MUSIM SEMI KHIANAT
L Prajoko
KOMENTAR

Oleh: L. Prajoko
(Senior HMI dan Mantan Anggota DPRD Jember)

EROPA sedang dicekam Nazi Hitler, ketika Julien Benda menulis tentang kaum cerdik pandai yang khianat. Sesungguhnya, Benda bertutur ihwal Cendekiawan: wujud darah dan daging kebenaran.  Sosok yang tercerahkan. Mereka yang tak henti berikhtiar membersihkan ‘yang benar’ dari semua muslihat, unsur yang mengecoh, agar ‘yang benar’ hadir dalam derajat kemurnian 24 karat. 

Dalam setiap kebenaran, selalu tertancap: kejujuran, keadilan, keberanian, dan semua yang luhur. Memang, kebenaran tak selalu membawa nasib baik. Tapi, mereka yang teguh di jalan lurus, yakin: magna est veritas et praevalebit: kebenaran itu sungguh kuat, dan ia pasti akan menang. Inilah alasan Tuhan itu eksis. Karena, Tuhan: kebenaran absolut.

Kerajaanku bukan di bumi, tutur Benda menggambarkan keharusan kaum Cendekiawan menjaga jarak dari gemerlapnya dunia. Tak sudi menghamba pada materi. Tak sudi bersimpuh pada kekuasaan. Mereka hanya selalu berpihak kepada kebenaran, membela yang ditindas. Seperti Zola yang berdiri tegak seorang diri melawan Perancis, menuntut keadilan bagi Dreyfus. Sungguh, bangsa ini membutuhkan para pelanjut Zola. Syukur-syukur bila, salah satunya, muncul dari Tulung Agung. 

Maka, terkutuklah para cerdik pandai yang membutakan mata dan hatinya terhadap segala aniaya yang menciderai kebenaran, lantaran mengais remah-remah kekuasaan. Kutukan yang mengubah mereka menjadi seonggok nista.

Boleh jadi, karya Benda menjadi salah satu buku yang abadi. Keabadiannya bersemayam pada kenyataan: selama ada kekuasaan, selama itu pula ada pengkhianatan kaum cerdik pandai: mereka yang telah menapaki dunia keilmuan secara ketat. Puncak gelarnya: Profesor.  Lalu, mencuat keriuhan: seorang profesor ilmu hukum menjlentrehkan “yang benar” berdasar pada keyakinannya atas kebenaran angka-angka yang dicurigai khalayak ramai sebagai hasil perselingkuhan. Sementara ia tak memedulikan teriakan khalayak ramai: Brutal…. Brutal! 

Di dalam rumah demokrasi, kekuasaan dipersilakah masuk melalui pintu Pemilu. Kaidah itu disepakati untuk mencegah maling nyelonong. Ternyata, demokrasi itu sejenis raksasa yang gampang diringkus. Mungkin, karena berdiri diatas asumsi yang rapuh: dunia ini baik dan, selalu baik-baik saja. 

Tak pernah terlintas dalam benak demokrasi: survei menjadi persekongkolan kartel muslihat untuk mengacak-ocok angka. Pers-media, khususnya televisi, menjadi mesin yang menjebak publik dalam kesesatan umum. Diskursus, opinion making process, menjadi usaha sepenuh hati mencipta kebohongan, untuk dijejalkan dalam benak rakyat. Lalu, sambil terkekeh mengkhotbahkan perspektif baru yang nyleneh: post truth… post truth.  Hanya para cerdik pandai yang bisa melakukan semua itu. 

Selebihnya, di luar sana, meriah karnaval venale pecus: massa yang di jidatnya tertempel stiker: dijual dengan harga bersaing.  

Pemilu: pintu kekuasaan yang penuh giur. Kesanalah berombong-rombong cerdik pandai pelesir, menikmati musim semi khianat yang sempurna. 

Pasti, bukan salah Benda. 

Anies Ingin Dijadikan Tumbal

Sebelumnya

Brimob Jahat dan Brimob Baik

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Gelitik