TEROR
Ludiro Prajoko
KOMENTAR

Oleh: L. Prajoko

LA GRANDE terreur. Sekelumit tentang teror: buah tanggan Robespierre, kepada siapa para teroris selayaknya melantunkan puji-pujian. Revolusi belum reda, suatu hari, di Paris, Robespierre dan para Deputi Montagnard, menetapkan Komite Keamanan Umum. Lantas, menerapkan hukum Draconian: memenjarakan dan mengeksekusi, tanpa banyak cing-cong, siapa saja yang dicap penentang revolusi. Lalu, orang ramai berteriak: teror, teror..

Para bangsawan, pendeta, dan kaum borjuis Perancis menjadi sasaran aksi teror Komite. Tapi, secara absolut, kata Theda Skocpol, yang terkena ‘peraturan’ Komite kebanyakan petani dan kaum miskin perkotaan. Kebanyakan mereka berasal dari daerah-daerah pemberontakan, kampung halaman para penyulut revolusi. 

Revolusi memang gemar mengeremus anaknya sendiri, seiring malam yang dirangkai dengan pisau-pisau panjang. Mantra revolusi: liberte, equalite, fraternite, menjelma menjadi kengerian yang mencekam. Robespierre mengajak bercumbu, sebelum akhirnya, ia dipenggal batang lehernya dengan pisau Guilotin.

Because terror, not merely death. Kata John Rees. Teror memang bukan sekedar membikin mampus. Tapi, policy agar prosesi pembunuhan menciptakan kengerian yang mencekam.  Kengerian membuat manusia mudah copot akal sehatnya: syarat untuk menciptakan ketakutan dan kepatuhan kolektif. Teror memang kerabat dekat politik.

Ada banyak contoh bagaimana teror, dirancang sebagai metode, siasat perjuangan politik. Salah satunya ditunjukkan oleh The Shining Path, Sendero Luminoso: Partai Komunis Peru, dalam upayanya merebut kekuasaan. Dan, tragedi Malena amat mengenaskan. 

Maria Elena Moyano, akrab disapa Malena.  Wakil Walikota Villa El Salvador. Aktivis gerakan kiri, namun anti Sendero. Suatu hari di bulan Pebruari 1992, ia menghadiri suatu kegiatan sosial. Tiba-tiba, dari seberang jalan, sepasukan serdadu menyerbu. Malena tewas diberondong senapan otomatis, di hadapan sanak famili dan sejawat. Anak-anaknya tercekat, tak sadar untuk menjerit.  Dengan tak tergesa-gesa, serdadu Sendero menyeret jasad Malena, menggeletakkannya di badan jalan. Saku baju Malena basah penuh darah. Di saku itu, serdadu Sendero meletakkan sebiji bom, lalu melambaikan tangan: pamitan. Sesaat kemudian, jasad malena meledak, hancur.

Kita juga diperkenalkan dengan terror: Bom Bali, … , Selebihnya, ada saja, aksi teror kecil-kecilan, sekalipun  tetap mengagetkan. Karena, melibatkan unsur bom dan gereja. Mungkin, memang ada banyak alasan, sehingga pelaku merasa bulat hati untuk melakukan aksi itu dengan imbalan mati. 

Ideologi teror sejauh ini, didominasi oleh sejenis ‘perang suci’. Teror dilakukan dengan keyakinan semata-mata membela Tuhan. Sang pelaku yakin telah mendapat mandat suci untuk mengemban tugas itu. Tampaknya, si pelaku memang tulus dan polos dengan keyakinannya. Bila tidak demikian, maka, boleh jadi benar: aksi-aksi teror itu, buah bincang-bincang di sebuah ruangan yang berhawa sejuk.  

Teror: socialization of danger, kata Townshend. Sejenis wirausaha untuk menebar bahaya, menciptakan ketakutan, menimbulkan kekacauan. Semua itu, dalam kasus Sendero, bertujuan merontokkan penguasa. 

Jelas, teror model Sendero sama sekali tak cocok untuk Indonesia. Sebab, penguasa di negeri ini kebal bom. Penggantian atau penyingkiran penguasa di negeri ini, mapan seturut cara dan gayanya sendiri: Pemilu atau massa dalam jumlah besar yang berkerumun disuatu tempat: People Power. Bedanya, people power tak bisa digelar sewaktu-waktu sebagaimana teror. Atau, periodik layaknya Pemilu. Beramai-ramai mengganti rejim, sesuai pengalaman historis, terjadi sekali dalam rentang waktu puluhan tahun. Memang, ada kalanya bisa dipercepat.  

Jadi, perkakas macam apakah teror itu di negeri ini?   Belum dapat dijelaskan dengan pasti. Boleh jadi, perlu dirumuskan teori baru untuk menjelaskannya: bertolak dari ratusan petugas yang tewas, dalam Pemilu yang diduga berbuntut People Power.

Anies Ingin Dijadikan Tumbal

Sebelumnya

Brimob Jahat dan Brimob Baik

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Gelitik