Anies Membungkam Pengeritiknya soal  Getah Getih
Instalasi bambu di kawasan bundaran HI
KOMENTAR

TILIK.ID, Jakarta — Karya seni berupa intalasi  bambu yang berdiri di jalan MH Thamrin atau dekat Bundaran HI Jakarta tiba-tiba jadi polemik. Entah apa, banyak yang masalahkan karya seni Joko Avianto itu. 

Sayangnya para pengeritik Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan itu banyak yang kecele sendiri. Misalnya anggaran pembuatan instalasi bambu seharga Rp 550 juta itu berasal dari APBD, ternyata bukan anggaran dari APBD. 

Selain itu, pengeritik Anies menyebut instalasi itu hanya mubazir karena umurnya hanya setahun dan akibatnya hanya jadi “sampah”.  Namun pengeritik ini pun malu sendiri karena instalasi bambu itu memang dibuat untuk menyambut Asian Games 2018 yang dirancang hanya bertahan 6 bulan.  Namun ternyata bisa bertahan 11 bulan.

Anies Baswedan seperti mempecundangi pengeritiknya yang asal bunyi itu. Makanya sepulang dari Amerika. Anies menjelaskan ke media kritikan-kritikan itu. Tak hanya di media, di medsos pun Anies sampai harus kembali menjelaskan. 

Berikut penjelasan lengkap Anies Baswedan di akun medsosnya yang diunggah Sabtu siang:
  
Kemarin teman-teman jurnalis di Balaikota, banyak yang tanya soal instalasi bambu Getih Getah karya Mas Joko Avianto.

Pertama, instalasi itu bagian dari penyambutan acara Asian Games Agustus tahun lalu. Sebagaimana berbagai atribut yang dipasang di sekitar Senayan dan berbagai wilayah Jakarta, itu semua bukan permanen. Seselesainya Asian Games maka semua atribut dilepas kembali.

Begitu juga dengan instalasi Bambu ini, tidak permanen. Saat itu diproyeksikan bisa bertahan 6 bulan. Ternyata malah bisa tahan lebih lama. Dan, kini memang sudah waktunya untuk diturunkan. Tidak ada yang aneh, selesai acara ya diturunkan.

Kedua, soal biaya. Perlu disadari bahwa pengeluaran pemerintah itu beda dengan pengeluaran perusahaan atau pribadi. Pengeluaran pemerintah juga bertujuan menggerakkan perekonomian, meratakan manfaat anggaran untuk orang banyak. Apalagi, jika penerima manfaat itu adalah kelompok-kelompok masyarakat yg jarang menerimanya. Itu prinsip dasar ekonomi makro. 

Karena itu kita sengaja memilih instalasi dari bahan bambu agar dana itu menjangkau petani bambu, seniman bambu, dan tenaga kerja trampil di bidang bambu. Jasa angkutan, para tukang yg memasang hingga tukang yang membongkar. Itu semua adalah akibat dari pilihan material bambu; Ia menggerakkan ekonomi lokal, kecil dan rakyat kebanyakan.

Bambunya dari Jawa Barat, petaninya tentu lokal. Dana itu diterima bukan oleh pelaku ekonomi raksasa, tapi justru oleh pelaku ekonomi mikro dan kecil.

Ke depannya Jakarta justru perlu lebih banyak memberikan anggaran untuk para seniman, apalagi jika karya mereka menggunakan material lokal dan menggerakan ekonomi rakyat kebanyakan.

Ketiga, soal karya seni itu sendiri. Alhamdulillah, syukur tak terhingga banyaknya warga yg sudah menyaksikan, menikmati dan berswafoto di depan #GetihGetah itu.

Karya bambunya pernah dipampang di Esplanade Singapura, Yokohama dan Frankfurt. Kita senang ada putra bangsa, seorang seniman berkelas, Joko Avianto yang seni bambunya ikut mewarnai pusat kota Jakarta selama hampir setahun.

Seni bambu karya Joko Avianto itu bukan hanya jadi tamu mempesona di negeri orang, tapi juga tuan rumah di negeri sendiri! (lms)

Lima Unit Kerja Pemprov DKI Dapat Anugerah Wilayah Bebas dari Korupsi

Sebelumnya

Ini Rencana Anies Revitalisasi Trotoar di DKI Jakarta

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Jabodetabek