Ini Survei LSI Denny JA tantang Parpol Pemenang, Lolos, dan yang Terhempas
KOMENTAR

TILIK.ID, Jakarta — Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA  hari ini mengumumkan hasil surveinya menyusul hasil survei elektabilitas dua padangan  capres sehari sebelumnya. Rilis survei hari ini menyangkut parpol pemenang, yang lolos dan yang terhempas.

 Menurut hasil survei LSI Denny JA ini, PDIP diambang juara Pemilu Legislatif 2019. Golkar dan Gerindra berebut posisi kedua. PKB dan Demokrat ada diurutan selanjutnya. Dilihat dari data survei, sepuluh partai potensial lolos PT 4%, dengan catatan PKS, PPP, PAN, Nasdem, dan Perindo masih rawan. 
 
“Enam partai perlu langkah big bang untuk lolos PT 4 persen,  yaitu Hanura, PBB, PSI, Berkarya, Garuda, dan PKPI,” kata peneliti LSI Denny JA Ikrama Masloman saat menyampaikan hasil survei lembaganya di Graha Rajawali I Jakarta, Sabtu siang (13/4).

Menurut Masloman, penarik dukungan paling kuat adalah asosiasi dengan pasangan Capres-Cawapres, dalam hal ini parpol yang diuntungkan adalah PDIP, Gerindra, dan PKB. Penarik dukungan selanjutnya adalah kedekatan emosional dengan partai yang pernah juara, yang diuntungkan PDIP, Golkar, dan Demokrat. 

Penarik dukungan juga karena kekuatan caleg, yang diuntungkan PDIP, Golkar dan Nasdem. Penarik dukungan melalui kekuatan jaringan media yang diuntungkan Nasdem dan Perindo. Dan penarik dukungan grassroot yang diuntungkan PDIP dan PKS. 

“Potensi perolehan ini akan bertahan dengan asumsi golput terdistribusi secara proporsional, dan tidak ada kejadian luar biasa yang terjadi pasca dilakukan survei ini,” katanya. 

Survei  LSI Denny JA ini  dilakukan pada tanggal 4 - 9 April 2019, dengan menggunakan 2000 responden. Survei dilakukan di 34 Propinsi di Indonesia dengan metode multistage random sampling. 

Wawancara dilakukan secara tatap muka dengan menggunakan kuesioner. Margin of error survei ini adalah 2.2 persen  Selain survei, LSI Denny JA juga melakukan riset kualitatif dengan metode FGD, analisis media, dan indepth interview untuk memperkaya analisa survei. Survei ini dibiayai sendiri oleh LSI Denny JA.

 Dikatakan, PDIP potensial juara Pemilu 2019, dengan perolehan suara berkisar 26.7 persen - 31.1 persen.  Tampilan elektabilitas ini sudah memperhitungkan margin of eror dan asumsi golput yang terjadi secara proporsional. 
 
 PDIP urutan pertama bukan hanya terjadi di bulan April saja tetapi konsisten setiap bulan dari bulan Agustus 2018 sampai April 2019. Perolehan tertinggi PDIP ada dibulan Februari 2019 dengan elektabilitas mencapai 28.3 persen dan terendah di Januari 2019 dengan 23.6 persen.
 
Gerindra dan Golkar berebut posisi kedua. Gerindra elektabilitasnya berkisar 13.4 persen - 17.8 persen.  Golkar elektabilitasnya berkisar 11.5 persen - 15.9 persen.  Dilihat dari elektabilitas kedua partai, masih memungkinkan saling menggeser untuk menjadi runner up pileg 2019. 

“Gerindra dan Golkar selalu bersaing tidak hanya di bulan April ini, tetapi semenjak Agustus 2018. Meskipun posisi Gerindra konsisten di atas Golkar dari Agustus 2018 hingga April 2019, namun selisih keduanya masih dalam margin of error,” katanya.

Menurut LSI, PDIP, Gerindra, dan Golkar adalah tiga besar partai pada Pileg 2019. PDIP elektabilitasnya berkisar 26,7 persen - 31.1 persen, Gerindra elektabilitasnya berkisar 13.4 persen - 17.8 persen dan Golkar berkisar 11.5 persen - 15.9 persen. 

