Forhati Gelar Seminar Emak dan Milenial Sadar Olah Digital, Ini Konklusinya
Khairil (berdiri) dan Herlando saat menjadi narasumber di seminar Forhati, Jumat (29/3).
KOMENTAR

TILIK.ID, Jakarta — Majelis Nasional
Forum Alumni HMI Wati (Forhati) kembali menggelar seminar. Setelah sebelumnya mengangkat tema pandangan kritis terhadap RUU PKS,  kini organisasi perempuan alumni HMI ini mengambil topik Emak dan Milenial Sadar Olah Literasi Digital (Solid).

Tema ini menarik karena pemerintah, dunia digital dan staje holder lainnya tengah  berperang melawan hoax. Hoax merusak tatanan, bahkan berdampak buruk bagi perkembangan kehidupan bangsa. 

Lebih jauh, hoax atau berita bohong dan fitnah sudah makin masif menghantam kalangan emak-emak dan generasi milenial. Karena itu, agar tidak ikut terseret arus hoax, Forhati mengajak Emak dan Milenial untuk sadar olah literasi digital. 

Seminar digelar di KAHMI Center Jalan Turi I No 14 Jakarta Selatan, Jumat siang (29/3). Hadir pada kesempatan itu, Koordinator Presidium MN Forhati Hanifah Husein, emak-emak utusan dari berbagai ormas perempuan, pengurus Forhati, kader HMI Wati atau Kohati. 

Tampil sebagai pembicara antara lain Plt Direktur Pemberdayaan Informatika Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kemenfominfo Slamet Santoso SH MM dan Muhammad Khairil Haesy selaku anggota Komite Fact Checking Mafindo (Masyaraka Anti Fitnah Indonesia). 

Moderator Hanifah Husein dalam pengantarnya mengatakan,  berdasarkan data yang diterimanya bahwa kelompok yang paling banyak menyebar hoax adalah emak-emak. Yang kedua adalah kalangan milenial, terutama kaum pria. 

“Saya termasuk korban hoax. Di tahun politik ini saya disebut memiliki HGU. Ini dikaitkan dengan suami saya politisi. Kalau politisi ya kerjanya di dunia politik. Itulah bahanya hoax,” kata Hanifah Husein.

Herlando Maradona yang mewakili Slamet Santoso memulai dengan kondisi dunia internet di Indonesia. Sampai sekarang jumlah populasi penduduk Indonesia mencapai 268,2 juta. Dari jumlah ini,  ada 355,5 juta pemilik SIM Card. 

“Pengguna internet mencapai 150 juta lebih dan pegguna media sosial mencapai 150 juta lebih juga. Sedangkan dari pengguna media sosial itu, sebanyak 130 juta lebih menggunakan handphone.  Ini artinya pengguna internet memanfaatkan media sosial dan gadgetnya untuk menerima atau menyebar informasi,” kata Herlando.

Dari semia itu, masalah di dunia siber makin beragam. Ada cyber bullying yaitu kekerasan dan pelecehan melalui internet, ada cyber fraud yaitu informasi bohong dan penipuab online. Ada juga pornoaksi, cyber gambling atau perjudian, dan cyber talking atau penculikan setelah berkenalan di medsos.

“Sekarang ini kita memasuki era post truth, yaitu kondisi dimana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal. Kondisi inilah yang membuat makin banyaknya berita bohong,” kata Herlando. 

Dikatakan, berita hoaks makin masif dari Januari ke Februari. Tercatat 771 berita hoaks di periode ini yang diteliti oleh Kemenfominfo. 

“‘Mengapa hoax begitu banyak? Ada pandangan negatif, bahwa netizen menganggap bahwa dunia cyber beda dengan dunia nyata. Sehingga tidak perlu etika di sana,” katanya. 

Atas semua itu, bagaimana menggunakan internet dengan cerdas. Pertama, kata Herlando, pahami batas usia pengguna medsos. Pahami peraturan terkait internet di negara kita.

“Untuk mengecek hoaks, cek alamat URL, cek situs tersebut, cek dengan media lainnya, gunakan fact checking, misalnya melalui alamat snopes.com atau factcheck.org.  Kemudian cek penulis dan narasumbernya. Biasanya hoaks itu membuat pembaca marah, emosi dengan berita-berita aneh. Cek juga gaya penulisannya,” beber Herlando.

Sedangkan M Khairil Haesy dalam paparannya menjelaskan tentang hoaks. Katanya, hoaks berasal dari kata “hocus” yaitu untuk menipu, membodohi. Kata hocus ini sering digunakan pasulap Inggris abad 17. Hocus juga diartikan celoteh tanpa arti. 

“Jadi hoaks itu adalah berita bohong yang dibuat seolah-olah benar adanya,” kata Khairil Haesy.

Begitu besar dampak hoax, kata Khairil, sampai-sampai membuat masyarakat menjadi resah, tidak aman, panik, hingga bingung. Terjadinya gesekan sosial, timbul konflik, bisa menyebabkan ketidakstabilan negara dan perpecahan.

“Bagaimana agar tidak terjebak hoaks? Pertama sabar. Ketika mendapatkan informasi, jangan langsung disebarkan, baca informasinya, jangan  terbawa emosi,” kata Khairil. 

Kedua, kritis. Perhatikan sumbernya, perhatikan narasinya logis atau tidak, dan ketiga, cari faktanya, cari informasi lainnya dari sumber terpercaya di media 
kredibel, buku referensi,  dan kanal-kanal cek fakta. (lms)

MN FORHATI Kembali Tegaskan Menolak Pengesahan UU P-KS

Sebelumnya

Dikecam Pendukung, Ini Pernyataan Prabowo di Akun Instagramnya

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional