Kritikan Rocky Gerung Dapat Aplaus dari Mahasiswa Unismuh Luwuk
Suasana di auditorium saat Rocky Gerung memberikan kuliau umum, Kamis (7/2).
KOMENTAR

TILIK.ID, Luwuk— Akademisi yang terkenal dengan ikon “politik akal sehatnya”, Rocky Gerung  memenuhi undangan kampus Universitas Muhammadiyah Luwuk Sulawesi Tengah, Kamis (7/2). 

Ratusn mahasiswa datang untuk mendengar kuliah umum dari  dosen Universitas Indonesia (UI) itu. Rocky diundang memberikan kuliah umum yang mengawali perkuliahan semester genap. 

Rektor Unismuh Luwuk Farid Haluti SAG PhD menyambut baik Rocky Gerung yang bersedia hadir dengan tema kuliah umum “Kampus dan Politik Akal Sehat”.

“Tadi saya dibisiki panitia, bapak jangan sambutan lebih 10 menit karena bapak bukan Rocky Gerung,” kata Rektor Unismuh Farid Halatu.

Karena itu, tambah rektor, dirinya tidak akan sampai 10 menit, bahkan hanya 1 menit. “Selebihnya saya subsidikan waktu yang panjang kepada Rocky Gerung,” katanya menutup sambutannya. 

Moderator Ibu Mariyati Tapo  tampil, lalu memanggil Rocky Gerung.  Saat Rocky naik aplaus mahasiswa tak henti-henti buat akadesi fenomenal ini. 

“Goyang Pak Rocky.. Mainkan Pak Rocky..” teriak peserta dari sisi kiri ruangan. 

Rocky memulai dengan menyapa selamat pagi. Namun audiensi meluruskan selamat siang. Rocky pun membalas dengan mengatakan sengaja menyebut selamat pagi, karena matahari Muhammdiyah tidak pernah tenggelam. 

“Dan matahari itu diterbitkan satu abad lalu oleh seorang pemuda millenial waktu itu, namanya Achmad Dahlan.  Kalau seabad lalu KH Achmad Dahlan ini telah memilih  caleg dan tidak mendirikan Muhammadiyah, apa yang terjadi dengan akal sehat bangsa ini?” kata Rocky disambut aplaus. 

Jadi, kata Rocky, ada konsekuensi untuk meneruskan proyek akal sehat KH Achmad Dahlan. Dan sekarang ada 170 perguruan tinggi Muhammadiyah di seluruh Indonesia.  Kurang lebih 5 juta mahasiswa masuk sekolah-sekolah Muhammadiyah.

“Jadi Muhammadiyah adalah infrastruktur  dari akal sehat negeri ini. Bisa dibayangkan kalau Muhammadyah yang sebesar itu, berhenti untuk mengajar, berhenti untuk berpikir, maka IQ bangsa ini langsung tinggal 10 persen,” kata Rocky.

Karena itu, kata Rocky, selalu ada hubungan antara kegiatan pedagogi dengan kegiatan politiik. Kenapa? Karena politik itu mengolah akal pikiran.  Sejak awal kata politik diucapkan oleh Aristoteles, yang dia lakukan adalah mengajak orang berdebat di pasar, namanya Agora.

“Di Agora itu tempat orang bicara harga. Harga cabe, telur, harga bawang, bawang putih. Jadi sejak 25 abad yang lalu pasar itu sifatnya selalu politis. Lalu di situlah pertengkaran dilakukan dengan kekuatan argumen dan demokrasi,” katanya. 

Demokrasi menurut Rocky, bukanlah pemerintahan orang. Tapi pemerintahan akal melalui pemerintahan orang.  “Democracy is the goverment of reason with government by the people’s,” kata Rocky. 
 
 Jika hendak memerintah syaratnya adalah berakal sehat. Nah akal sehat itu sekarang yang tidak kita miliki.  Dan upaya untuk menghasilkan akal sehat, kuliah umum ini dilakukan.
 
