Jika Banyak Golput,  Siapa Dirugikan? Jokowi atau Prabowo?
Peneliti LSI Denny JA Ikrama Masloman (kanan) dan Mohammad Chatib saat konpers di Kantor LSI Jakarta, 19/3/2019).
KOMENTAR

TILIK.ID, Jakarta — Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA kembali merilis hasil surveinya, Selasa (19/3). Tema yavg diangkat bagaimana ruginya jika banyak yang golput.  Golput dipengaruhi oleh sejauh mana pengetahuan masyarakat akan adanya pemilu 2019. 

Survei LSI menyebutkan, pemilih yang tahu bahwa pelaksanaan pilpres akan dilaksanakan pada bulan April 2019 hanya sebesar 65.2 persen. Sebesar 29.5 persen  menyatakan tidak tahu bahwa pilpres akan dilaksanakan pada bulan April 2019. 

Dari mereka yang tahu bahwa pilpres akan dilaksanakan April 2019, sebesar 75.8 persen bisa menjawab dengan benar bahwa tanggal pelaksanaan pilpres adalah 17 April 2019. Dan terdapat 24.2 persen tidak bisa menjawab dengan benar tanggal pelaksanaan pilpres-pileg. 

“Artinya jika ditotal secara populasi, hanya 49.4 persen dari pemilih Indonesia yang terinformasi dan menjawab dengan benar bahwa pelaksanaan pilpres- pileg dilangsungkan pada tanggal 17 April 2019. Minimnya informasi waktu pelaksanaan pencoblosan bisa mempengaruhi besar-kecilnya golput,” kata peneliti LSI Denny JA  Ikrama Masloman saat menjadi narasumber  konferensi pers di Kantor LSI, Selasa, 19/3). 

Survei LSI Denny JA dilakukan pada tanggal 18-25 Februari 2019 melalui face to face interview menggunakan kuesioner. Survei menggunakan metode multistage random sampling dengan 1200 responden dan margin of error sebesar +/- 2,9 persen. Survei dilaksanakan di 34 provinsi di Indonesia. 

“Kami juga melengkapi survei dengan penelitian kualitatif dengan metode analisis media, FGD, dan in depth interview. Survei ini dibiayai sendiri oleh LSI Denny JA,” katanya.

Survei LSI Denny JA pada Februari 2019, dengan menggunakan simulasi kertas suara, menunjukan bahwa dukungan terhadap Jokowi-Maruf sebesar 58.7 persen.  Sementara dukungan terhadap Prabowo-Sandi sebesar 30.9 persen.  Sebesar 9.9 persen menyatakan belum menentukan pilihan atau rahasia. Dan sebesar 0.5 persen adalah suara tidak sah. 

Survei terbaru ini menunjukan bahwa Jokowi-Maruf masih unggul telak atas Prabowo-Sandi dengan selisih elektabilitas sebesar 27.8 persen.

Sejak Agustus 2018, pasca pendaftaran capres-cawapres, elektabilitas Jokowi- Maruf tetap unggul dengan selisih diatas 20 persen dari pasangan Prabowo-Sandi. Namun keunggulan Jokowi-Maruf ini masih dibawah angka golput, yang sejak pilpres langsung berkisar antara 23-30 persen.  Survei terakhir, Februari 2019, yang menunjukan selisih kedua capres melebar hingga angka 27.8 persen pun masih dibawah angka golput pilpres 2014 yang mencapai 30.42 persen.

Jika angka golput pilpres 2019, kurang lebih sama dengan golput pilpres terakhir yaitu 30.42 persen,  siapakah capres yang dirugikan? Untuk memetakan siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan oleh golput, LSI Denny JA membuat analisis per segmen atau kantong pemilih penting.

Pertama, pada segmen pemilih minoritas. Pemilih minoritas berdasarkan survei LSI Denny JA, populasinya kurang lebih sebesar 12.2 persen. Pada kantong pemilih ini, sejak Agustus 2018, Jokowi-Maruf selalu unggul telak dari pasangan Prabowo-Sandi. Dengan keunggulan rata- rata diatas 50 persen. 

