Nama Anies Dicatut  sebagai Penulis, Ternyata Punya Azwar Siregar
Tulisan Azwar Siregar di facebook
KOMENTAR

TILIK.ID, Jakarta — Sebuah tulisan terkait Pilpres 2019 dan Prabowo yang ditulis oleh Anies Baswedan menjadi viral di media sosial.  Ternyata nama Gubernur DKI Jakarta itu dicatut sebagai penulis. Penulis yang sebenarnya ialah Azwar Siregar. 

Penelusuran TILIK.ID tulisan berjudul  “Sujud Kemenangan Pak Prabowo”  berasal dari akun facebook Azwar Siregar. Azwar menuliskan namanya sendiri sebagai penulisnya, namun di medsos nama Azwar Siregar diganti menjadi Anies Baswedan. 

Nama Anies jelas dicatut. Sebab, di akun medsos Gubernur DKI Jakarta itu sendiri, seperti facebook dan instagram, tidak ada postingan tulisan yang sama. Begitu juga di media-media online tidak ada tulisan Anies Baswedan dengan judul Sujud Kemenangan Pak Prabowo.

Sontak tanggapan dan bantahan pun mengalir. Geisz Chalifah di grup WA KAHMI Forever adalah orang Anies yang langsung membantahnya. Geisz menyatakan tulisan atas nama Anies Baswedan itu adalah hoax dan mencatut nama. 

“Beredar  hoax sebuah tulisan yang diberi tambahan oleh orang Iseng seolah tulisan Anies Baswedan.   Penulisnya bernama Azwar Siregar sesuai yang ditulis distatusnya (facebook), kataGeisz.

Sedangkan semua tulisan Anies, tambah Geisz,  bisa  dichek di link FBnya Anies Baswedan.  Tidak ada tulisan  tersebut. Yang  benar adalah tulisan Azwar Siregar seperti yang  tertera di FB-nya. 

Seperti apa isi dan tujuan tulisan tersebut? Berikut tulisan asli Azwar Siregar itu.

Sujud Kemenangan Pak Prabowo

Oleh Azwar Siregar

Banyak sahabat yang menyayangkan Klaim dan Sujud kemenangan Pak Prabowo. Alasan kawan-kawan karena masih terlalu prematur. Apalagi dihampir semua hasil Quick Caunt Pak Prabowo justru kalah.

Benarkah demikian?
Menurut saya sikap Pak Prabowo justru sudah sangat tepat. Lebih tepat lagi, sikap itu yang saya tunggu.

Jujur saja, semangat saya sempat down. Ketika Lembaga-lembaga Survey yang kita tahu semuanya sudah diundang makan siang ke Istana membuat Quick Count, sudah pasti hasilnya akan menggiring opini yang bisa dijadikan dasar untuk segala macam upaya-upaya kecurangan.

Beberapa bulan yang lalu saya sudah menuliskan tentang hal ini, tapi tetap saja semangat dan moralitas saya jatuh ketika fakta upaya kecurangan ini dilakukan.

Alhamdulillah, justru semangat dan moralitas saya re-charge, kembali full ketika Pak Prabowo menyampaikan klaim kemenangan dan sujud syukur. Artinya Pak Prabowo kali ini tidak akan pasrah lagi “dikerjai” seperti Pilpres 2014 silam. Pak Prabowo tidak akan diam lagi di zalimi.

Tentu saja kalah dan menang disetiap kompetisi adalah hal biasa. Justru yang kita lawan adalah segala bentuk upaya kecurangan. Berbagai kecurangan, mulai dari intimidasi, pengerahan aparat dan perangkat desa untuk memenangkan petahana , melibatkan ASN sampai Karyawan BUMN untuk meramaikan kampanye sampai kertas-kertas suara yang dicoblos duluan adalah fakta yang terang-benderang terjadi selama Pilpres sekarang ini. Ditambah keberpihakan hampir semua media dan lembaga-lembaga survey yang terang-terangan melacurkan ilmu statistik demi uang miliaran rupiah.

Sekarang para pelacur ilmu statistik itu dengan hanya bermodalkan survey di 2000 sample TPS dari total 813.350 TPS se Indonesia, mencoba membuat kecurangan. Seperti biasa.

Menurut saya, ini adalah upaya terakhir yang coba mereka lakukan untuk tetap mempertahankan kekuasaan. Menggiring opini masyarakat khususnya di perkampungan dan pelosok-pelosok bahwa salah satu Paslon sudah menang. Seakan-akan hasil Quick Count dari data secuil bisa mewakili perhitungan secara keseluruhan TPS se Indonesia.

Pertanyaannya: 
Berulangkali Lembaga-lembaga Survey salah prediksi seperti di Pilgub DKI dan Pilkada-Pilkada se Indonesia, mereka tidak pernah dihukum.  Selalu saja Lembaga-lembaga Survey berpihak ke Petahana atau calon-calon Kepala Daerah yang merapat ke Penguasa. 

Masalahnya, ketika berkali-kali Lembaga Survey salah, kesalahan mereka tidak pernah dimintakan pertanggung jawaban. Padahal setiap rilis hasil survey mereka sangat membahayakan karena bisa dijadikan dasar bagi “yang berkuasa” untuk berbuat kecurangan.

Sampai detik ini, saya haqqul yakin kalau Pak Prabowo dan Sepupu Sandi masih menang telak. Mungkin tidak sampai 68 persen. Tapi paling tidak mendekati angka 60 persen. Harapan kita tersisa pada hitungan manual. Terima kasih para saksi sukarelawan yang sampai detik ini berjuang mengawal hasil Pilpres. Khususnya para saksi dari PKS yang terkenal paling militan. 

Klaim kemenangan Pak Prabowo menurut saya lagi-lagi bisa menjadi sprit mereka untuk tetap semangat dan tidak menyerah. Kalau perkiraan saya terbukti kelak, tolong rezim Prabowo-Sandi ingat, siapa-siapa yang berkeringat dan siapa-siapa yang cuma mendekat karena manisnya gula.

Sekali lagi, Insya Allah, Prabowo-Sandi menang telak !!!

 (lma)

Penanganan Sumur YYA-1, Pengeboran Relief Well Tembus 1.947 Meter

Sebelumnya

Situasi Makin Kondusif, Pertamina Kembali Salurkan BBM di Papua

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel News