-nya listrik. 
Lembaga itulah yang mengatur seluruh 
sistem di Jawa. Kadang saya dikritik. 
Terlalu mengistimewakan P2B. Saya tidak 
peduli. Saya sudah biasa 
mengistimewakan redaksi. Dalam seluruh 
organisasi surat kabar. 
 
SUTET di bawah P2B itu. Tapi P2B di 
bawah siapa? 
 
Organisasi PLN sekarang sudah beda. Di 
Jawa ada tiga direksi. Direktur Jatim/Bali, 
Direktur Jateng/DIY dan direktur Jabar/
DKI.
 
P2B bisa punya posisi yang tidak jelas —di 
bawah koordinasi direktur yang mana. 
Mungkin sudah diatur. Orang luar seperti 
saya tidak bisa melihat. 
 
P2B itu perlu terus berkoordinasi. Tiap 
tiga bulan mereka harus rapat. Untuk 
evaluasi perkembangan sistem di Jawa. 
 
Adakah rapat itu masih ada? Atau sudah 
ditiadakan? Rapat-rapat P2B tidak boleh 
dianggap rapat biasa —yang bisa dihapus 
demi penghematan.
 
Demi laba. 
 
Memang ironi: listrik itu baru diingat 
justru di saat ia mati. (Dahlan Iskan
)

Posisi Menteri Agama dan Mendikbud jadi Sorotan

Sebelumnya

Pengorbanan Jari Kelingking Wiranto dan Jualan Narasi Radikalisme

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional