UMI CIA
Umi Cia
KOMENTAR

Bang Sem
 
USIANYA  sudah sekira 85 tahun. Masih sangat sehat. Bicaranya jelas. Lantang. Kecantikan masih nampak terpancar di wajahnya. Ia nenek dan ibu tak hanya bagi putera-puterinya, ia nenek dan ibu bagi begitu banyak aktivis, khasnya aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Saya tidak tahu persis, siapa nama lengkapnya. Kami biasa memanggilnya Umi Cia.

Ketika masih menjadi mahasiswa di Bandung, Umi Cia aktif di lingkungan organisasi yang didirikan Lafran Pane dan kawan-kawan, yang dijuluki Panglima Besar Jendral Sudirman sebagai harapan masyarakat Indonesia.

Boleh jadi, Umi Cia seangkatan atau ‘kakak’ angkatan ibu kandung Ridwan Kamil - yang kini menjabat Gubernur Jawa Barat, itu.

Banyak aktivis kampus yang merasakan bagaimana kepedulian Umi Cia pada kehidupan umat Islam dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Laiknya aktivis organisasi Islam masa lalu, dimensi kebangsaan Umi Cia adalah padupadan harmoni keislaman, keindonesiaan dan kecendekiaan.

Toleransinya kepada umat beragama lain sangat boleh dicontoh, karena Umi Cia tak pernah berfikir, bersikap, dan bertindak diskriminatif.

Ketika kembali ke Jakarta untuk sesuatu urusan (Senin, 4/3/19) dan sedang berada di Jakarta Selatan, saya menyempatkan diri datang ke markas Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi di Jalan Kartanegara - Kebayoran Baru.

Saya berkomunikasi dengan Helwa, aktivis Wanita Al Irsyad yang juga aktivis Forum Alumni HMI-wati. Saat itu, dia mengkonfirmasi ada diskusi di markas BPN Prabowo Sandi, yang dihadiri Umi Cia. Saya sempatkan hadir. Sudah lama saya tak jumpa Umi Cia, jadi cukup lama juga tak mencium tangannya.

Ayah dan ibu saya selalu mengajarkan, mencium tangan orang tua dan lebih tua, persis di celak antara telunjuk dan ibu jari, apalagi tangan orang-orang tua dan yang lebih tua, yang pada dirinya melekat keteladanan.

Siang itu, Kaukus Insan Cinta untuk Indonesia Menang, yang dipimpin anak-anak muda, seperti MHR Shikka Songge, Zulkifli Ali dan Sabaruddin. Kaukus ini memusatkan perhatian pada pengawasan pelaksanaan Pemilihan Umum Serentak 2019 yang memberikan perlakuan adil kepada dua kandidat, sekaligus mengawasi suara Prabowo - Sandi tak tereduksi.

Di situ Umi Cia memperingatkan seluruh adik-adiknya untuk berani bersikap dan bertindak dan tidak malas dalam membela kepentingan umat dan bangsa secara keseluruhan. Kemenangan Prabowo Sandi sebagai manifestasi  visi (pasangan ini) “Indonesia Menang,” menurut Umi Cia adalah ikhtiar tepat untuk kemenangan Indonesia, rakyat, dan umat Islam Indonesia.

Sebagai organisasi, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Korps Alumni HMI (KAHMI), dan Forum Alumni HMI-wati (FORHATI) adalah independen dan mesti menjadi independensinya. Tapi, sebagai kader bangsa, yang berkomitmen membela umat, setiap pribadi harus berani menyuarakan sikapnya. Umi Cia menyampaikan pesan mendalam, bahwa memperjuangkan “Indonesia Menang” melalui kemenangan Prabowo Sandi adalah ikhtiar jalan keselamatan.

Umi Cia melihat ada fenomena tak elok di kalangan aktivis dan alumni HMI kini, terlalu banyak yang malas, parah (mengambil jalan pintas untuk kepentingan sesaat), dan tidak bersungguh-sungguh membela kepentingan umat Islam.

Umi Cia bercerita, dia menelepon dan menegur Akbar Tandjung, yang 5 Februari 2019, di kediamannya menggelar Dies Natalis HMI ke 72 tahun, dan terkesan menggiring — keluarga besar HMI — untuk mendukung pasangan Jokowi dan Ma’ruf Amin. “Who you are?” tukas Umi Cia, menirukan ucapannya kepada Akbar Tandjung.

Umi Cia yang ketika Pilkada DKI Jakarta 2016 gencar dan aktif berkampanye — dengan caranya — untuk kemenangan Anies - Sandi, mengatakan, dirinya tak kenal Prabowo dan Sandi. Ada pula yang mengabarinya, Prabowo datang dari keluarga yang separuh nasrani dari pihak ibunya.

Bagi Umi Cia, tak soal. Sebagai orang Indonesia, wajar saja hal itu bisa terjadi. Yang harus dilihat dan beroleh perhatian, sekaligus mendasari pertimbangannya adalah komitmen untuk membela rakyat, yang sebagian terbesar adalah umat Islam.

Prabowo - Sandi komitmen perjuangannya jelas. Kemenangan Prabowo - Sandi, menurut Umi Cia, lebih besar manfaatnya daripada mudaratnya bagi bangsa ini, sekaligus bagi umat Islam.

Di atas level, di depan peserta diskusi, itu Umi Cia jelas berdo’a untuk kemenangan Prabowo Sandi. Umi mengatakan, sejak Prabowo - Sandi mendeklarasikan kepesertaannya dalam kontestasi Pemilihan Umum (Serentak) 2019, ia melihat aura komitmen yang kuat pasangan ini kepada umat Islam. Sejak itu, setiap sujud terakhir dalam salatnya, Umi Cia selalu mendo’akan pasangan Prabowo - Sandi.

Umi Cia terlihat takdzim dan tekun menyimak, ketika saya menyampaikan secara liris melalui oratoria puitik pergerakan kebangsaan, sejak era perjuangan penjajahan, pra kemerdekaan, dan paska proklamasi kemerdekaan. Antara lain, nilai-nilai perjuangan yang ditransfer oleh Sultan Aceh, Imam Bonjol, Diponegoro, Hasanuddin, dan para Sultan se Nusantara,  HOS Tjokroaminoto, KH Achmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, Soekarno, Hatta, Agus Salim, Moh Natsir, Jendral Sudirman, Baswedan, dan seterusnya.

Indonesia Menang adalah bagian tak terpisahkan dari keseluruhan konteks perjuangan kebangsaan - keislaman - kecendekiaan yang konsisten di tengah pusaran arus global.

Umi Cia tersenyum. Matanya berbinar memandang saya. Suaranya lantang dan jernih ketika bicara aksentuatif, mengekspresikan keprihatinan seorang nenek, seorang ibu, kepada bangsanya, kepada umat Islam - rakyat Indonesia, yang ia adalah bagian tak terpisahkan darinya.

Sikap, pandangan, dan keberpihakan Umi Cia yang telah melintasi jalan panjang proses perubahan bangsa ini, adalah cermin bagi saya untuk mengetahui, bagaimana cara bersikap dalam menghadapi Pemilihan Umum (serentak) 2019 ini.

Ketika pamit, sambil mencium tangannya, saya mendo’akan Umi Cia diberikan kesehatan, dan terus menjadi cermin jernih konsistensi menjalankan perjuangan kebangsaan untuk mencapai kebahagiaan rakyat dalam kemakmuran berkeadilan. Ikhlas. Tanpa mengharap apapun.

Karena Umi Cia mengatakan, “Bila Prabowo - Sandi menang dan menyimpang dari komitmen perjuangannya, kita yang akan menghukumnya.” |

Dari Sumpah Serapah Sampai Sumpah Pocong

Sebelumnya

Merenung Nusantara di Tepian Tasik Putrajaya

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Imaji Sem