TAMASYA ALA ZOU
Ludiro Prajoko
KOMENTAR

Oleh: Ludiro Prajoko

KORAN   The Honest Opinion, menulis sejenis maklumat: “Kematian mengintai di setiap sudut revolusi. Tapi, bila tanpa arti dalam kehidupan ini. Dan, bagaimanapun juga, manusia, toh, pasti mati. Maka, ketimbang menunggu datangnya ajal, lebih baik bergabung dalam revolusi”. Tulisan itu dikutip Lu Bowei dan Wang Gouping dalam The Revolution of 1911: Turning Point in Modern Chinese History, 1991.

Revolusi bukan pesta santap malam, kata Kamerad Mao. Tapi, dimana-mana, revolusi ditandai dengan kegiatan pokok: membunuh manusia secara lahap, layaknya santap malam. 

Memang, di beberapa negara, revolusi tak terkesan ganas, karena julukannya membawa kita mengkhayalkan seorang gadis: Revolusi Anyelir (Potugal 1974), Revolusi Bunga (Hungaria 1956).

Di Cina, kala penghujung dinasti Qing yang ganas menindas, maklumat itu menjadi semacam baskom, yang menampung aneka derita: keteraniayaan, kemalaratan, ketidakadilan, kehampaan,... dan, gemuruh hati.  Bercampur menjadi roh yang meronta-ronta.

Hidup layaknya adonan dalam baskom itu, tentu hidup yang perih tersayat, tak disodori pilihan, bak terkunci dalam ruang yang tak memiliki pintu untuk melenggang keluar. 

Manusia dalam ruang itu, mungkin akan putus asa, menyerah, menunggu ajal. Mungkin juga tidak. Untuk tidak menyerah, manusia dalam ruang itu, membutuhkan semacam yang dipikirkan Bregson: transendensi terhadap maut.  Atau, sejenis harapan, bukan untuk terus hidup, tapi harapan yang menyorong manusia ke kesadaran akan batas ke-manusia-an: aku akan mati. 

Harapan yang mempersoalkan bagaimana aku harus mati. Di titik itu, kematian tak lagi ajal yang mencegat, menghentikan hidup, melainkan sebuah tindak aktif: menjebol ruang.

Benar, rakyat akhirnya nekad: memberontak! Hampir seratus pemberontakan terjadi, dimana-mana, setahun menjelang revolusi. Memang, revolusi, kata seorang filsuf, dijalankan oleh orang-orang yang nekat. Tapi, nekat saja tidaklah cukup. Sebab, revolusi harus dipikirkan. Dan, memikirkan revolusi menjadi tugas orang-orang pintar yang marah. Orang seperti itu, salah satunya, di Cina waktu itu: Zou Rong.

Zou, anak saudagar kaya. Dilahirkan tahun 1885 di Provinsi Sichuan. Kegemarannya membaca. Tahun 1901, ketika Bung Karno dilahirkan, Zou sudah belajar di Toban Shoyin College, Tokyo.  Zou getol terlibat dalam gerakan mahasiswa. Tahun 1903, Zou memprakarsai dan sukses membentuk Aliansi Mahasiswa Patriotik Cina.

Apa yang luar biasa dari Zou Rong? Geming Jun: Tentara Revolusioner! Bukan sepasukan serdadu yang dididik secara khusus di pusat latihan perang, tapi sebuah buku yang puitis. Diterbitkan di Shanghai  bulan Mei, menandai kiprah awal Aliansi Mahasiswa Patriotik Cina. 

Segera setelah itu, layaknya disambar petir, Cina terguncang. Geming Jun meledak layaknya dinamit. Menyemburkan pesan-pesan revolusi, menghentak sebuah bangsa yang tengah menyambut kematian: “Adalah keharusan untuk melakukan revolusi agar bangsa ini memiliki daya untuk hidup lagi”.  Zou memekik.

Zou tampaknya tak dibekali rasa gentar. Mari kita dengar sarannya: “Ayo.. asahlah pedang kalian. Perancis tiga kali menyelenggarakan revolusi. Amerika merdeka setelah perang tujuh tahun. Seperti itu atau tidak, kalian mesti membikin revolusi di Cina”. Geming Jun ditutup dengan lengking: Long live the Republic of Cina. 

Geming Jun memang hanya sebuah buku, berisi kata-kata. Tapi, kata-kata itu getaran jiwa sebuah bangsa yang ditindas, yang kemanusiaannya dicabuli oleh kekuasaan yang tak pernah berhenti merasa digdaya, yang menerus digarong harta benda dan kehormatannya. Maka, Geming Jun memiliki kedahsatan yang melampaui dinamit. Dicetak lebih dari sejuta eksemplar. Rekor tertinggi dari semua buku revolusioner yang pernah diterbitkan sampai akhir dinasti Qing. 

Tahun 1905, Zou Rong berumur 20 tahun dan, mati. Setelah itu, gemuruh suara-suara marah. Rakyat bergerak, memberontak, dan akhirnya, revolusi meledak.  Dinasti Qing yang mencengkeram selama 267 tahun, ambruk. Enam tahun setelah Zou berpulang ke Rakhmatullah, berbaring di sisi Dewa Langit.

Untuk keperluan dalam negeri, dibutuhkan sejumlah anak muda, tak harus seperti Zou. Bukan untuk revolusi, hanya tamasya: menegakkan kebenaran dan keadilan, menyingkirkan para durjana. 

Bila anda berminat: Pendaftaran dibuka sewaktu-waktu.

Kasus UAS dan Ancaman Disharmoni Bangsa

Sebelumnya

Ibu Kota Pindah Ke Kalimantan, Kenapa Gak Ke Beijing?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Gelitik