Teroris di Selandia Baru Serang  Dua Masjid, 40 Tewas, Ada 6 WNI
Brenton Tarrant, pelaku penrmbakan jamaah masjid di New Zealand, Jumat.
KOMENTAR

TILIK.ID, Jakarta — Serangan brutal yang terjadi di Kota Chrischurch, New Zealand ternyata menyerang dua masjid saat jamah shalat Jumat. Pelakunya  diidentifikasi sebagai jaringan anti Islam garis keras. 

Pelaku penembakan diketahui bernama Brenton Tarrant (28), pria kelahiran Australia. Tarrant menyerang dua masjid sambil merekam dirinya melalui live streaming facebook.

Dilansir dari laman The Star, Jumat (15/3), Tarrant menyiarkan aksinya secara langsung selama 17 menit. Tarrant diketahui merupakan pria kelahiran Australia.

Siaran yang ditayangkan di laman Facebooknya dimulai saat dia mengendarai mobilnya ke Masjid Al Noor di Deans Ave, dan kemudian memarkir mobilnya di pintu masuk terdekat.

Mobilnya yang berwarna cokelat berisi senjata dan amunisi di kursi penumpang depan. Dia kemudian membawa senjatanya dan berjalan ke masjid. Korban pertama ditembak di ambang pintu.

Dua masjid yang diberondong tembakan itu menewaskan 40 orang. Tigapuluh jamaah tewas di Masjid Al Noor dan 10 di Masjid Linwood. Kementerian LN Indonesia menyebut ada 6 WNI ikut menjadi korban.

Kepala Kepolisian Selandia Baru, Mike Bush langsung bertindak cepat menangkap pelaku penembakan.
Empat orang terdiri dari tiga pria dan satu wanita ditangkap terkait aksi teror tersebut.

“Rinciannya akan terungkap dalam beberapa hari ke depan,” kata Mike saat ditanya apakah keempat orang ini sudah dikenal oleh polisi sebelumnya.
 
 Berbagai kecaman pun ditujukan terhadap pembantaian terhadap jamaah masjid di Selandia Baru tersebut. Majelis Ulama Indonesia dan Dewan Masjid Indonesia ikut mengutuk serangan biadab tersebut.
 
 Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, mengecam keras penembakan brutal di dua masjid yang ada di Christchurch yang menewaskan total 40 orang. Dengan tegas, PM Adern menyebut penembakan brutal ini sebagai serangan teroris.

“Kami meyakini 40 orang kehilangan nyawa mereka dalam aksi kekerasan ekstrem ini,” ucap PM Ardern dalam konferensi pers seperti dilansir Reuters, Jumat (15/3/2019). 

“Sudah jelas bahwa ini sekarang hanya bisa disebut sebagai sebuah serangan teroris,” tegas PM Ardern. (lms) 

Trump Tuduh China Melanggar Kesepakatan Pembicaran Dagang

Sebelumnya

Presiden Palestina Kutuk Penembakan Jamaah Masjid Selandia Baru

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Internasional