 Posisi tiga besar partai juga tidak berubah dalam kurun waktu sembilan bulan dari Agustus 2018 hingga April 2019. PDIP konsisten di urutan pertama, Gerindra dan Golkar di urutan selanjutnya dengan selisih margin of error.

 Lalu bagaimana dengan parpol lainnya? Sepuluh parpol potensial lolos PT 4 persen,  yaitu PDIP dengan elektabilitas berkisar 26.7 persen - 31.1 persen Gerindra (13.4 persen - 17.8 persen), Golkar (11.5 persen - 15.9 persen), Demokrat (4.6 persen - 9.0 persen), PKB (4.5 persen - 8.9 persen), PKS (3.8 persen - 8.2 persen), Nasdem (3.5 persen - 7.9 persen), Perindo (2.3 persen - 6.7 persen), PPP (1.9 persen - 6.3 persen), dan PAN (1.4 persen - 5.8 persen). 
 
 Untuk PKS, Nasdem, PAN, PPP, dan Perindo masih rawan walau potensial untuk lolos. Tampilan elektabilitas diatas dengan kisaran karena memperhitungkan margin of error dan asumsi golput yang terjadi secara proporsional.
 
Enam parpol perlu langkah big bang untuk bisa lolos PT 4 persen.  Yaitu, Hanura dengan elektabilitas berkisar 0.5 persen - 3.2 persen,  PBB (0.5 persen - 3.2 persen), PSI (0.5 persen - 3.2 persen), Berkarya (0.5 persen - 3.0 persen), Garuda (0.4 persen - 2.6 persen), PKPI (0.3 persen – 2.3 persen). 

“Jika tidak ada langkah big bag, enam partai ini terancam terhempas pada pileg 2019,” urai Masloman. 

Dikatakan, setidaknya ada lima faktor penarik dukungan pemilih kepada partai. Yaitu, asosiasi dengan pasangan Capres-Cawapres, kedekatan emosional dengan partai yang pernah juara, kekuatan caleg, kekuatan jaringan media, dan grassroot.

Pada asosiasi dengan pasangan capres-cawapres, ada tiga partai yang diuntungkan. Pertama, PDIP dengan asosiasi terhadap Jokowi. Gerindra asosiasi dengan Prabowo – Sandi, dan PKB asosiasi dengan Ma’ruf Amin.

 Kedua, Ikatan emosional pemilih dengan partai yang pernah juara. Ada tiga partai yang diuntungkan dengan hal ini, yaitu PDIP, Golkar, dan Demokrat. PDIP juara di pemilu 1999 dan 2014, Golkar Juara di Pemilu 2004, Demokrat juara di pemilu 2009. 
 
 “Ttdak dapat dipungkiri bahwa status juara menciptakan ikatan emosial dengan pemilih dibanding dengan parpol yang belum pernah menyandang status juara pemilu,” katanya.
 
Ketiga, ketokohan caleg. Ada tiga partai yang diuntungkan dengan hal ini, yaitu PDIP, Golkar dan Nasdem. PDIP dengan jumlah caleg petahana terbesar, tentu akan menjadi sebuah keuntungan. Petahana dapat membangun ketokohannya jauh-jauh hari dengan resourses. Begitu juga dengan Golkar, tokoh-tokoh politisi yang sudah malang melintang banyak ditemukan di partai ini. Nasdem dengan strategi berbeda, menjadi pilihan tokoh-tokoh kawakan bernaung di partai ini.

“Keempat, jaringan media. Ada dua partai yang diuntungkan dengan hal ini, yaitu Nasdem dan Perindo. Nasdem dikenal melalui jaringan Media Grup, yaitu Metro TV, Media Indonesia dan koran-koran lainnya. Perindo dikenal melalui jaringan MNC, RCTI, Inews, Trijaya, Koran Sindo, Okezone dan lain sebagainya,” kata Ikrama.

Kelima, tambahnya, jaringan grassroot. Ada dua partai yang diuntungkan dengan hal ini, yaitu, PDIP dan PKS. Tidak dapat dipungkiri bahwa kedua partai ini punya jaringan grassroot yang militansinya lebih kuat dibandingkan dengan partai lainnya. (lms)

Tulisan Mochamad Toha Kembali Viral dan Jadi Polemik

Sebelumnya

Ini Kisah Tiga Bersaudara Merebut Tiga Kursi DPRD Banten

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Politik