Selisih terkecil kedua pasangan capres-cawapres hanya terjadi pada bulan Agustus 2018. Saat itu, selisih kedua capres hanya dibawah 5 persen.  Namun setelah periode itu, dari September hingga Februari, Jokowi-Maruf selalu unggul telak. Bahkan survei terakhir menunjukkan bahwa keunggulan Jokowi-Maruf dari pasangan Prabowo-Sandi di segmen ini sebesar 68.7 persen (80.3 persen vs 11.6 persen).

“Jika golput pada segmen pemilih minoritas tinggi, maka Jokowi-Maruf dirugikan. Alasan utama golput pada segmen ini adalah tidak sedang berada di tempat. Riset kualitatif LSI Denny JA menunjukkan bahwa ada dua kemungkinan tidak berada di tempat,” kata Ikrama yang didampingi moderator Mohammad Chotib. 

 Mengapa? Pertama karena libur panjang saat hari pencoblosan. Pada hari jumat tanggal 19 April 2019 adalah tanggal merah Jumat agung bagi umat Kristiani. Hari libur panjang memungkinkan pemilih untuk merencanakan liburan keluarga. Apalagi jika pemilih tidak terinformasi dengan baik waktu pelaksanaan pilpres. 
 
 Alasan kedua, bagi pemilih minoritas yang menilai bahwa ketika pilpres kondisi keamanan tidak stabil, bisa memutuskan untuk keluar negeri.

 Ada juga segmen pemilih wong cilik. Wong cilik adalah kantong pemilih yang besar. Populasi segmen ini sebesar 49.8 persen.  Pada segmen pemilih ini, Jokowi-Maruf selalu unggul dari pasangan Prabowo-Sandi. Sejak Agustus 2018, Jokowi-Maruf selalu unggul dengan selisih rata-rata diatas 25 persen.
 
 Survei terakhir pada Februari 2019 menunjukan dukungan Jokowi-Maruf di segmen wong cilik sebesar 63.7 persen  sementara dukungan terhadap Prabowo-Sandi sebesar 27.4 persen.  Artinya dalam survei terbaru, Jokowi-Maruf unggul dari Prabowo-Sandi dengan selisih sebesar 36.3 persen.
 
“Jika banyak pemilih wong cilik yang tidak datang ke TPS (golput), maka pasangan Jokowi-maruf yang dirugikan. Karena pemilih wong cilik adalah salah satu kantong suara Jokowi-Maruf,” katanya.

Golput pada pemilih wong cilik bisa dikarenakan 3 faktor. Pertama, karena mereka tidak terinformasi mengenai waktu pencoblosan. Kedua, lebih mementingkan pekerjaan karena tidak mau rugi kehilangan upah harian. Ketiga, mereka tidak datang ke TPS karena alasan administrasi (merasa tidak terdaftar, tidak memperoleh undangan TPS dll).

Ketiga, segmen pemilih milenial. Segmen Pemilih milenial juga termasuk kantong suara terbesar. Segmen ini kurang lebih sebesar 44.7 persen. Pada segmen pemilih ini, sejak Agustus 2018, Jokowi-Maruf selalu unggul dibanding pasangan Prabowo-Sandi.

“Jika mereka yang tidak datang ke TPS pada hari H banyak di segmen pemilih ini, maka pasangan Jokowi-Maruf paling dirugikan. Pada segmen ini, golput bisa terjadi karena dua alasan. Pertama, mereka umumnya tidak terinformasi mengenai waktu pelaksanaan pencoblosan,” kata Ikrama. 

Kedua, tambah Ikram, mereka tidak datang ke TPS karena alasan apatisme. Apatisme muncul karena mereka tidak peduli politik dan tidak merasa bahwa capres yang dipilih punya efek langsung ke mereka.

Ada juga kantong pemilih emak-emak (perempuan). Segmen pemilih emak-emak adalah pemilih dengan kantong suara besar. Hampir 50 persen.  Kantong pemilih ini, sejak awal pendaftaran, selalu diungguli oleh pasangan Jokowi-Maruf. Bahkan dukungannya rata-rata di atas 25 persen. 