 “Tapi, akal sehat itu tidak cukup. Akal itu baru berfungsi jika dilandasi oleh dignitas, dignity, oleh martabat manusia. Oleh kehendak menghasilkan keadilan, kehendak untuk terus melanjutkan perjuangan,” beber Rocky.
 
 Itulah hubungan akal pikiran dan dignity manusia, keyakinan manusia bahwa di depan ada matahari akan terbit . Akal diaktifkan justru karena ada harapan. 
 
 “Fungsi akal adalah menghubungkan masa lalu denga masa depan. Masa lalu adalah politics of memory, pengalaman kita, lalu kita seberangkan melewati arus besar untuk tiba pada harapan,” bebernya. 
 
 Dengan itu, kata Rocky, maka akal sehat adalah jembatan memori politik di belakang ke politic of hope di depan. Itulah fungsi akal. Dengan kata lain yang tidak memiliki harapan tidak memerlukan akal.
 
 Akal pikiran adalah institusi paling bermutu yang diberikan Tuhan pada manusia hendak dihalangi untuk bekerja di tempat akal sehat itu bekerja sempurnah, yaitu kampus.
 
 “Beberapa kali saya dihalangi, dilarang masuk kampus, padahal saya hanya ingin menerangkan argumentasi, tapi anda masih mengeritik pemerintah. Memang fungsi akal adalah mengkritik, bukan menjilat,” katanya diiringi tepuk tangan. 
 
Bukan Rocky Gerung jika tak pandai mengeritik. Terbukti lagi ketika memberi ilustrasi saat  dia makan siang sebelum ke acara.  

“Tadi makan ikan. Enak karena ikannya segar-segar. Saya makan dua, satu ikan tude dan satu ikan kakap merah. Saya makan  dua  karena satu tidak cukup,” katanya sambil mengacungkan dua jari. Tepuk tangsn menggema lagi. 

Kemudian Rocky menunjuk 8 bendara panji fakultas yang ada di bagian belakang panggung. Rocky mengaitkan apa hasil pemerintah dengan 8 bidang ini? 

“Bidang politik, lihat politik kita berantakan. Jadi memang ada problem di tengah pemerintahan ini.  Bahwa ada yang tidak kompatibel dengan apa yang diajarkan,” katanya.

Dikatakan, dalam ilmu politik diajarkan bahwa politik itu adalah upaya mendistribusikan keadilan. Politik disebut politik jika berbicara tentang keadilan di tengah publik.

“Untuk mendistribusikan keadilan memerlukan kecerdasan maksimal. Jangan sampai kebijakan itu menyebabkan ketidakadilan itu justru. Jika sekali terjadi ketidakadilan, mengoreksinya susah,” ujarnya. 

Dan menurut Rocky keadilan itu tidak gampang. Keadilan itu bukan apa-apa yang dipamerkan oleh statistik. Keadilan muncul dari tatapan mata manusia yang ditunjukkan oleh kecemasan ibu-ibu tentang mampu tidaknya beli susu untuk bayinya. 

“Kecemasan itu, hanya ada di dalam rasa antarmanusia, bukan apa yang dipamerkan oleh menteri perdagangan,” kata Rocky lagi. 

Di bidang perikanan, kebijakan tidak efektif. Yang ada hanya sensasi menenggelamkan kapal ikan, dan mengajari menghapal nama-nama ikan. 

“Seolah-olah menteri perikanan sudah bekerja kalau kita lihat ada kapal yang dibakar ditenggelamkan. Itu sensasi padahal kita pun tetap mengimpor ikan. Itu artinya membuat kebijakan tanpa akal sehat,” katanya. (cil)

Harga Tiket Pesawat Mahal, Ini Imbauan Ketua DPR

Sebelumnya

Gugatan Dua Komunitas Pers kepada Dewan Pers Ditolak Pengadilan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional