Dari Sumpah Serapah Sampai Sumpah Pocong
N Syamsuddin Ch Haesy
KOMENTAR

N. Syamsuddin Ch. Haesy

SELAMA  dua dasawarsa terakhir seringkali saya mendengar orang bersumpah, mulai dari yang formal, bertajuk Sumpah Jabatan — yang banyak sekali dilanggar —, meski pengambilan sumpah dilakukan dengan menggunakan kitab suci.

Bahkan, Sumpah Pemuda pun terhianati, ketika belakangan beredar video sosialisasi yang mengajak rakyat menggunakan hak pilihnya pada Pemilihan Umum 2019, tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia. Padahal Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 menyatakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. 

Sumpah lain yang banyak dilanggar adalah ta’lik talak yang banyak diucapkan mempelai lelaki, beberapa saat setelah ijab kabul pernikahan. Sumpah yang banyak diecer di mana-mana, disebut sumpah serapah, meski tak bernilai kutukan. 

Dalam hal sumpah menyumpah, ada kisah yang saya suka. Kisah itu dituturkan seorang ahli kejiwaan jaman silam, Dominique Picard. Dia mengungkapkan, banyak orang mengklaim dirinya sebagai pahlawan, tapi kepahlawanannya disangsikan. Mereka yang merasa menjadi pahlawan dan orang baik, itu lantas bersumpah. Saat bersamaan banyak orang yang bersumpah, diam-diam tertawa geli dalam hati. 

Pasalnya? Di hati kecilnya masing-masing, mereka berkata, ”Kami pikir kami adalah pahlawan, dan pelanggaran membuat kami bersukacita karena kami pikir kami lebih kuat daripada hukum.”  

Kata Picard, semakin banyak aura yang kita kaitkan dengan larangan, maka semakin kuat pula kita melanggar aturan, bahkan sumpah kita sendiri. Banyak orang bersumpah, hanya untuk mengkompensasi situasi di mana mereka merasa melemah, dan kepercayaan khalayak kian berkurang. 

Hal lain yang menarik adalah cerita Marie, perempuan hampir paruh baya. Usianya 45 tahun. Dia tinggal di pinggiran Bourdeux - di luar kota Paris. Sejak belia, dia sering mendengar banyak orang di lingkungannya, menyebut “Vindiou de vindiou,” sebagai serapah kepada orang yang ingkar janji, suka berdusta, dan pandai menafikan sumpah. 

Marie menggunakan kata itu, tidak untuk mengolok-olok orang lain, tapi ketika dia bersumpah untuk meyakinkan ayahnya, bahwa dia tidak melakukan sesuatu yang dituduhkan orang lain kepadanya. Dia tidak peduli, ketika ayahnya mengatakan, sumpah semacam itu, hanyalah mantra yang tak berdampak. Kecuali dia bersumpah menuruti apa yang dianjurkan dalam agama. 

Tragisnya, setiap kali dia menghadapi jalan buntu menghadapi tudingan orang lain, dia selalu menyebut kata-kata yang setara mantra itu. Marie terkejut dengan dampaknya. Para pengolok-olok, tak berapa lama jatuh sakit dan kemudian, mati! Uhhfff. 

Sumpah, baik dalam konteks malediction ataupun imprecation, sering dipergunakan orang yang terperangkap di ujung kuldesak, buntu harus melakukan dan mengutarakan apa. Tapi, terlalu banyak orang menggunakannya, hanya untuk meyakinkan dirinya dan orang lain, bahwa orang itu benar. 

Saya sering mendengar istilah sumpah pocong. Biasanya, yang mengajak sumpah pocong adalah mereka yang sedang berada di ujung jalan buntu untuk meyakinkan banyak orang, bahwa apa yang dituduhkan orang lain kepadanya adalah salah dan keliru. 

Sumpah pocong boleh jadi hanya tradisi di lingkungan sub budaya tertentu. Sumpah itu dilakukan, mungkin untuk meyakinkan orang lain, bahwa siapa yang berbohong dalam sumpah, dia akan mati, dan dibungkus kafan, yang sering disebut pocong. Lantaran bagian kepala pembungkus jenasah itu, berjuntai.

Sumpah semacam ini, banyak dilakukan orang, bahkan di awal era peradaban modern, seperti dikisahkan Sabratha di Afrika. Bermula, antara lain dari pembelaan Apuleius kala membela diri dari tuduhan sihir sebelum pengadilan atas dirinya yang Claudius Maximus, Gubernur Jendral Afrika. 

Pengadilan itu digelar, lantaran Apuleius menikahi Pudentilla, ibu dari Sicinius Pontianus, temannya. Apulieus dicurigai menyihir Prudentilla untuk menerima pernikahan itu. Padahal, sejatinya, Prudentilla tak merasa sadar kalau dia bersedia menjadi istri sahabat anaknya itu. 

