Kita Berduka Wafatnya Ibu Ani, tapi Jangan Abai  Gugurnya 700 Petugas Pemilu
Presiden Joko Widodo dan istri di penakaman almarhumah Ibu Ani Yudhoyono di TMP Kalibata, Sabtu siang.
KOMENTAR

TILIK.ID, Jakarta —- Duka penyelimuti Bangsa Indonesia. Ibu Hj Ani Yudhoyono wafat Sabtu di Singapura dan siang tadi, Ahad, dikebumikan di TMP Kalibata. Upacara pemakaman dilakukan secara militer dengan inspektur upacara Presiden Joko Widodo.

Kepergian Ibu Negara ke-6 membawa duka mendalam dari  rakyat yang mencintainya. Sederet prestasi mengukir keharuman namanya untuk bangsa dan negara. 

Namun di sisi lain, di banyak pelosok negeri, 700-an petugas pemilu  2019 gugur daam masa tugasnya. Tidak ada ucapan duka cita dari media, tak ada ucapan belasungkawa dari Presiden, dan apalagi tidak ada upaya untuk menjenguknya. 

Mantan akktivis HMI Yogyakarta, MHR Shikka Songge menuliskan catatan di akun medsosnya dan grup-grup chatting alumni HMI mengenai fenomena ini.  

“Kita semua berbelasungkawa  dan turut berduka cita yang dalam atas meninggalnya Ibu Hj Ani Yudoyono, meninggal di bulan Suci Romadhan, bulan penuh magfirah. Moga Ibu Hj Ani Yudoyono menjadi husnul khotimah  dan menjadi ahli surga.” kata  MHR Shokke. 

 Dia melanjutkan,  satu orang   mantan ibu negara meninggal, Presiden RI Joko Widodo beserta anggota kabinetnya, Pejabat Tinggi Negara sipil dan militer berdesak desak di rumah duka maupun di taman makam pahlawan menghantarkan kepergian ibu Ani kehariban Allah SWT. 

“Tapi di sisi lain ada 700 warga negara penyelenggara Pemilu 2019, anggota KPPS yang meninggal dan ribuan lainnya yang masih tergelerak sakit,  pemerintah seakan tak peduli. Bahkan 8 orang warga sipil yang minggal akibat ditembus peluru panas di ujung senjata laras panjang  aksi damai 21 dan 22 Mei 2019 bahkan ratusan lain yang belum diketahui keberadaannya,  pemerintahan  Joko Widodo tidak peduli,” bebernya. 

Pemerintah, kaya dia,  tidak adil, berlaku diskriminatif pada sesama warga negara. Penghargaan negara hanya diberikan pada orang yang dianggap berjasa, menyandang tanda kehormatan pada bangsa dan negara serta ibu pertiwi.

“Tapi tidak ada penghargaan bagi rakyat kecil yang juga pekerja untuk negara (penyelenggara pemilu), apalagi pada rakyat jelata, warga sipil yang sedang berjuang mewujudkan perubahan, mewujudkan keadilan politik, keadilan hukum, keadilan ekononi dan keadilan berbudaya,” kata Shikka. 

Dikatakan, bagi rakyat kecil,  warga sipil,  kematian mereka sungguh mesterius. Keluarga tidak menuntut untuk dihormati secara kenegaraan apalagi dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Mereka hanya minta pengakuan akan peristiwa kematian mereka begitu misterius dan sadis mengenaskan itu. Kenapa kematian mereka begitu tragis.  

“Kematian mereka yang misterius, keji dan sadis dan tidak lazim itu meninggalkan tumpukan pertanyaan panjang yang tidak mudah terlupakan selagi pemerintah belum memberikan jawaban resmi,” kata mantan Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta ini.

Semoga saja, kata dia,  ketidakadilan dan sikap diskriminatif ini tidak menjadi sikap kita sebagai anak bangsa di masa depan di dlm mengelola bangsa dan negara. 

“Tidak ada pemimpin yang lahir dan menjadi pemimpin tanpa rakyat. Bagi anak bangsa berwatak dan berkarakter pemimpin pantang mengkhianati jerih payah dan perjuangan rakyat,” pungkas Shikka Somgge. (lms)

Amien Rais Warning Jokowi: Jangan Kemaruk dengan Ibu Kota Baru

Sebelumnya

BMKG: Kaltim Bukan Wilayah Aman dari Potensi Gempa dan Tsunami

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional