Amankan C1 dan Lawan Lelah
Bang Sem
KOMENTAR

By: Bang Sem

LUPAKAN  sejenak ihwal angin kompresor yang menghembuskan isu ihwal daerah Islam Garis Keras yang memenangkan Prabowo Sandi.  Lihat dan cermati Sandiaga Uno dan Mpok Nurasia menjalankan perannya, menyambangi para relawan yang berkutat memburu dan mempertahankan C1 plano yang berhubungan erat dengan sistem perhitungan Komisi Pemilihan Umum (KPU). 

Amati, amati dan amati peristiwa yang terjadi di Cileungsi dan Halmahera Selatan. Abaikan isu ihwal kepindahan Ibu Kota Negara yang akan mewujud entah bila. Abaikan canda pandir di Istana, yang menirukan para veteran dan purnawirawan pejuang yang memberi hormat kepada Prabowo sebagai Presiden. 

Ikuti gerak irama karib harmonitas Prabowo dan Sandiaga Uno dalam bincang ringan menyapa para relawan. Ikuti dengan seksama, semangat emak-emak yang merindukan transformasi sebagai perubahan dramatik, sebagai bagian dari tanggungjawab sebagai warga negara yang berakalsehat. 

Jangan terkecoh, meski hanya sekejap dari berbagai isu, meski bakal menjadi beban di hari esok. Mulai dari penandatanganan perjanjian OBOR (One Belt One Road) sampai isu perang dagang Amerika Serikat versus Republik Rakyat China, karena Prabowo Sandi berkomitmen melakukan reorientasi pembangunan, sampai klaim-klaim keterbukaan informasi KPU yang ditabalkan Komisi Informasi Publik. 

Fokus pada C1, karena inilah satu-satunya ‘senjata’ melawan C yang lain: Curang! Selebihnya adalah kerja gembira untuk melawan musuh utama: Lelah! 

Pendek kata, semua ihwal yang akan menambah-nambah kelelahan, abaikan. Kerja gembira memperoleh dan mempertahankan C1 yang juga menjadi salah satu referensi utama kita sebagai rakyat untuk mempertahankan suara kita sebagai penanda kedaulatan yang nyata. 

Di era kebohongan menjadi imam (post truth) dan perwadulan (hoax) menjadi gaya hidup, shaf (barisan) harus tetap diluruskan, keteguhan sikap dan iman harus menjadi tiang sangga utama keyakinan.  

HOS Tjokroaminoto jauh sebelum Republik Indonesia ada dan kemerdekaan bangsa diproklamasikan 17 Agustus 1945, sudah mengingatkan tiga hal utama yang harus selalu dipegang: sebersih-bersih tauhid, setinggi-tinggi ilmu pengetahuan, dan sepandai-pandai siyasah.  

Secara imani, semestinyalah di dalam jiwa dan batin kita terus kuat keyakinan: nasrun minallah wa fathun qariib (pertolongan datang dari Allah dan kemenangan sudah tiba) untuk sungguh menjemput: inna fatahna la ka fathan mubiina,  kemenangan yang nyata. 

Sebagai insan yang berteguh pada keyakinan kuat atas “jalan keselamatan,” dengan kewarasan intelektual (kaum berakalbudi sehat) yang tak terjebak intelektualisme yang mudah memainkan akal-akalan politik, kita tak boleh henti kreatif.  

Boleh bisikan nurani, “yakin usaha sampai,” tapi harus diwujudkan dengan cara yang benar, bukan dengan alasan pembenaran.  

Pahamilah C1 adalah senjata utama untuk melawan C (curang), dan akan menjadi bagian penting dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mewujudkan kebenaran, sebelum takdir Allah tiba.  

Amankan C1 dan lawan lelah. Karena lelah adalah musuh utama kita. Inilah jalan rekonsiliasi kita dengan diri sendiri yang jauh lebih utama, bukan rekonsiliasi yang dimaksudkan orang lain. Karena kita sedang berkompetisi. Dalam kompetisi atau kontestasi, yang harus dilakukan adalah memelihara komitmen secara konsisten untuk bertindak jujur dan adil. 

