Pertemuan Lebak Bulus, Indonesia Bakal Mulus?
Ludiro Prajoko
KOMENTAR

Oleh: Ludiro Prajoko

MEREKA  telah bertemu, pada suatu siang, di stasiun MRT Lebak Bulus:  suatu tempat yang dulu boleh jadi berupa rawa-rawa, tempat hidup kawanan bulus:  Amyda cartilaginea, sejenis kura-kura yang hidup di darat juga di air tawar. Lalu, banyak hal dirasa telah diselesaikan dengan sepantasnya: rekonsiliasi. Modal mengayuh roda Indonesia 5 tahun kedepan. Maka, pertemuan itu terdengar seperti konsili Lebak Bulus. 

Bagi 01, pertemuan itu memang didamba, karena itulah momen yang berfungsi ‘mencuci kemenangan’. Sesuai kodratnya, mencuci: membersihkan dari yang kotor dan najis. Angka dan ketukan palu MK, tidak serta merta menghadirkan legitimasi publik, karena legitimasi itu muncul dari hati. Dan, terlalu banyak hati yang tak mengakui. 

Tentu saja kegaduhan Pilpres juga disaksikan oleh bangsa-bangsa lain, maka pertemuan itu penting untuk suguhan masyarakat internasional: Indonesia menujukkan kepiawaiannya meresolusi konflik, juga merajut politik I’dul Fitri: politik yang penuh maaf. 

Selain itu, bila yang ditakutkan kubu 01: barisan Islam radikal pendukung 02 memang benar adanya, maka pertemuan itu diharapkan efektif menjinakkan mereka. Walaupun, kaum garis keras yang dituduhkan itu tak sungguh-sungguh ada. Hanya semacam macan kertas yang diciptakan untuk menakut-nakuti khalayak dan mendiskreditkan 02. Terbukti, apapun yang terjadi, menimpa 02, mereka hanya berjalan kaki untuk melemaskan otot, lalu berkumpul guna berdoa. Mereka memang orang-orang tulus yang risau akan kondisi dan mendamba kebaikan bagi masa depan bangsa. 

Bagi Prabowo, tampaknya sangat dilematis. Di satu sisi, pertemuan itu pasti memicu kecaman keras dari para pendukung fanatiknya. Disisi lain, Ia memang tak seharusnya tersandra sebagai kambing hitamnya masa mendatang. Masa depan Indonesia, khususnya dimata pendukung 02 memang mengkawatirkan. Kekawatiran itu mengalir dari kondisi bangsa ini: menipisnya kedaulatan multi ranah, membengkaknya hutang, …… yang dihasilkan dari kerja…kerja…kerja… Pemerintah 5 tahun terakhir. 

Apapun motif dan tujuannya, pertemuan Lebak Bulusntelah menuntaskan urusan Pilpres. Tak ada lagi 01-02. Tak ada lagi sengketa, juga sengkarut. Selesai sudah semua urusan politik buntut Pilpres!  Prabowo boleh jadi sangat menghayati nasihat Cicero: accipere quam facere praestat iniuriam -lebih baik menderita karena ketidakadilan daripada melakukan ketidakadilan. Pertemuan Lebak Bulus memang siasat agar Indonesia tampak mulus.

Selanjutnya, bangsa ini dianggap sudah siap melanjutkan perjalanannya dengan baik-baik saja. Apapun yang terjadi kemarin, selayaknya dianggap semacam efek mimpi buruk paska menoton film horor, yang terlupakan segera setelah gosok gigi. Pertemuan Lebak Bulus, perjalanan Indonesia kedepan bakal mulus (?). Kita berharap demikian. 

Tapi, politik dan cinta memiliki kemiripan dalam hal menggoreskan luka di hati. Tak mudah sembuh, tak gampang dihilangkan. Dan, manusia: mahkluk yang mengenal kebencian, juga mampu mengawetkannya menjadi dendam: gugusan energi emosional yang terpendam, yang menunggu saat mengejawantah dalam kehidupan sadar. 

Memang, energi itu dapat diredam, dipadamkan, atau mengelupas digerogoti waktu seiring harapan yang perlahan terpenuhi. Tentu, semua itu hanya bila Pemerintah dapat mengeyahkan satu demi satu kekawatiran akan kondisi bangsa ini di masa mendatang yang menjadi sumber kerisauan dan faktor afinitas pendukung 02.

Masa depan memang menyimpan harapan dan kekjawatiran. Kita mengejarnya dengan hasrat memahami kode-kode misterinya untuk membuka kotak penyimpan kebahagiaan. Namun, tak jarang masa depan yang terbayangkan, berubah menjadi gemuruh dan kengerian. Dalam konteks ber-Indonesia, itu hanya akan terjadi bila hari ini kita memulainya dengan: akal bulus.

Penonton 9th Jakarta Melayu Festival Ancol Capai 12.164 Orang

Sebelumnya

Berapa Lama Ma’ruf Amin Jadi Wapres Jokowi?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Gelitik