Relawan KAPAS Juga Masuk ke Desa  Citapen
Relawan KAPAS menyapa masyarakat Ciawi Kabupaten Bogor, tadi malam.
KOMENTAR

TILIK.ID, Bogor — Relawan pendukung Capres nomor 02 Prabowo Sandi yang menamakan diri Kolaborasi Aktivis Prabowo Sandi (KAPAS) malam tadi sampai ke Ciawi. Masuk Ciawi setelah bergerak dari Citepus Pelabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi ke Kabupaten Bogor. 

Di Ciawi, tim KAPAS yang dipimpin Sofhian Mile itu menemui warga di Desa 
Citapen. Desa ini pada 2014 silam Prabowo-Hatta menang. Warga desa kebanyakan kembali akan memilih Prabowo yang berpasangan dengan Sandiaga Uno. 

Meskipun lima tahun lalu Prabowo menang, namun relawan KAPAS tetap masuk untuk memastikan kembali pilihannya. Afrizal, anak muda yang juga kader Gerindra di DPC Kabupaten Bogor, menyiapkan tempatnya untuk pertemuan relawan  dengan warga.

Sofhian Mile dalam perkenalannya mengatakan, pihaknya datang ke desa-desa secara tidak formal. Tidak formal itu adalah datang untuk  ngobrol-ngobrol dengan satu substansi untuk kita angkat   menjadi sebuah kesimpulan dalam pertemuan.

“Itu yang saya lakukan dengan teman-teman mengelilingi beberapa kabupaten di Jawa Barat. Ini sudah keempat kalinya dari kabupaten sejak kemarin berjalan terus. Timnya berganti-ganti terus tapi saya sendiri tidak pernah berganti,” kata Sofhian. 

Mantan anggota DPR RI tiga periode ini menceritakan bagaimana tim relawan KAPAS ini terbentuk dan bergerak. Pada awalnya dimulai dari sabuah komunitas   yang merupakan pensiunan lintas profesi bertemu dan secara intens melakukukan aktivitas olah raga jalan sehat. 

Dikatakan, para pensiunan ini, meski ada beberapa yang masih aktif di profesinya masing-masing,  merupakan mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI.  Para aktivis-aktivis HMI yang sudah pensiun di profesinya masing-masing bergabung dan bersama-sama   melakukan kegiatan jalan sehat.

Mereka-mereka ini ada mantan menteri, mantan kepala daerah, mantan anggota DPR, mantan Dirjen, intelektual, dan pengusaha.  Sofhian dengan bercanda mengistilahkan komunitas ini sebagai ban hitam, sabuk hitan semua. Mereka kumpul untuk jalan sehat tiga kali dalam seminggu.

“Usai jalan sehat, biasanya tidak langsung pulang. Tapi masih ngumpul dulu berdiskusi dan  membicarakan banyak hal sambil makan makanan ringan.  Kegiatan jalan sehat biasa dilakukan di Kebun Raya Bogor, Monas, Taman Margasatwa Ragunan,” katanya.

Dalam pertemuan-pertemuan setelah jalan sehat itu, kata Sofhian, kita berdiskusi mengenai  isu-isu aktual dan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Misalnya merancang bagaimana mengumpulkan bantuan untuk korban bencana NTB, Palu dan Banten kemarin.  Selain itu juga mengadakan diskusi dan pengajian-pengajian.

Kagiatan-kegiatan itulah, beber Sofhian,  yang bisa  dilakukan. Tapi setelah  berdiskusi melihat  perkembangan politik, yang namanya mantan aktivis mahasiswa yang pernah dididik menjadi insan politik,  tentu memiliki kepekaan yang tinggi dibanding  orang yang tidak pernah dididik di dunia politik. 

“Insting dan antena politik yang tinggi ini, saat melihat perkembangan politik yang terjadi, tentu kami tidak tinggal diam. Kita tidak bisa  hanya berdiskusi di belakang meja dan debat  tanpa arah di medsos mengenai kondisi bangsa yang mengkhawatirkan,” katanya.

Menurutnya, dalam diskursus-diskursus politik, bangsa ini sudah terancam kemandiriannya. Bukan hanya terancam, tapi juga sudah terjadi di beberapa wilayah di mana penguasaan sumberdaya alam dan kapital telah menjadi milik negara lain. Diintervensi secara ekonomi, diambil secara nyata, dikuasai oleh pihak-pihak asing.

“Nah, kalau tidak terjadi perubahan politik, kita memprediksikan akan jauh lebih parah. Apakah  kita harus biarkan rakyat  dan bangsa ini  hidup tanpa kemandirian, yang terancam oleh beban utang negara dan intervensi asing?” katanya bertanya.

Tertarik dan terdorong oleh kondisi seperti ini, maka dari komunitas ini membentuk relawan KAPAS untuk bergerak turun mengedukasi masyarakat tentang demokrasi, tentang politik kebangsaan, dan politik keummatan.

“Turun ke desa-desa itu kan perlu biaya. Kegiatan turun ke masyarakat ini meskipun dengan semangat tinggi, punya pikiran cemerlang, tapi kalau tidak punya dana kan susah kan? Mesti cari sponsor,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Sofhian, kita sponsori diri sendiri. Dompet kita buka, kita kumpulin bersama-sama. Ada yang bikin kaos, bikin spanduk, bikin stiker, kalender, dan lain-lainnya. Dengan modal itu kita berkeliling Jawa Barat masuk ke desa-desa. 

Dikatakan, dalam politik memang selalu ada yang berbeda. Itu demokratis. Dalam demokrasi ada keyakinan politik, bahwa kepemimpina yang ada saat ini harus kita ganti.  Karena kami berkeyakinan bahwa Prabowo Sandi bisa melindungi rakyat dan bangsa ini. 

“Itulah keyakinan politik kami, tentu masyarakat di sini punya keyakinan politik juga. Tidak ada masalah beda keyakinan politik, dan syukur-syukur kalau sama memberi dukungan kepada Prabowo Sandi,” kata mantan bupati ini. 

Menurutnya, berbeda pilihan politik itu demokratis. Kita sebagai aktivis Islam, tentu akan memberi pemihakan pada suasana kehidupan beragama yang kita yakini akan terjamin di bawah Prabowo Sandi. 

“Keyakinan inilah yang kita tularkan ke desa-desa dalam perjalanan kita ini. Jadi pandangan kami seperti itu, dan kami harap  pandangan ini  sampai ke seluruh masyarakat dengan turun ke desa-desa. Desa-desa yang sudah terjangkau medsos kita manfaatkan untuk menyebar pandangan politik kami ini,”  katanya.  

Relawan lain, Jumrana Salikki juga berharap pilihan masyarakat mendukung    Prabowo Sandi. Dia pun minta warga Citapen  Ciawi ini mengajak keluarga, kerabat, emak-emak dan pemuda mendukung pilihan yang diyakini berpihak pada rakyat.

“Tahun 2014 Bogor suara  Prabowo menang, maka pada tahun 2019 ini harus lebih menang lagi,” kata Jumrana penuh semangat.

Dalam rombongan Relawan KAPAS ikut antara lain Kasma Kasim, Ninik Anggraini, Mirza Iskandar Muda, dan Acil. Pukul 23.45 WIB tadi malam rombongan tiba kembali di Jakarta. (lms) 

Parpol Belum Maksimal Jalankan Pendidikan Politik

Sebelumnya

Praktisi Hukum Ini Khawatir Pemerintah Mensponsori Kebencian pada Sesama

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Politik