Pidato Joko Widodo, Antara Realita dan Idealita
Jokowi pidato Visi Indonesia
KOMENTAR

TILIK.ID, Jakarta — Pidato Joko Widodo alias Jokowi  dengan judul “Visi Indonesia” dianggap kontradiktif antara realita  dan idealita. Pidato itu  seakan untuk mendeklir dirinya suci dari pilpres yang penuh noda dan nista.

Kritikan itu dikemukakan MHR Sikka Songge, mantan Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta,  dalam analisanya di Jakarta, Senin. 

Menurut Sikka, untuk mewujudkan visi misi sebagaimana dalam pidatonya, yang pertama harus dilakukan Jokowi adalah membenahi persepsi dan prilaku para pendukung  sendiri. Watak dikhotomistis yang klaim  nasionalis dan tidak nasionalis, Pancasilais dan tidak Pancasilais menjadi watak otentik pendukung Jokowi. 

“Watak manipulasi dan kecurangan, menang dengan   curang dan menang dengan manipulasi itulah kemenangan yang dirahi oleh Jokowi dan  KH. Ma’ ruf Amin sekarang. Itu kemenangan yang tidak bermoral dan memalukan,” katanya. 

BACA JUGA: Fahri Hamzah Tantang Jubir Jokowi Jelaskan Makna Pidato “Visi Indonesia”

Dikatakan juga, pidato Jokowi seakan ingin mengajarkan rakyat boleh berbohong dan boleh menipu kalau mau menjadi pemimpin negeri ini. Pidato hanya untuk mencucikan diri pergumulan politik durjana. 

“Pantasnya Rakyat Indonesia berkabung karena memiliki presiden yang lahir dari demokrasi perselingkuhan. Pidato yang berapi api itu menjadi tidak bermakna ketika kekuasaan itu dibangun di atas aliran darah dan bangkai para syuhada demokrasi,” katanya.

BACA JUGA: Jokowi dan Potret Persoalan Bangsa

Tanggapan lain dikemukakan Ade Adam  Noch, mantan Ketua Umum HMI cabang Menado, kepada tilik.id.  Menurutnya, pidato Jokowi salah satunya mengajak pada persatuan. Namun Jokowi lupa bahwa ada prasarat yang harus dibangun. 

“Persatuan harus   dibangun di atas pengakuan kesetaraan sebagai warga bangsa, stop stigmatisasi pancasilais. Seperti saya pancasila, anti pancasila, mengganti pancasila, radikal, intoleran, teroris, kriminalisasi, tanpa menghilangkan narasi- narasi permusuhan,” kata Ade. 

Persatuan hanya sebuah ilusi kesadaran kebinekaan sebagai sunnatullah.  Pada saat yang sama persatun menjadi keniscayaan.

“Kalau kejujuran dan keadilan juga dihadirkan dalam kehidupan bersama.  Tanpa ini sama saja  bulshit,  hanya sekadar-seaedar penghias bibir,” kata Ade. (lms)

PKB Sukses di Pemilu, Muhaimin Terpilih Lagi di Muktamar Bali

Sebelumnya

Megawati Ketua Umum PDIP Lagi, Dikukuhkan di Sidang Pertama Kongres

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Politik