Jalan Sehat KFJS Yes, Diskusi Pilpres Yes
Diskusi lesehan usai jalan sehat KFJS Jakarta edisi Sabtu (27/4).
KOMENTAR

TILIK.ID, Jakarta — Kegiatan jalan sehat dan silaturahmi KAHMI Forever Jalan Sehat (KFJS) Jakarta edisi Sabtu (27/4) di Monas masih dihangatkan dengan perbincangan-perbincangan seputar hasil pemilu legislatif dan Pilpres 2019. 

Itu terlihat dalam diskusi lesehan usai jalan sehat beberapa putaran mengelilingi tugu Monas. Begitu biasanya, usai jalan, para mantan aktivis HMI di jamannya ini duduk lesehan  sambil berdiskusi.

Hadir pada kesempatan itu antara lain pendiri KFJS Afni Achmad, Tigor Sihite, Awad Bahasoan, Martunus, Ichwan Mahyuddin, Asnawi Hamid, Agus Salim, Giesz Chalifah, Komaruddin Rachmat, Djabir Mawardi, Abdullah Hafid.

Sedangkan dari kalangan perempuan hadir antara lain Dhifla Wiyani, Jumrana Salikki, Yuzaini Asnan, Farida Islahiyah, Helwa Alkatiiri, dan Kasma Kasim. 

Afni Achmad (tengah) memimpin diskusi di Monas.

Pemilu 2019 yang dilakukan  secara serentak 17 April lalu itu terdiri dari pemilu legislatif untuk DPRD Kabupaten/Kota, DPR Provinsi, DPD, dan DPR RI. Selain itu, juga ada pemilu presiden (Pilpres).  Dari item-item pemilu itu, pilpres paling menyedot perhatian. 

 Buktinya, tidak hanya ramai dibicarakan di kalangan politisi, tapi juga di hampir semua strata masyarakat. Di kalangan KAHMI dan KFJS pun, gonjang ganjing pilpres tak henti dibicarakan. Dua kutub Capres saling klaim menang. 
 
  Dua kubu saling klaim menang ini pun sudah meluaskan eskalasinya pada isu kecurangan dan kemungkinan memicu people  power. Debat tentang kecurangan akhirnya menjadi topik hangat di Monas ini. 
  
  Afni Achmad, Awad Bahasoan, dan Ichwan Mahyuddin ibarat menjadi narasumber diskusi. Quick count sudah lewat dengan segala kontroversinya, sehingga para kubu  calon presiden  harus menyiapkan perang kedua. Yakni perang C1. 
  
  “Ada pertnyaan mengapa situng KPU begitu lambat, dan hasilnya konstan dari awal sampai sekarang dimenangkan Jokowi?  Bisa jadi data yang dientry merupakan data pilihan. Misalnya C1 yang dimenangkan Paslon 01,” kata Ichwan Mahyuddin. 
  
  Kalau itu yang terjadi, apakah itu kecurangan? Kalau kecurangan, apakah itu sistematis, terstruktur dan masif?  “Kalau masif, polanya berulang-ulang. Lihat saja, berapa kali salah input. Dan itu tidak sekali saja,” kata Awad Bahasoan.
  
  Nah mekanisme  KPU itulah yang  dipertanyakan juga oleh Tigor Sihite. Masalahnya  karena publik diframing apapun hasilnya maka KPU lah yang benar, walau itu salah dan terindikasi menguntungkan capes tertentu.
  
  “Padahal bisa jadi KPU juga bagian yang bermasalah, apalagi tidak responsif menjawab kasus-kasus yang terungkao di media sosial,” katanya.  
  
  Yang menarik ketika diskusi sampai pada kemungkinan people power. Geisz Chalifah kembali ke belakang, bawa bandul kekuasaan berganti setelah refornasi. Gerakan reformasi 1998 terjadi karena ada korban.  Sejarah 1966 juga karena ada korban. 
  
  “Kecurangan sistematis, terstruktur, masif sudah banyak dibuktikan di medsos. Tapi untuk gerakan people power, apa pemicunya?” tanya Geisz Chalifah. 


 

Geisz mengakui gerakan kelas menengah muslim memang tengah bangkit.  Emak-emak dan milenial mulai berani bersuara.  Tapi apa itu bisa menjadi embrio people power? “Tidak akan,” katanya. 
  
  Diskusi jadi menarik ketika bertanya siapa menang versi KPU? Ichwan Mahyuddin yang aktif menganalisis perolehan suara di situng KPU mengtakan Prabowo menang jika tanpa rekayasa sistem dan C1.  Kita tunggu 22 Mei mendatang. (lma)

KFJS Jakarta Jalan Sehat dan Diskusi Lagi

Sebelumnya

Jalan Sehat KFJS Jakarta Jelang Ramadhan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel News