Tragedi 21-22  Mei  Tidak Bisa Didiamkan, MER-C akan Bawa  ke Mahkamah Internasional
MER-C saat jumpa pers, Sabtu (25/5).
KOMENTAR

TILIK.ID, Jakarta — Aksi damai yang  berakhir tragedi berdarah pada 21 dan 22 Mei 2019 adalah tragedi kemanusiaan. Perhatian dunia pun tertuju pada peristiwa yang menelan korban jiwa itu. 

MER-C, sebuah lembaga kemanusiaan yang melang melintang di banyak negara,  tidak tinggal diam. Sabtu (25/5) mereka kembali menggelar jumpa pers  di kantor pusatnya, Jalan Kramat Lontar Jakarta Pusat. 

 Dalam jumpa persnya, Pendiri MER-C, Dr Joserizal Jurnalis SpOT menyatakan kesedihannya akan terjadinya peristiwa berdarah yang terjadi tersebut. 
 
 “Rasa sedih masih bergelayut di wajah kita semua atas kekerasan yang terjadi pada tanggal 21-23 Mei 2019 itu. Korban yang meninggal dalam demonstrasi tersebut adalah akibat  kejahatan kemanusiaan,” katanya.

Secara tegas, Dr Jose menyatakan, dalam peristiwa perang sekalipun, warga sipil harus dihormati walau dia terlibat dalam proses evakuasi korban, apalagi hanya di dalam demonstrasi. 

Anak kecil, wanita, tokoh agama, kata Jose Rizal,  harus dihormati dan dilindungi, sebagaimana ditetapkan dalam Konvensi Jenewa. 

“Konvensi Jenewa juga mengatur perlindungan dalam peperangan, misalnya ambulance, petugas medis, tidak boleh diserang,” ujarnya. 

Dia menambahkan,   dalam tragedi aksi demonstrasi kemarin, ada beberapa petugas medis dan ambulance yang diserang secara brutal oleh pihak aparat. 

“Sesuai dengan laporan video, foto-foto dari staf medis serta relawan MER-C di lapangan, terlihat  tidak berimbang alat. Misalnya, batu, yang dibawa oleh demonstran  dengan senjata api yang digunakan aparat,” ujarnya.

Kejadian itu juga menunjukkan bukti bahwa pihak aparat menggunakan senjata tajam. Bukti  berupa timbal hitam yang sepertinya mengenai tulang korban, peluru karet dan peluru tajam.

Ia juga menyayangkan penyerangan terhadap jurnalis dalam peristiwa itu, karena, menurut dokter yang sudah berpengalaman menjadi dokter di perang Irak dan Afghanistan, menyerang jurnalis di medan perang saja merupakan sebuah kejahatan, apalagi hanya untuk skala yang lebih rendah seperti demonstrasi.

Jose menyatakan bahwa tim MER-C akan   berdiskusi dengan tim hukumnya untuk melapor tindak kriminal ini ke institusi di luar Indonesia. ”Karena MER-C adalah NGO bersifat universal, maka kami akan menempuh jalur ICC atau ICJ,” bebernya.

Jose mengatakan, kejadian 21 dan 22 Mei 2019 itu adalah kejahatan kemanusiaan. Masalah kemanusiaan tidak bisa dibiarkan. Harus diusut. MER-C pun akan membawa masalah ini ke lembaga internasional.

”Harga dari penyelenggaraan Pemilu kali ini teramat mahal. Belum usai dan terungkap masalah wafatnya  lebih dari 600 petugas KPPS dan ribuan lainnya yang mengalami sakit, kini rakyat Indonesia sebagai pemegang kedaulatan bangsa kembali harus berduka dengan bergugurannya anak-anak bangsa yang ingin menyuarakan aspirasinya,” katanya.

 Data yang dikumpulkan MER-C,  jumlah korban meninggal dalam  aksi massa 21 – 22 Mei 2019 lalu mencapai 8 orang dan sebanyak 737 orang mengalami luka-luka. Rinciannya, sebanyak 93 orang mengalami luka non trauma dan 79 orang luka berat. 
 
 Kemudian, 462 orang mengalami luka ringan dan 95 orang masih dalam pemeriksaan dan belum teridentifikasi luka yang dialami. Dilihat dari usia, para korban kebanyakan berusia muda, yaitu 20 hingga 29 tahun sebanyak 294 orang dan berusia di bawah 19 tahun mencapai 170 orang. 

“Karena itu, MER-C mengecam keras tindakan represif pemerintah dan aparat dalam menangani demonstran yang tidak mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan dan Konvensi Internasional,” katanya. (lma)

Amien Rais Warning Jokowi: Jangan Kemaruk dengan Ibu Kota Baru

Sebelumnya

BMKG: Kaltim Bukan Wilayah Aman dari Potensi Gempa dan Tsunami

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional