Potret Penegakan Hukum Kita
Dr H. Abustan SH MH
KOMENTAR

Oleh DR H. Abustan SH MH
(Dosen Hukum Universitas Islam Jakarta)

AKHIR-AKHIR  ini negara Indonesia sebagai Negara Hukum yang demokratis mengalami “ronrongan” kewibawaan. Padahal, sejak awal berdirinya negara ini disepakati atau menjadi konsensus para founding fadher bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum bukan negara kekuasaan.

Hal itu tercermin dari segala proses hukum yang harus mencerminkan dan/atau mengakomodir nilai keadilan, sebagai salah satu dari pada tujuan penegakkan hukum dilaksanakan. Karena itulah, proses hukum selalu bergerak pada dua sisi, yakni hukum  dan keadilan.

Hukum tanpa memperhatikan keadilan bisa menjelma menjadi tirani. Itulah sebabnya, dalam penegakan hukum harus mengedepankan keduanya. Namun, dalam potret penegakan hukum yang ada sekarang kita patut prihatin  dan merasakan kerisauan yang amat dalam, ketika proses hukum secara kasat mata “tercerabut” dalam akar rasa keadilan.

Berbagai argumentasi/analisis yang berkembang diperkuat pula oleh amatan ahli Hukum Pidana Prof Dr A. Hamzah “bahwa penegakan hukum kita sekarang, lebih buruk dari pada era Orba” .

Kesemuanya itu,  dapat dibuktikan melalui kasus Ahmad Dhani. Dimana cara kerja hukum, nampak sekali bergerak secara tidak adil, melenceng dari jalur proses hukum yang benar. Dan pada akhirnya, seperti yang kita ketahui vonis hakim 1,5 tahun  dan perintah segera ditahan.

Memang, vonis tersebut sangat paradoks ketika peran hakim diharapkan sebagai benteng terakhir dalam mewujudkan keadilan. Demikian pula harapan terhadap hakim dapat berperan dalam mewujudkan negara hukum yang dapat membahagiakan rakyat .

Adagium La Bouche Dela Loi, semangat dibalik adagium itu adalah keinginan untuk menjunjung tinggi kedaulatan hukum, dan menolak kedaulatan kekuasaan. Adagium ini juga tumbuh sebagai reaksi atas absolutisme kekuasaan. 

Olehnya itu, seharusnya adagium ini menjadi inspirasi /motivasi hakim untuk memutus perkara secara adil, sehingga benar-benar menegakkan keadilan substansial, keadilan yang menjadi harapan seluruh rakyat Indonesia.

Utan kayu, 16 feb 2019

Di MRT, Jokowi Kehilangan Simpati

Sebelumnya

Akankah Prabowo Keok Lagi?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Gelitik