Prabowo Tarik Diri dari Proses Penghitungan Suara Pilpres
Ferry M Baldan bersama tim BPN lain.
KOMENTAR

TILIK.ID, Jakarta — Capres 02 Prabowo Subianto mengambil keputusan yang tak biasa. Dalam pidatonya   sore tadi di Hotel Sahid, setelah disampaikan fakta-fakta kecurangan dan penghitungan suara berbasis C1, ia menarik diri dari proses penghitungan suara Pilpres. 

Itu disampaikan saat capres Prabowo Subianto yang hadir di Hotel Sahid menegaskan tidak akan mengakui hasil pilpres yang curang.  

“Sikap saya, yang jelas saya akan menolak hasil penghitungan pemilu. Hasil penghitungan yang curang. Kami tidak bisa menerima ketidakadilan dan ketidakjujuran. Saya dan Saudara Sandi bukan atas ambisi pribadi ingin jadi apa-apa. Demi Allah tidak ada niat. Sesungguhnya jika kau tanya hati saya, saya inginnya istirahat,” katanya.

Dari pernyataan Prabowo itu, BPN memutuskan capres 02 menarik diri dari proses penghitungan suara pilpres. Sikap itu disampaikan oleh Direktur Relawan BPN Prabowo Sandi Ferry Mursyidan Baldan di depan Relawan Kolaborasi Aktivis untuk Prabowo-Sandi (KAPAS), di sela acara buka puasa bersama, Selasa. 

Menurut Ferry, penarikan diri  dilandasi oleh kecurangan yang secara terstruktur, sistematik, dan masif.  Kecurangan ini, katanya, nyaris tidak diproses, baik KPU maupun Bawaslu. 

Dikatakan, seluruh laporan pengaduan kesalahan yang disampaikan BPN nyaris tidak diproses. “Seperti tidak ada lagi upaya untuk menghentikan proses yang curang ini,” kata Ferry. 

Banyak modus-modus kecurangan yang terjadi dalam pemilu dan Pilpres 2019 ini diungkapkan oleh Ferry. Karena saluran-saluran penyelesaian tidak lagi bisa dipercaya untuk menyelesaikan masalah. 

“Jadi sudah kita kaji secara mendalam, tidak perlu lagi mengikuti proses penghitungan suara pilpres,” kata Ferry. 

Usulan agar membawa  ke Mahkamah Konstitusi (MK), kata Ferry, tidak tepat. Sebab yang terjadi adalah kecurangan TSM, bukan perselisihan hasil pemilu.

“MK mengadili perselisihan hasil pemilu dan judicial review. Kecurangan pemilu, termasuk pilpres,  ke Bawaslu. Tapi melihat  kecenderungan Bawaslu den KPU sepertinya berat untuk netral,” katanya. 

Untuk hasil penghitungan BPN berbasis C1, Ferry mengatakan, hasil suara berbasis C1 yang direkapitulasi menunjukkan angka 54,24 persen untuk kemenangan Prabowo-Sandi dan 44,14 persen untuk Jokowi-Ma’ruf Amin. 

“Ini berdasarkan C1 dari 444 ribu lebih yang clean. Kalau C1 yang masuk 1,2 lebih.  Namun yang dihitung sampai saat ini 400 ribu lebih yang clear,” katanya.  (lms)

Fahri Hamzah: Masalah Menumpuk di Karpet Istana

Sebelumnya

PKB Sukses di Pemilu, Muhaimin Terpilih Lagi di Muktamar Bali

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Politik