Munas  Golkar Bisa Mengubah Konstalasi Koalisi
Sofhian Mile
KOMENTAR

Oleh: Sofhian Mile
(Kader Partai Golkar)

MENJELANG Munas Partai Golkar dalam waktu dekat ini, berkembang pemikiran yang dilontarkan sejumlah  kader. Mereka  berangkat dari rasa tanggung jawab untuk melihat Partai Golkar  lebih baik kedepan. Hal ini terutama muncul ketika mengusulkan beberapa  nama yang dianggap mumpuni untuk memimpin partai. 

Kalau saya memandang,  sebetulnya Golkar harus bisa melihat ada tanggung jawab  dari seorang kader untuk membawa partai yang lebih baik lagi. Apalagi ada  tantangan yang semakin kompleks, terutana munculnya partai-partai  yang dulu adalah  bersama-sama dengan  Golkar atau sejarahnya bersama Golkar.  

Parpol-parpol itu  mampu mengadopsi prinsip-prinsip yang dulu dianut oleh Golkar,  utamanya  prinsip-prinsip pengkaderan.  Golkar kelihatannya sudah meninggalkan prinsip-prinsip ini.

Jika ini kemudian dievaluasi  kembali untuk melakukan  sistem pengkaderan yang lebih baik dan terarah, saya berkeyakinan Golkar   akan memperoleh minat yang besar dari konstituen dan Golkar makin  baik di mata publik. 

Meskipin Golkar saat ini berada pada posisi kedua di Pemilu   legislatif  
tahun 2019,  saya berkeyakinan bahwa para pendukung  Golkar, terutama pendukung konvensional,   masih  sangat berharap agar Golkar bisa bangkit kembali untuk memimpin bangsa ini. 

Beberapa calon ketua umum Golkar yang muncul   seperti incumbent Airlangga Hartarto, Bambang Soesatyo, dan Indra Bambang Utoyo, adalah kader-kader yang memiliki jejak sejarah  di Golkar sejak dari awal.  Bambang Soesatyo dan Indra Bambang Utoyo adalah kader-kader  yang memang sejak awal, sejak muda, telah bergelut di Golkar, apakah dari organisasi sayapnya maupun organisasi yang melahirkan Golkar itu sendiri.

 Munas Golkar 2019 akan menciptakan suatu  kondisi politik yang bisa merubah konstalasi koalisi-koalisi yang sudah terbentuk, baik  koalisi pendukung Jokowi-Maruf maupun koalisi pendukung Prabowo-Sandi. Jika Golkar terpilih dengan ketua umum yang lahir dari Munas 2019, mungkin saja  akan bisa mengubah langkah-langkah dan konstalasi politik kedepan. 
 
 Oleh  karena itu kita berharap Golkar sebagai partai yang terdepan dalam melahirkan kader-kadernya jangan sampai  tertinggal dari  partai-partai lain. Golkar harus mengevaluasi  kembali, harus memberikan sajian untuk bisa berbicara di level nasional maupun internasional.
 
 Banyak penyebab yang membuat Golkar terpuruk suaranya, meskipun sekarang ada di posisi kedua. Yang pertama sejarah politik Golkar yang  memang selalu dikaitkan dengan orde baru.  Di samping itu meskipun itu sudah berlangsung 20 tahun lebih, namun   orang masih mengingat keterkaitannya dengan Orba.  Pencitraan   Golkar sekarang ini  tergambar dari kader-kadernya yang ada dalam   posisi-posisi strategis,  apakah itu posisi ketua umum, Sekjen,  atau posisi yang  ada di legislatif.
 
 Keterlibatan kader-kader Golkar  dalam kasus-kasus hukum, kasus-kasus  korupsi,   juga ikut mempengaruhi secara kuat terhadap perolehan suara Golkar.  Kader yang memiliki moral dan komitmen yang tinggi terhadap  bangsa ini, itulah yang seharusnga kita lahirkan dan kita beri dukungan politik. Tujuannya agar Golkar  terhindar dari problem-problem, termasuk  kasus-kasus korupsi yang melibatkan kader. 
 
 Selain itu, ada tantangan kedepan yang juga harus dilihat oleh Golkar. Yaitu  tantangan ekonomi, pendidikan, ketenagakerjaan,  dan  bidang-bidang  lain yang  begitu banyak. Sumbangsih pikiran Partai Golkar  diharapkan mampu memberikan solusi terhadap problem besar  yang dialami  bangsa ini. Saat ini  ketenagakerjaan kita dihantui  banyaknya tenaga kerja asing, iklim investasi yang kelihatannya tidak begitu sehat. 
 
 Dari sini diharapkan Golkar dapat melahirkan konsep strategis dan solutif  dalam memecahkan dan memberikan jalan keluar pada masalah-masalah ketenagakerjaan ini. 
 
 Kalau  Golkar mampu malahirlan konsep yang solutif,    saya yakin  simpati dan dukungan publik terhadap Golkar akan jauh lebih besar dibandingkan pemilu tahun 2009.  
 
Pada faktor kepemimpinan, di Golkar itu selalu melahirkan pemimpin yang memiliki  basis massa yang jelas.  Yaitu yang lahir dan ditempa  oleh  organisasi  yang memiliki massa yang jelas.  Ketua umun  yang tidak memiliki basis massa yang jelas,  otomatis akan agak kesulitan dalam menjalankan program partai kedepan. 
 
 Beberapa  contoh pemimpin Golkar yang nemiliki  basis massa  antara lain    Akbar Tanjung. Akbar, di samping dalam sejarahnya pernah menjadi ketua umum HMI, pernah ketua umum KNPI, dan lainnya. Begitu juga Aburizal Bakri,  yang sejak muda bergelut  pada organisasi di bidang bisnis, di HIPMI,  di Kadin, dan sebagainya. 
 
 Tanpa mengecilkan pihak yang lain,   ini menjadi penting dan harus digarisbawahi agar supaya kemampuan seorang nakhoda partai yang memiliki latarbelakang yang kuat di ormas atau di organisasi kemasyarakatan lainnya, bisa berjalan dengan baik, terutama dalam menjalankan roda organisasi. 

HARUN MASIKU NOVEL BARU

Sebelumnya

Antara Monyet dan Diktatorship?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Gelitik