Apulieus digugat ke pengadilan, oleh penuduh resmi, Sicinius Pudens, putra bungsu Pudentilla dan suami pertamanya, atau kakak tiri Sicinius, atas hasutan saudaranya Sicinius Aemilianus, saudara lelaki ayah Sicinius. 

Apulieus menyatakan sumpah, bahwa dirinya tidak menyihir Pudentilla yang molek itu. Sumpah itu terinspirasi oleh pemikiran filsuf Marcel Mauss, yang termasuk golongan elite intelektualisme keliling era kekaisaran, dekat dengan lingkaran kekuasaan, dan muncul sebagai elemen heterogen yang mengacaukan struktur di komunitas tertutup Oea tertutup. Pada masa itu, sumpah — termasuk sumpah keranda, adalah cara untuk meyakinkan para penuduh, bahwa tuduhan mereka salah. 

Cara sama dilakukan oleh siapa saja untuk meyakinkan suatu tuduhan yang dilontarkan seseorang kepada orang lain, dengan referensi pengenalan mereka dalam komunitas bersama orang yang dituduhkan. Misalnya tuduhan tentang psikosopasi seseorang yang dituding gila, penghianat, kejam, dan segala hal yang buruk. 

Tuduhan itu sengaja dilakukan dalam kerangka pembunuhan karakter terhadap seseorang yang dianggap potensial sebagai pemimpin.  Dan, dalam banyak hal dianggap mengetahui banyak rahasia jahat para poenuduhnya, yang sedang berkuasa atau dekat dengan kekuasaan. 

Salah satu sumpah yang sohor, disebut Antiq, sumpah atas nama kemarahan dengan kutukan mengerikan (Chateaubr dan Génie, 1803). Antara lain, seperti yang dilakukan sejumlah kalangan untuk merutuki lawan politiknya, seperti dinukilkan dalam Fustel de Coul - Kota Kuno (1864). Begini serapah, itu:

“Wahai Dewa kutukan, sebarkan ketakutan, teror, kejahatan di antara musuh kita. Semoga orang-orang (pembangkang) itu dan siapa saja yang tinggal di ladang mereka dan kota mereka dirampas oleh sinar matahari. Semoga kota ini dan ladang mereka, dan kepala mereka dan pengikut mereka, lumat dalam kuasamu.”

Kutukan serapah semacam ini pernah dialami rakyat Skotlandia (Nodier, 1822). Pernah juga dialami oleh Catiline yang diusir dari senat (Barres, 1831). Tapi Catiline justru memimpin perlawanan balik beberapa masa kemudian (Michelet, 1831), dan menjadi pahlawan utama yang menyelamatkan rakyat, ketika dia berkuasa, karena justru berhasil mengusir roh-roh jahat dengan semangatnya yang tulus murni. 

Orang-orang yang memilih sumpah sebagai cara menyatakan kebenaran dan tak berani membiarkan sejarah membuktikan kebajikan dan kejahatan dengan caranya, dalam pandangan Merimee (1868) adalah mereka yang justru gemar menebar makian dan kutukan kepada lawan politiknya. 

Mereka ingin membebankan musuh-musuhnya, supaya melawan dengan ekspresi kemarahan atau dahaga dendam, seperti ketika berlangsung suksesi Camille [di Corneille] sebagai teriakan suksesi yang diartikulasikan rakyat dengan cepat, meski seringkali monoton. 

Orang-orang yang gemar mengambil sumpah - yang tak sesuai dengan ajaran agama apapun - kata Perrault, yang mengutip psikoanalis Jacques Lacan dalam filiasi Freud, adalah adalah “para penutur” kebohongan yang fasih.

Dalam the School of Leisure, Perrault menyebut sumpah semacam itu, bak bahasa yang melayang di sekitar kita, dan mempengaruhi kita untuk lebih meyakini pembenaran daripada kebenaran. Terutama, ketika narasi dalam sumpah, itu hanya ingin menggambarkan kekuatan duniawi dari bahasa yang disakralkan ke dalam mantra. 

Charles Perrault mengamsalkan, mereka yang bersumpah meyakini mantra mereka, seperti kisah putri yang sumpahnya mengubah katak jadi pangeran, sedangkan dirinya, kemudian berubah menjadi katak yang dikutuk oleh sang pangeran. Abracadabra! Mungkinkah sumpah akan menyelamatkan kita dari pembenaran dan membawa kita kepada kebenaran?
Yuk.. bercermin. Tanya pada sosok dalam cermin di depan kita, tidakkah kebenaran tak pernah selalu bisa ditutupi oleh dusta, meski dusta yang kerap diucapkan dan didukung cerita pembenaran menjadi seolah-olah kebenaran. 

Sumpah serapah hanya bisa diubah dengan kebenaran dan kesungguhan melayani rakyat dengan kebenaran. Sumpah pocong? Saya tak punya pengetahuan soal itu. |

Amankan C1 dan Lawan Lelah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Imaji Sem