Jika golput banyak terjadi di segmen pemilih emak-emak, maka yang dirugikan adalah pasangan Jokowi-Maruf. Karena di kantong pemilih ini, sejak awal pertarungan dimulai, merupakan kantong pemilih Jokowi-Maruf. Masalah golput di pemilih ini karena tidak terinformasi dengan baik soal waktu pencoblosan, masalah administrasi, dan masalah apatisme politik. 

Segmen kelima adalah pemilih terpelajar. Kantong pemilih ini tidak besar populasi pemilihnya jika dibandingkan dengan kantong pemilih lainnya. Hanya sebesar 10-15 persen populasi pemilih terpelajar. Di kantong pemilih ini, pasangan Prabowo-Sandi cenderung lebih unggul dari pasangan Jokowi-Maruf. Sejak Agustus 2018, Prabowo- Sandi cenderung unggul dengan selisih elektabilitas rata-rata diatas 7 persen.

 Survei terkini LSI Denny JA (Februari 2019) menunjukan bahwa Prabowo-Sandi memperoleh dukungan sebesar 45.4 persen, sementara Jokowi-Maruf memperoleh dukungan sebesar 36.1 persen.  Artinya kondisi terkini menunjukan bahwa Prabowo-Sandi unggul dengan selisih 9.3 persen terhadap Jokowi-Maruf.
 
“Jika mereka yang tak datang ke TPS (golput) banyak terjadi di kantong pemilih terpelajar, maka pasangan Prabowo-Sandi akan sangat dirugikan. Karena kantong ini secara konsisten diungguli oleh pasangan Prabowo-Sandi,” kata Ikrama lagi.

Golput pada pemilih terpelajar bisa terjadi karena dua alasan penting. Pertama, karena alasan apatisme politik (ketidakpedulian terhadap politik). Kedua, sebagai bentuk protes politik (kedua capres dinilai tidak sesuai dengan harapan dan kriteria mereka).

 Segmen keenam adalah pemilih muslim. Pemilih muslim adalah kantong pemilih terbesar. Populasi pemilih muslim mencapai 87.8 persen.  Dengan kantong pemilih terbesar, pemilih muslim menjadi rebutan. 
 
 Secara umum, dari tracking survei LSI sejak Agustus 2018 hingga Februari 2019, pasangan Jokowi-Maruf masih unggul dari pasangan Prabowo-Sandi. Pasangan Jokowi-Maruf unggul dengan selisih diatas 15 persen. 
 
 Namun demikian pemilih muslim tidak monolitik. Misalnya dari sisi religious belonging, pemilih muslim terbagi menjadi muslim yang merasa dekat dengan NU, Muhammadiyah, Persis, PA 212, FPI dan lain-lain. 
 
 “Jika Golput banyak terjadi di pemilih Muslim yang merasa bagian dari FPI, HTI, jaringan kultural PKS, maka yang akan dirugikan adalah pasangan Prabowo-Sandi. Karena Prabowo-Sandi memperoleh dukungan kuat dari pemilih muslim yang lebih konservatif,” katanya. 
 
 Namun golput di segmen pemilih muslim yang berafiliasi dengan FPI, PA 212 dan lainnya, diduga kecil. Survei LSI Denny JA menunjukkan bahwa pemilih pasangan Prabowo-Sandi lebih militan dibanding pemilih Jokowi-Maruf. Mereka ingin datang ke TPS karena merasa suaranya penting untuk mengagalkan Jokowi-Maruf menjabat kembali.

“Namun jika golput banyak terjadi di pemilih muslim yang merasa dekat dengan ormas di luar FPI, PA 212 dan lainnya, misalnya NU, maka yang dirugikan adalah pasangan Jokowi-Maruf,” kata Ikrama lagi. (lms)

Parpol Belum Maksimal Jalankan Pendidikan Politik

Sebelumnya

Praktisi Hukum Ini Khawatir Pemerintah Mensponsori Kebencian pada Sesama

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Politik