Perjuangan menegakkan kejujuran jauh lebih utama sebagai manifestasi ibadah menegakkan kebenaran dan keadilan. Ingat filosofi indah dari Madura:  “Oréng jhujhur maté ngonjhur.”  (Orang jujur, mati berselonjor). Orang jujur, hidup dan mati dalam kebaikan berujung husnul khatimah. Ini yang harus kita pertahankan, karena pergerakan waktu sangat cepat, dan kita sudah sampai di titik ra’para’ élong (momentum di depan hidung).  

Kita wajib menegakkan kejujuran, karena dari Bugis, nenek moyang kita mengingatkan:

”La ritu decennge kui mompo ri lempu-e. Naiya to malempu-e ripujiwi ri Allah Taala, narieloriwi ri to linoe. Apaq nakko malempukiq, mangkauq madengngiq ri padatta rupa tau. Naiya gauk madecennge ripogauq, nakko tettallei decenna ri aleta kupasi ri anatta, ri wija-wijatta talle decenna. De pura-pura tennapakkecappakiwi eceng Allah Taala tau mangkauq madecennge, enrenge to malempue. Naia gauk bawannge, enrenge cekoe, narekko ettallei jana ridiq, kupasi ri anaqta, riwija-wijatta talle jana. Apaq de pura-pura nakkulle tennacappakeng ja gauk bawannge, enrenge cekoe.”   (Kebaikan tersebab oleh kejujuran. Orang jujur disayangi Allah Taala, disukai oleh insan sesama. Jika kita jujur dan berbuat baik terhadap sesama manusia. Adalah perbuatan yang baik itu. Jika bukan kepada kita nampak kebaikannya, tak mungkin tidak diberi akhir kebaikan kepada Allah Taala (husnul khatimah) bagi orang yang jujur. Ihwal kesewenang-wenangan dan keculasan, jika tak ditampakkan kejelekannya kepada kita, niscaya akan tertampak pada anak kita, turunan kita. Sebab kesewenang-wenangan dan keculasan, itu tidak mungkin tidak berakhir dengan kejelekan). 

Perjuangan kita kini bukan lagi perjuangan ‘kalah dan menang’ untuk urusaan politik. Kita memperjuangkan kejujuran untuk mengatasi agar kecurangan dan kebohongan tidak menjadi kebiasaan dalam proses demokrasi ke depan. 

Batin kita merasa, selama ini proses Pemilu, seperti digambarkan dalam ungkapan Aceh: 

“Walanci walancee, menoe di pubuet meudeh di pikee’, laen dipegah laen di seumikee, dudoe akhee buet, sabee dalam pakee, menyoe han ek lei di pikee, laju di peu binasa sampe matee.”  (Lain yang diucapkan, lain yang dikerjakan lain pula yang dipikirkan, akhirnya selalu menimbulkan kegaduhan. Bila tak sanggup lagi dipikirkan, maka dibinasakan sampai mati). 

Orang tua kita di Minang selalu berpesan, “nak luruih rantangkan tali, luruih bana dipacik sungguah.” (Senantiasalah bersifat lurus dan tulus ikhlas, yakni selalu bersifat benar dan jujur).  

Karenanya, siapapun yang dinilai rakyat Minang tak benar dan tak jujur, tak akan pernah mendapat hati, meski berjuta upaya dilakukan. 

Para Kai (kakek) dan Tuan Guru di Banjar, selalu mengingatkan: “Asal mambawa nang bujur atawa banar musti salamat diri.” Kejujuran dan kebenaran akan menyelamatkan diri siapa saja.  Dalam konteks kontestasi politik, kebenaran dan kejujuran menjadi landasan agar tak sampai memilih pemimpin yang kualifikasinya “bagung jadi raja.” Pemimpin yang dipilih ‘sesuka hati’ akan memerintah ‘sesuka hati’ pula. 

Kerja gembira menjaga C1 dan terus memelihara stamina melawan lelah adalah jalan utama kita sungguh menabalkan kemenangan sejati. Karenanya, jangan pernah putus bersilaturahmi dengan seluruh relawan, kendati orang-orang politik atau petinggi partai politik, bisa bertelingkah untuk kepentingan syahwat politiknya. |

Jarak Kebenaran dan Pilpres

Sebelumnya

UMI CIA

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Imaji Sem