Ketua Umum Baru Golkar Bisa Ubah Konstalasi Koalisi
Sofhian Mile
KOMENTAR

TILIK.ID, Jakarta — Menjelang Munas Partai Golkar, muncul pemikiran yang dilontarkan sejumlah  kader  untuk melihat Partai Golkar  lebih baik kedepan. Harapan itu dianggap berkorelasi dengan figur siapa yang layak memimpin partai tersebut.

Politisi Golkar Sofhian Mile dalam perbincangannya dengan tilik.id  Kamis malam ikut angkat suara terkait Munas  terebut.  Dia mengatakan sebetulnya   harus ada tanggung jawab  dari seorang kader untuk membawa partai menjadi lebih baik lagi. 

 

Di tengah tantangan yang semakin kompleks, terutama munculnya partai-partai  yang dulu adalah  bersama-sama dengan  Golkar, justru mereka  mampu menerapkan prinsip-prinsip yang dulu dianut oleh Golkar,  utamanya  prinsip-prinsip pengkaderan.  

“Golkar kelihatannya sudah meninggalkan prinsip-prinsip ini,” kata mantan anggota DPR RI selama 3 periode ini. 

“Jika ini kemudian dievaluasi  kembali untuk melakukan  sistem pengkaderan yang lebih baik dan terarah, saya berkeyakinan Golkar   akan memperoleh minat yang besar dari konstituen dan makin  baik di mata publik,” tambahnya.

 

Meskipin Golkar saat ini berada pada posisi kedua di Pemilu   legislatif  
tahun 2019,  Sofhian  yakin bahwa para pendukung  Golkar, terutama pendukung konvensional,   masih begitu berharap agar Golkar bisa bangkit kembali untuk memimpin bangsa ini. 

Beberapa calon ketua umum Golkar yang muncul   seperti Airlangga Hartarto, Bambang Soesatyo, dan Indra Bambang Utoyo, adalah kader-kader yang memiliki jejak sejarah  di Golkar  dari awal. 

“Terutama Bambang Soesatyo dan Indra Bambang Utoyo adalah kader-kader  yang memang sejak awal, sejak muda, telah memiliki akrivitas yang  secara formal sudah ada di Golkar, apakah pada   organisasi sayapnya maupun organisasi yang melahirkan   Golkar itu sendiri,” kata Sofhian. 

 Menurutnya, Munas Golkar 2019 akan menciptakan suatu  kondisi politik yang bisa merubah konstalasi koalisi-koalisi yang sudah terbentuk, baik  koalisi pendukung Jokowi-Maruf maupun koalisi pendukung Prabowo-Sandi. 
 
 “Jika Golkar terpilih dengan ketua umum yang lahir dari Munas 2019, mungkin saja  akan bisa mengubah langkah-langkah dan konstalasi politik bangsa kedepan,” bebernya. 


 Jika kepemimpinan Golkar bertipe strong leader, menurut Sofhian, terbuka peluang melakukan evaluasi terhadap langkah-langkah partai sebelumnya. Apalagi Golkar saat ini mengalami keterpurukan, utamanya penurunan jumlah kursi legislatif.
 
 Sofhian juga berharap  Golkar sebagai partai yang terdepan dalam melahirkan kader-kadernya jangan sampai  tertinggal dari  partai-partai lain. Golkar harus mengevaluasi  kembali, harus memberikan sajian untuk bisa berbicara di level nasional maupun internasional.
 
 “Banyak penyebab yang membuat Golkar terpuruk.  Yang pertama sejarah politik Golkar yang  memang selalu dikaitkan dengan orde baru.  Di samping itu meskipun itu sudah berlangsung 20 tahun lebih tapi  orang masih mengingat keterkaitannya dengan Orba,” katanya.  
 
 Citra   Golkar sekarang ini  tergambar dari kader-kadernya yang ada dalam   posisi-posisi strategis, apakah itu posisi ketua umum, Sekjen,   atau posisi yang  ada di legislatif.
 
 Keterlibatan kader-kader Golkar  dalam kasus-kasus hukum, kasus-kasus  korupsi,   juga ikut mempengaruhi secara kuat terhadap perolehan suara Golkar.  
 
 Karena itu, kader yang memiliki moral dan komitmen yang tinggi tentang kebangsaan ini memang itulah yang seharusnya  diberi dukungan politik. Agar  Golkar  terhindar dari problem-problem, termasuk  kasus-kasus korupsi yang melibatkan kader. 
 
 Selain itu, kata mantan Bupati Banggai ini, ada tantangan kedepan yang juga harus dilihat oleh Golkar. Yaitu  tantangan ekonomi, pendidikan, ketenagakerjaan,  dan  bidang-bidang  lain yang  begitu banyak.  
 
 “Sumbangsih pikiran Partai Golkar  diharapkan mampu memberikan solusi terhadap problem besar  yang dialami  bangsa ini.  Misalnya saat ini  ketenagakerjaan kita ditengarai dirampas oleh  tenaga kerja asing yang masuk, dan iklim investasi yang kelihatannya tidak begitu sehat,” katanya lagi.
 
 Dari sini diharapkan Golkar dapat melahirkan konsep stratgis dan solutif  dalam memecahkan dan memberikan jalan keluar pada masalah-masalah ketenagakerjaan ini. 
 
“Kalau  Golkar mampu malahirlan konsep yang solutif,    saya yakin  simpati dan dukungan publik terhadap Golkar akan jauh lebih besar dibandingkan pemilu tahun 2009,” ujarnya lagi.
 
 Pada kepemimpinan Golkar itu, tambah Sofhian,  selalu melahirkan pemimpin yang memiliki   basis massa yang jelas.  Basis massa yang jelas dari Golkar itu adalah yang lahir dan ditempa  oleh  organisasi  yang memiliki massa yang jelas.  
 
 “Ketua umun  yang tidak memiliki basis massa yang jelas,  otomatis akan agak kesulitan dalam menjalankan progrsm partai kedepan,” jelasnya. 
 
 Beberapa  contoh pemimpin Golkar yang nemiliki  basis massa  antara lain    Akbar Tanjung. Akbar, di samping dalam sejarahnya pernah menjadi ketua umum HMI, pernah ketua umum KNPI, dan sebagainya. 
 
 Begitu juga Aburizal Bakri,  yang sejak muda bergelut  pada organisasi di bidang bisnis, di HIPMI,  di Kadin, dan sebagainya. 
 
 “Tanpa mengecilkan pihak yang lain,   ini menjadi penting dan harus digarisbawahi bahwa kemampuan seorang nakhoda partai yang memiliki latarbelakang yang kuat di ormas atau di organisasi kemasyarakatan lainnya, memiliki niilai yang kuat dalam menjalankan roda organisasi,” pungkas Sofhian. (lms)

Tulisan Mochamad Toha Kembali Viral dan Jadi Polemik

Sebelumnya

Ini Kisah Tiga Bersaudara Merebut Tiga Kursi DPRD Banten

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Politik