MENGAPA UMAT ISLAM BERGERAK?
Sepeda Man
KOMENTAR

By Sepeda Man

UMAT  Islam Indonesia hari ini adalah umat Islam yang hatinya terluka, karena selalu difitnah sebagai “pendukung  khilafah”,   “pendukung HTI“, agamanya pun kerap dinistakan oleh kelompok fundamentalis dan dari golongan komunis baru.

Euforia komunis baru dan alumni PKI pernah terjadi tidak lama setelah  Presiden Jokowi dilantik. Sungguh sangat luar biasa. Mereka mendorong seminar nasional PKI/65 dan menuntut ketetapan MPR no 25 tahun 1966 dicabut. 

Apakah muslim itu bodoh semua dan tidak menyimak? Tentu tidak! Muslim semua hanya bersabar, dan saat ini adalah batas kesabarannya.

Mereka hanya menunggu Pilpres 2019. Tapi malang dicurangi dan  dijahati. Kini tentu marah besar.

Dengan dicanangkannya Islam Nusantara yag diduga sebagai pengganti Nasakom (1965), maka umat merasa sedang dibelah bambu. Tapi liciknya menjelang pilpres  Islam Nusantara itu disimpan  dulu di kotak.

Jargon revolusi mental   diperkenalkan oleh Jokowi tidak lama setelah dia dilantik menjadi Presiden. Mirip doktrinnya Karl Marx dan DN Aidit (ketua cc PKI) yang menyatakan agama adalah candu (narkoba),  karenanya nilai agama  harus disingkirkan diganti dengan nilai budaya. Seperti misal jilbab diganti konde.

 PKI memang  sudah dibubarkan,  tapi nampaknya kini di era Jokowi  ada  fenomena gerakan-gerakan  yang ingin menghilangkan  nilai Islam di masyarakat dan juga peran politiknya. 

Menteri Perdagangan Rahmat Gobel yang anti minuman keras misalnya diganti dengan yang kebalikannya. Tiga kader HMI dicopot dari kabinet sekaligus. Dan publik pun  tau kalau  HMI itu adalah musuh bebuyutannya komunis.

Bisa jadi inilah  yang namanya komunis baru (bukan PKI), yang justru lebih berbahaya karena mirip “musang berbulu ayam”. 

Penampilannya sederhana tapi  kejamnya luar biasa terhadap umat Islam, terutama kepada ulama-ulamamya. 

Salah satu kasusnya adalah orang-orang gila yang membacoki ulama. Siapakah yang menggerakkan mesin-mesin gila itu, kok seragam kejadiannya?. Kenapa tidak diusut? Karena gila tentunya!..Dan kemudian disuruh nyoblos pula. ”Memang ini konspirasi paling gila!”

Pidato  anti akherat, pidato anti perda agama juga  menghiasi atmosfir kehidupan Indonesia sebelum pilpres,  membuat rasa pedih umat Islam. Sudah dilaporkan tapi diabaikan.

Tokoh-tokoh Islam pencari Tetelan digunakan mulutnya untuk menyudutkan umat Islam sendiri. Antara lain MMD yang mengatakan Prabowo menang di daerah Islam garis keras.

Tega-teganya   dia ngomong begitu hanya untuk mencari muka, mengapa  tidak diucapkannya   juga  tentang  seluruh daerah yang mayoritasnya non muslim yg memenangkan Jokowi, sebagai area non muslim fundamentalis. 

Lihatlah juga tahun 2016 ketika Pilkada DKI,  di daerah Cililitan yang penduduknya mayoritas kristen,  Ahok menang 100 persen. Tidak disebutnya sebagai  area fundamentalis tuh!.

Umat Islam di era Jokowi memang intensif terus diobok obok dan disudutkan tanpa daya, karena potensi dipecah bambunya besar sekali.

Kini umat Islam hanya memiliki dua pilihan,  diam kemudian menjadi sampah. Atau melawan bersama elemen rakyat lainnya kemudian menjadi bermartabat, hidup tanpa dihina,  di cerca dan disudutkan.

Umat Islam tidak butuh kekuasaan seperti yang dituduhkan kaum fundamentalis dan komunis baru itu. Umat Islam hanya butuh kedamaian, keadilan dan kejujuran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dimana setiap  golongan  punya kesempatan dengan kompetisi yang fair.

Tapi sayang golongan fundamentalis dan komunis baru terus menerus menyudutkan  golongan Islam sebagai pendukung khilafah dan HTI, tentu tujuannya adalah  agar mereka bisa melenggang sendiri mengambil kekuasaan, dan mereka tidak ingin berbagi dengan umat Islam yang mayoritas di negeri ini. Mengapa? 

Karena mereka ingin yang mengatur semua di republik ini. Umat Islam dianggapnya hanya sebagai  penumpang gelap, umat islam hanya dependen (tergantung diajak atau tidaknya saja).. 

Karena itu tidak aneh kaum munafikun ber lomba-lomba mencari muka agar di ajak serta. Inilah cara politik pecah bambu yang brutal di era Jokowi. 

Dan mereka komunis baru dan golongan fundamentalis  sangat paham tentang ini.

Sekarang setelah paham terserah anda, mau diam atau bergerak. 

Apa itu yang dimaksud bergerak? Yaitu hanya datang pada tanggal l 21 dan 22 Mei ke KPU sesuai seruan. Buka dan sahur bersàma sambil menuntut keadilan ke KPU melalui aksi super damai.

Bawa perlengkapan dan makanan dan minuman sendiri, tidak menerima makanan dari orang yang tidak jelas identitasnya termasuk makanan jajanan.

Tentu saja ini kesempatan. Anggap saja sedang piknik rohani. Kapan lagi menjadi saksi sejarah perubahan di negeri ini,  yamg kini sedang berada diterowongan gelap dan di bawah rezim penguasa otoritarian yang membiarkan Islam direndahkan.

Salam

Kasus UAS dan Ancaman Disharmoni Bangsa

Sebelumnya

Ibu Kota Pindah Ke Kalimantan, Kenapa Gak Ke Beijing?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Gelitik